The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
"Jangan Ma, Karena Dia..."


__ADS_3

Angin badai pencobaan pertama berhembus makin kencang, mengusik usia hubungan pasangan berbeda 'kasta' yang masih amat muda belia.


Pangeran Rey masih merasa bersalah, geram, seakan masih tak percaya pada kemunculan orang-orang dari masa lalunya secara mendadak. Betulkah ini semua tiba-tiba terjadi? Ia tak yakin. Pasti ada yang membocorkan keberadaannya pada pihak intelijen Kerajaan Evertonia. 


Apakah sahabat-sahabatnya yang paling dipercayainya, duo pemuda ksatria Yin dan Yang? Tak mungkin. Mereka adalah trio yang menamakan diri Trio Ksatria Cahaya Bulan. Teman dari SD hingga SMU Kerajaan. Di antara mereka tak ada yang namanya rahasia, juga tak ada yang berani melanggar 'janji kesetiaan'. "Jadi kalau bukan salah satu dari mereka, siapa lagi kira-kira? Aku tak suka chatting, jarang pakai telepon, kecuali sejak..."


Astaga. Sejak Rey mengenal Joy, trafik percakapannya cukup meningkat. Mungkinkah nomor ponselnya, emailnya, mulai diendus pihak kerajaan semenjak ia sedikit-sedikit mencari Joy?


"Aku kurang hati-hati! Terlalu dimabuk cinta hingga jadi ceroboh. Kini tanpa sengaja kuseret gadis tercintaku yang tak berdosa ke dalam pusaran kelam masa laluku!"


Rey bertekad akan menyelesaikan segalanya. Tanpa harus kehilangan Joy. Bisakah ia minta tolong Yin dan Yang lagi? "Mereka selalu siap untukku. Apakah pengecut bila aku minta saran mereka?"


"Malam ini, pertama harus kuyakinkan Joy agar tak meninggalkanku. Walau paparazzi Liz sialan itu mengancamnya. Biarlah seluruh dunia menganggap kami apapun, asal kami tetap bersama."


Sementara di rumahnya, Joy seharian gelisah dalam kesendiriannya. "Haruskah aku putus dengan Rey? Evertonia takkan pernah mengizinkan hubungan ini, merestui kebersamaan calon raja masa depan mereka dengan jelata asing sepertiku. Aku tak layak jadi ratu. Tak mungkin bisa seberuntung Cinder Ella. Di sana ada ibu peri. Itu hanya sebuah dongeng."


Tapi teringat semua tentang Rey. Cowok tampan yang manis. Tawa riangnya. Senyum manis dan bibir lembutnya. Tangannya yang hangat. Kesungguhannya yang lembut namun tetap tegas. Joy si tomboy selalu merasa diri wanita kasar, keras, tangguh, bukan si feminin Berbi. Namun kehadiran Rey seperti turut melunakkan ketomboyannya, jadi sedikit ingin berdandan walau sedikit berlipstik saja. Sedikit mencoba blus pas badan, padahal dulu hanya berani ber-t-shirt gombrong saja.


Rey mengubah hidupnya. Semua tak sama lagi, dan takkan pernah ia ingin lepaskan lagi.

__ADS_1


"Sudah cukup aku kehilangan papaku, almarhum!  Tak mau lagi kubiarkan Rey berlalu dari hidupku, pangerankah dia, gelandangankah dia!"


Tapi malam itu, Rey belum juga muncul. Joy menunggu dan menunggu.


"Kami saling menemukan! Kami berhak atas segala kebahagiaan maupun konsekuensi dari pilihan kami ini!


Ya, Rey, aku takkan mundur. Aku siap selalu berada di sisimu. Statusmu Pangeran? Aku tak takut! Aku siap mendampingimu sampai kapanpun."


Namun hingga larut malam Joy menunggu di teras,  menanti tanpa tanda-tanda kehadiran Rey. Ia tak bisa dihubungi. Ponselnya tak aktif. Kira-kira mengapa? Mungkinkan pihak Evertonia telah memulangkannya dengan paksa?


"Oh, atau barangkali ia sendiri, telah memutuskanku secara sepihak?"


Airmatanya hampir mengalir lagi, saat mama datang mendekat. Duduk di samping Joy, memeluk punggungnya berusaha menghibur.


"Aku juga. Masalahnya, apa yang sedang terjadi ini, tak mudah bagi kami. Kami saling cinta Ma, tapi.." Joy tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


Suara sepeda motor mendekat, parkir di depan pagar. Ada tamu?


Kedua wanita itu menengadah.

__ADS_1


"Mama Joy. Joy."


"Rey !!" mereka berdua terkejut. Pemuda itu akhirnya datang juga. Namun jalannya tertatih. suaranya gemetaran. Wajahnya pucat pasi. Matanya yang kecil tinggal segaris karena mengantuk berat.


Buru-buru Joy membukakan pintu.


"Kau baik-baik saja?"


"Entah, semalaman aku tak bisa tidur. Aku, tubuhku lemas sekali, Joy."


"Nak Rey! Masuklah, makan sedikit makanan hangat. Ayo!" Mama Joy kelihatan tak kalah khawatirnya dari putrinya.


Tak lama, Rey terduduk terbungkus selimut di sofa yang nyaman sambil menyesap secangkir susu hangat. "Terima kasih Mama Joy dan Joy. Tanpa kalian mungkin aku sudah pingsan di luar sana."


"Ah, Rey. Jangan bilang begitu. Eh, maaf," Mama Joy yang naluri keibuannya tinggi, dengan cemas memeriksa suhu tubuh Rey di dahinya. "Kau sedikit demam."


Joy menarik lengan mamanya. "Ma, boleh ya, Rey menginap di sini malam ini, tidur di kamar tamu. Tak mungkin ia kita izinkan pulang dalam keadaan begini." Bisiknya penuh harap.


"Ba... Baiklah, tapi harus izin ketua RT dulu, bagaimanapun dia bukan penduduk sini."

__ADS_1


"Jangan Ma! Karena, karena.. Dia..." Joy membisikkan sesuatu yang membuat mamanya nyaris jantungan.


"Hah? Pa.. Pangeran?"


__ADS_2