The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
The First Night & The Mysterious Sign


__ADS_3

"Akhirnya hanya ada kita berdua di sini."


Joy terhenyak. "Pangeran Rey?"


Astaga, Rey. Kita ada di mana?


Sedikit flashback. Waktu berlalu begitu cepat.


Pangeran Rey dan Joy yang telah melalui begitu banyak hal semenjak mereka berkenalan, akhirnya tiba di titik ini. Dimana mereka tadi pagi sudah resmi dipersatukan oleh janji suci, di sebuah pulau terpencil di tengah lautan Evernesia, disaksikan oleh teman-teman akrab seperjuangan mereka.


Dan saat ini sudah tak ada apapun dan siapapun yang dapat memisahkan mereka berdua.


Para tamu, Mama Joy, Yin dan Yang, Putri Agnez, MC Mr. Brokoli, dan bos Joy Mr. Bee sudah kembali dengan kapal pesiar yang datang menjemput mereka tadi sore, jadi sekarang hanya ada Rey dan Joy, sepasang pengantin baru, masih dalam seragam resmi pangeran kerajaan dan gaun pengantin putihnya.


Rey terlihat keren tapi 'manis', sedari dulu baby face, uniknya tetap maskulin dalam keseluruhannya. Tubuhnya tak terlalu tinggi besar atau atletis, namun herannya tetap menarik dengan perawakannya yang ramping dan awet muda. Matanya sipit, tapi tajam menusuk jantung setiap wanita muda yang menatapnya, apalagi para putri.


Sekarang ia suami Joy. Si gadis jelata beruntung yang memperoleh cinta darinya.


Joy masih tetap si tomboy. Rambutnya bob pendek kemerahan, ditata agak bergelombang. Tanpa kacamatanya ia lebih feminin, tak se-nerdy biasanya. Tubuhnya yang ramping berpadu dada dan pinggul yang agak curvy dan berisi, seringkali mengunci mata sipit Rey menatapnya sedikit nakal. Apalagi hari ini, dimana mereka sudah bisa saling memiliki seutuh-utuhnya.


"Ada apa?" Rey tersenyum kecil memandang Joy yang masih tampak malu-malu.


"Oh, eh, tidak. Hanya sedikit belum percaya kalau kita sekarang sudah jadi suami istri. Agak terlalu dadakan." Joy menyahut sedikit jengah. Ia sebetulnya senang sekali hari ini, tapi kok masih ada rasa mengganjal.


"Bila tidak begini, ayahku takkan pernah merestui kita berdua." senyum Rey semakin lebar. "Kuharap kau mengerti."


"Aku mengerti. Aku bahagia akhirnya kita bersama-sama mulai hari ini hingga akhir hayat. Hanya saja," Joy masih sedikit malu-malu, "Terus terang, ada hal yang ingin kuakui."


"Katakan saja, aku 'kan sekarang suamimu." Rey memandang Joy dalam-dalam hingga pipi Joy makin merah merona, bertambah jengah tapi juga gembira.


"Itu, aku.. masih belum berpengalaman. Belum pernah 'begituan' dengan cowok. Seperti apa rasanya?" polos Joy menatap Rey balik. "Sungguh memalukan, ya?"

__ADS_1


Rey terdiam. Tiba-tiba, "Ha ha ha ha ha." Tawanya meledak.


"Bukannya bagus, kau masih segelan plastik. Bahkan denganku pun belum." dikedipkannya sebelah matanya. "Aku juga mau berterus terang. Aku juga masih ting-ting."


"Serius, Rey?" Joy tak percaya begitu saja. "Sedari dulu putri-putri cantik mengelilingimu dan kau belum pernah icip-icip ?? Sangat banyak orang-orang berdarah biru dikelilingi cewek cantik yang mau mereka, ehm, ya, kau mengerti maksudku."


"Ya, itu memang betul. Teman-temanku sesama ksatria, sering mengajak cewek-cewek cantik dan seksi kemana-mana, walau hanya kencan saja. Atau diam-diam ke klub. Kami pergi bersama tapi aku tak ikutan berpasangan, hanya jadi nyamuk." kenang Rey sambil memegang tangan Joy. "Aku bukan tak mau, tapi sama sepertimu, dulu aku sangat pemalu. Di samping itu, etika kerajaan mengajarkanku untuk tetap sopan kepada wanita. Tak boleh seenaknya memegang, memeluk, apalagi, ah, kau tahu. Betapa ketatnya peraturan kerajaan Evertonia itu."


