
Balasan email dari Rey sungguh mengejutkan. May alias Mei tak pernah menyangka akan semudah ini Rey akrab dengan sosok Lyn. Apakah ia mulai tertarik mengenal Lyn karena pengakuannya 'mengenal siapa ibu Rey' ???
Sekali lagi Mey membaca email Rey yang kedua:
"Lyn, baiklah, kau menjawab semua pertanyaan ujianku tentang detail istana Evertonia dengan baik sekali, jadi aku percaya kepadamu. Jadi, kuharap kita bisa segera bertemu agar kau beritahu aku secara langsung mengenai beliau."
May tersentak. Duh, bertemu denganku? Tapi aku sedang menyamar jadi Pustakawati Mei, yang tentu ia sudah ketahui. Tak mungkin muncul dengan penampilan yang hampir sama ini.
Tapi May memang ingin sekali bertemu dengan putra kandungnya yang ia begitu rindukan ini. Baiklah, agar Rey percaya pada Sepupu Lyn, besok aku akan bertemu dengannya.
"Rey, aku setuju. Besok kau temui aku pukul tujuh malam di kafe Cuppa Mal Evernesia. Kita berdua saja, aku akan memakai kaca mata hitam. Maaf, mataku tak boleh terkena sinar lampu atau cahaya matahari jadi aku tak bisa melepasnya. Aku juga sedang sakit tenggorokan jadi mungkin tak bisa banyak bicara. Salam hangat, Putri Lyn sepupu jauhmu."
Rey menerima balasan email Lyn itu dengan rasa heran. Tentu saja ia curhat lagi kepada Joy yang setia mendengarkan.
"Uhh, ia jadi mau bertemu denganku, tapi lagi-lagi kok sebut akan berkacamata hitam, seperti Ms. Mei saja. Pakai sembunyi-sembunyiin wajah segala."
__ADS_1
"Jangan curiga dulu, Sepupu Lyn mungkin takut jati dirinya dan informasi rahasia kalian akan diketahui intel Evertonia. Jadi wajar ia menyamar juga. Temui saja. Aku akan menunggumu di tempat lain." saran Joy.
"Baiklah jika kau ingin aku menemuinya. Tapi jangan pergi jauh-jauh dariku ya, aku tak mau nanti ada apa-apa denganmu." sahut Rey sambil tersenyum lebar.
"Waduh, aku justru tak boleh jauh-jauh darimu. Nanti kamu naksir Sepupu Lyn, lho, pasti dia seorang putri yang cantik." cemberut Joy.
"Sepupu jauh kan masih saudara, mana bisa jadian sih. Joy ada-ada saja!"
Keesokan malam, Rey menepati janjinya. Ia tiba tepat pukul tujuh dan menyebutkan nama Putri Lyn pada waiter, yang segera mengantarkannya pada seorang wanita anggun yang duduk sendirian. Putri Lyn. Matanya rapat tersembunyi oleh kacamata hitam, serasi dengan rambut pirang keemasan bob pendek, hampir seperti model rambut Joy. Walau gaun pink pendeknya cukup seksi dan tubuhnya langsing, umurnya jelas lebih tua dari Rey.
"Maaf." suaranya sedikit berat, entah disengaja atau memang alami. "Aku membawa pesan dari ibumu. Ia sehat."
"Lyn. Dimana ibuku berada sekarang?" Rey tak ingin banyak bicara.
"Ia ada tak jauh dari sini. Sangat merindukanmu dan merasa bersalah karena tak bisa mendampingimu sedari bayi hingga remaja, menyaksikan pertumbuhanmu. Tiba-tiba saja, kau sudah dewasa." mata Lyn sebenarnya mulai berkaca-kaca, namun tak terlihat Rey karena terlindung kacamata hitam.
__ADS_1
"Mengapa ia meninggalkan aku sendirian di dalam asuhan Ayahanda Raja Friedrich? Apakah kau tahu alasan beliau yang sesungguhnya?" suara Rey lirih.
Lyn menghela napas. "Itu sesungguhnya di luar kemauannya. Ia tak ingin pergi. Keadaanlah yang memaksanya. Karena ia sebatang Mawar Liar yang harus dicabut dari Kebun Kerajaan."
Lyn mengeluarkan sebuah anting-anting emas kecil berbentuk mawar. Hanya satu, bukan sepasang.
"Ini milik ibumu yang beliau titipkan lewat aku untuk kenang-kenangan. Siapa tahu bila Tuhan mengizinkan, kalian suatu hari nanti akan bertemu kembali dalam sebuah kesempatan. Dan anting-anting ini akan jadi sepasang lagi dengan yang beliau pegang."
"Tidak! Aku ingin bertemu beliau sekarang juga! Lyn, bawalah aku kepada Ibunda! Antarkanlah aku kemana ia berada!" Rey semakin bersemangat walau ia begitu terharu dengan pemberian satu anting-anting milik ibunya.
Putri Lyn berdiri. "Akan kusampaikan kepada beliau, namun sungguh tak mungkin kalian bisa bertemu saat ini."
Ia tak sanggup bicara lagi. "Selamat tinggal, Rey. Ingatlah, ibumu mencintaimu. Ia tak ingin bertemu bukan karena membencimu. Melainkan, karena melindungimu."
"Lyn..."
__ADS_1
Rey hendak bertanya apa maksudmu, tapi Lyn keburu pergi dari kafe itu.