
"Menurutmu, ayahmu pada akhirnya akan menerimaku?" Joy perlahan-lahan mulai percaya pada kata-kata Rey. Ia merasakan betul aura royal Rey memancar, penuh bercahaya bagaikan sinar matahari pagi, hangat memenuhi hati dan dirinya, serta membangkitkan rasa percaya diri.
"Mungkin tidak hari ini, tapi kita percaya, tetesan air lembut sekalipun lama-lama akan melunakkan hati batu terkeras. Ayahku seorang yang militan dan keras hati, namun ia pernah tunduk pada ibundaku. Jika tidak, maka aku takkan pernah ada hingga saat ini. Aku takkan mundur sampai Ayah merestui hubungan kita dan merelakan aku menjadi rakyat biasa seutuhnya."
"Rey, andai saja Mama ada di sini. Kita belum menemuinya sejak kita kembali dari Pulau Cinta. Ia orang yang tepat untuk mendampingiku menghadapi ayahmu, Gunung Batu yang keras itu."
Rey tersenyum penuh misteri. "Ayo, kita kembali dulu ke arena pertempuran kata-kata kita."
__ADS_1
Bergandengan, Rey dan Joy akhirnya kembali ke pelataran, dimana semua mata hadirin maupun para petinggi kerajaan berkumpul.
"Aha, ternyata Bunga Matahari Liar itu masih berani unjuk gigi, memang sudah putus urat malunya, masih berusaha berkompetisi dengan anggun dan indahnya Mawar-mawar Evertonia," sindir Raja Friedrich, "Sampai kapanpun istana ini takkan pernah menerima seseorang yang tak jelas asal-usulnya, bahkan orangtuanya pun tak ternama, dan tak berayah pula! Wanita Yatim dengan latar belakang tak jelas, bukan bibit yang baik untuk disemai di perkebunan Evertonia!"
"Maaf, tapi kali ini Anda salah besar, Yang Mulia !!!"
Semua mata hadirin termasuk Raja dan pendukungnya, Rey dan Joy dan semua kerabat dan sahabat-sahabat mereka, serentak menoleh ke arah sumber suara yang baru hadir menyapa telinga mereka.
__ADS_1
Mama ???? Joy terperangah, menutup mulut dengan tangan, hampir menangis. Kaget haru, gembira, tak percaya.
"Siapa berani bilang Joy perempuan tak jelas! Ayahnya sudah tiada, namun ia sempat dibesarkan dengan didikan yang baik dan penuh kasih sayang olehku dan almarhum ayahnya dalam keluarga yang sangat baik, tidak broken home, walaupun kami tak ternama dan tidak berada. Kami keluarga kecil yang bahagia, dan asal Anda tahu, Joy bisa mencintai putra Anda bukan karena harta, maupun keturunan dan jabatannya. Bukan karena bibit, bebet dan bobot Pangeran Rey. Bahkan ia dulu tak tahu sama sekali siapa Rey. Cinta yang menyatukan mereka, mungkin tadinya cuma panah nyasar stupid cupid, tapi sungguhan dan begitu murni." Mama Joy lantang buka suara. Ia berbusana beda juga, kebaya Evernesia yang cantik, dengan Bunga Matahari di rambutnya yang kecoklatan dengan sedikit uban.
Joy dan Rey terpana, Mama Mertuaku boleh juga, Macan Wanita dari Evernesia.
May tanpa diduga maju ke depan. "Dan kami berdua, Ibunda Rey dan Mama Joy, merestui putra-putri kami dengan sepenuh hati, dan membiarkan mereka menjalani kehidupan baru. Bukan ikatan cinta, melainkan jalinan cinta. Kalian berdua sudah dewasa dan juga sudah bersatu baik jiwa maupun raga. Tak ada seorangpun atau segala sesuatupun yang dapat memisahkan kecuali Tuhan." tambah Mayvelina sambil menjabat tangan Mama Joy.
__ADS_1
Kedua wanita setengah baya yang baru berbesan dan baru pertama kali berjumpa itu maju mengapit Rey dan Joy. "Kami semua di pihak Rey dan Joy. Yang Mulia boleh-boleh saja mengusir mereka berdua dari hadapan Yang Mulia dan dari Evertonia, namun kami siap membela mereka. Sebab mereka sudah mengalami pahit-manisnya kehidupan cinta sesungguhnya, dan siap untuk hidup mandiri terlepas dari semua ikatan masa lalu dan kewajiban turun-temurun dari Yang Mulia."