"Uhh, pangeran yang perjaka." Joy merasa telapak tangan Rey hangat sekali. "Beruntungnya aku. Jadi kita sama-sama masih virgin. Dulu pun teman-temanku ada yang sudah kebobolan. Aku sering dijuluki gadis bodoh tak berpengalaman. Sangat naif dan polos. Tak laku, tak tahu laki-laki."


Rey tertawa lagi. "Dan saat bersama kita yang polos dan innocent ini bisa jadi nakal sekali, ya."


Mereka masih duduk berdekatan di pasir putih, membiarkan jas seragam dan gaun putih kotor sedikit gara-gara air laut dan pasir. Toh, sudah tak ada siapa-siapa lagi. Di langit, senja semakin merah, dan sebentar lagi malam hari pun tiba.


Suasana semakin gelap, tapi juga romantis gemerlap berkat hiasan lampu-lampu kecil berwarna warni dan deretan panjang obor imitasi di sepanjang pantai yang telah dirancang menyala ketika waktu menunjukkan pukul enam malam.


"Kau mau makan? Yuk kita makan dulu sebelum kita menghabiskan malam ini bersama-sama."


"Kau belum lapar? Makanan kita masih sangat banyak, ayo kita nikmati berdua. Tenang saja, selama seminggu ini sudah tersedia segala yang kita butuhkan selama kita terdampar di pulau bulan madu ini." Rey berdiri, menarik lembut lengan Joy. "Pulau Cinta." ia beri nama sesuka hatinya.


"Se.. seminggu berduaan di sini?" malu si pengantin baru perempuan yang seumur-umur bahkan belum pernah 'pesta piyama' bersama teman-temannya.


"Iya, sebulan pun gapapa kalau kau mau. Pangeran mah bebas.."


"Aku kan kerja. Boss Bee bisa marah-marah kalau cuti kelamaan." gerutu Joy.


Rey si pengantin pria lagi-lagi terbahak-bahak, sungguh senang ia meledek istrinya yang hot tempered alias pemarah ini.


Tak lama kemudian, mereka dengan asyik duduk makan berdua tanpa peduli aturan lagi, di atas pasir yang masih hangat sambil menatap bintang-bintang berkelap-kelip di langit tropis cerah Evernesia.


Rey-Joy pun makan dengan lahap, rupanya lapar juga setelah seharian berpesta merayakan hari dimana kini mereka jadi pasangan raja dan ratu Evernesia sehari di tengah pulau terpencil. Mereka menikmati aneka appetizer, main course dan dessert lezat yang khusus disediakan. Semua makanan kesukaan mereka.

__ADS_1


"iya, makanan pesta ini sangat enak, belum sempat kunikmati semuanya saking sibuk mengobrol dengan tamu-tamu kita. Sungguh senang sekali hari ini dan juga sangat lelah."


"Kalau pengantinku lelah, gak jadi dong," Rey pura-pura kecewa.


"Gak jadi apa sih?" Joy pura-pura sebal juga.


"Kita langsung ngorok aja ya?" Rey masih mengeluarkan nada ngambeknya.


"Oke, habis makan kita ganti baju lalu tidur." tantang Joy.


"Tidur langsung saja, serius?" Rey mencoba mengeluarkan kekesalan Joy.


"Iya, capek, bangun pagi-pagi terus dirias selama berjam-jam. Lalu upacara tadi juga lama sekali ya." Joy pasang tampang lelah.


"Kau mau tidur di mana?" ledek Rey lagi. "Di sini masih ada ular lho."


"Ular, naga, kelabang. Aku tak takut." Joy membuang muka.


"Kecoa !!" tambah Rey sambil menunjuk kaget ke arah tertentu.


"A.. apaaa ???" Joy si pemberani tak takut pada segala hewan termasuk ular sekalipun, tapi, kecoa ???


Dalam kagetnya, spontan ia melompat ke pelukan Rey. Dadanya tertempel erat ke dada sang pangeran tanpa ia sadari. Dan mata mereka pun bertemu.


...(Kisah bulan madu mereka selanjutnya dapat dibaca di "Honey to the Moon : The Prince & I on a Remote Island" khusus 18 tahun ke atas) Bijaksana membaca sesuai usia....


...*************...


Sementara itu sebuah foto diam-diam beredar di kalangan penggemar berat Rey dan menjadi bahan spekulasi liar di antara mereka.


Sebuah display neon tinggi di gedung : Rey Diterima Joy menjadi bahan perdebatan.

__ADS_1


Jangan-jangan Rey dan Joy sudah lamar-melamar atau bahkan sudah diam-diam menikah?


__ADS_2