
"Hah? Mempersuntingmu? Ha ha ha ha ha ha ha!" Raja Friedrich dengan tawanya yang khas, sedikit mengejek dan tak percayaan pada kata-kata Putri Xiao Jie tampak tak menganggapnya serius.
"Kau pasti bercanda, bukankah tujuan kita adalah kau mendapatkan putraku setelah berhasil memikatnya ke dalam sarang nagamu yang lembab dan berair itu?"
"Tadinya. Tapi Raja, aku ingin Yang Mulia mempersuntingku dengan begitu banyak pertimbangan yang luar biasa menguntungkan kita di masa yang akan datang!"
"Menarik. Coba sebutkan. Dan walaupun ini sebuah hal yang aneh, putri minta dinikahi raja tua, tapi aku ingin dengar dulu alasanmu!" Raja Friedrich duduk di tahta menyilangkan kaki dan tersenyum.
"Reinhard pasti takkan senang bila ayahandanya, yaitu Anda, tiba-tiba meminang putri yang ia tahu akan naik tahta sebagai ratu karena pernikahan. Jadi ia akan marah besar dan berusaha keras untuk mencegah terjadinya pernikahan kita itu!"
Xiao Jie yakin itu ide yang cemerlang, karena ada kilau di mata Raja saat mendengar kalimatnya.
"Dan putraku akan datang lalu mencegah kita, lalu aku akan mendesaknya untuk membuat pilihan yang tersulit sekali lagi! Dan kali ini Rey takkan dapat berkelit! Baiklah, sebulan dari sekarang aku akan mengadakan upacara pernikahan agung kita berdua, Royal Wedding! Tanpa perlu diundang lagi, sudah pasti putraku akan datang!"
"Te, te, terima kasih, Yang Mulia!" Xiao Jie tampak sumringah.
__ADS_1
Raja Friedrich tersenyum. Dalam hatinya ia diam-diam menyimpan sebuah rencana lain. Tentu saja Xiao Jie tak boleh tahu, pembaca juga, gak seru kalo ada spoiler!
Aku tak sebegitu mudahnya juga mau denganmu, Xiao Jie. Walaupun kau muda, seksi cantik dan pintar sekalipun. Tapi paling tidak, kubuat kau merasa seperti superheroine dulu sekarang. Sebab sebulan lagi, baru kau akan tahu...
"Ibu, kami titip Mav ya," pamit Rey dan Joy keesokan harinya pada Mayvelina, dan mengucap bye-bye for now pada putra semata wayang mereka Maverick, "Jangan nakal dan patuhi apa kata Nenek ya."
"Ya, Papi, Mami, Mav akan jadi anak baik. Papi Mami di cana juga jangan nakal ya!"
Rey dan Joy berpandangan, tidak nakal? Gimana mau bikin adik?
"Uh, kalo begitu kita balik ke sekolah aja deh dan gak usah hanimun." canda Joy sambil menyikut suaminya.
"Hanimun itu apa 'cih Papi, Mami?" pertanyaan polos Mav kembali membuat papi maminya bingung plus malu-malu meong.
"Itu, proyek papi dan mami memintakan adik dari Tuhan untuk teman Mav nanti."
__ADS_1
"Oh, seperti di film nanti datang bulung bango antelin bayi dalam bungkucan ya?"
"I, i, iya, tapi 9 bulan lagi baru dapat, kalo dikasih.. " Rey mengulum senyum.
"Baik-baiklah di sana nanti ya, hati-hati, jangan lupa bersenang-senang." Bunda Rey menggandeng Mav. "Yuk masuk dan kita buat puding bersama Nenek."
"Dadah, Papi Mami! Bikin adik yang banyak ya sampai puas!" yah, namanya juga Mav masih anak-anak, maklum aja ya Pembaca!
"Bye, Bunda dan Mav! Kami pamit dulu, wish us luck!"
"Bikin adik yang banyak?" Rey dalam perjalanan dalam mobil sewaan menuju dermaga yang sama seperti beberapa tahun silam saat mereka memulai jalinan cinta suci.
"Aduh, dua lima, alias dua anak cukup!" Joy bukannya kapok melahirkan, tapi sedikit malas mengulang tiga puluh hari tanpa keramas seperti adat Evernesia setelah lahiran Mav.
"Ha ha ha ha ha... tenang saja, 'kan ada aku, papi siaga! Tapi benar sih, Evernesia udah padat, negara terpadat kelima di Dunia Ever, jadi okelah, cukup 2 anak saja!"
__ADS_1
(Kisah mereka selanjutnya selama berada di Pulau Cinta bisa Pembaca 18 tahun ke atas ikuti di 'Honey to the Moon : The Prince & I on a Remote Island.' Harap bijaksana membaca sesuai usia.)