
Ehhh.. Ehh.. Aduhhhh. Joy terbengong. Aduh. Bagaimana ini. Kok jadi begini. Apa maunya? Ini klien penting, kustomer Bos Bee yang tak mungkin ia tolak, hindari dan abaikan begitu saja.
Tak elok benar bila ia langsung berkata, "Aduh, Mr. Park, mohon maaf sekali, tetapi saya sudah punya kekasih, dan kami biasanya bertemu Sabtu atau Minggu, atau weekend saja."
Nanti malah dijawab Mr. Park, "Kalau begitu nanti sore saja kita langsung keluar berdua, dan dia tak perlu tahu apa-apa!"
Ehm, kalimat barusan masih imajinasi Joy saja, sih. Mr. Park belum bicara apa-apa lagi. Hanya sepasang mata sipitnya yang mirip mata Rey (hanya saja pelupuknya sedikit gelap, diberi eye liner?) mengerling aneh. Dan, Joy hampir pingsan ketika Mr. Park tiba-tiba berkedip sebelah, lalu berkata tegas, cowok banget tapi sedikit kasar dan bernada intimidasi,
"Saya suka Nona Joy, terus terang saja, saya ingin sekali bisa kenal lebih dekat dengan Anda." Mr. Park berdiri, lalu mohon pamit. Dan satu lagi gesturnya yang bikin Joy risih; dicubitnya sedikit lengan Joy sambil berdecak.
"Saya tunggu jawaban dan niat baik Nona Joy. Bos Bee atau siapapun selain kita tak perlu ikutan tahu ya. Saya mohon." katanya sebelum berdiri, menyudahi kunjungan bisnis kali ini.
__ADS_1
"Selamat siang." pamitnya sambil nyengir genit dan memberi kode hati dengan dua jari.
Astaga. Deg deg deg deg. Terus terang, Joy merasa kaget, antara takut dan bingung. Iya, klien ini ganteng, kayak Aktor Khoreya sungguhan. Tapi Joy gak suka. Perusahaan yang ia miliki kata Bos Bee juga besar. Bagaimana cara menolak ajakan ini tanpa menyakiti Rey dan juga tak memberi dampak pada proyek kerjasamanya dengan Bee Advertising?
Sore itu Joy pulang dengan hati resah. Ditolak mentah-mentah, akan sangat riskan. Diiyakan, tentu saja Joy ogah. Ia tak perduli Mr. Park itu mirip cowok-cowok anggota Boyband Batu Es, perawakannya tinggi, pula tampil necis. Ia tak pernah suka pria yang terlalu perfect. Dan most of all, Mr. Park bukan tipeku !!! Joy mengeluh kesal. Cewek tomboy sepertiku kok didekati, apakah dia putus asa or what?
Joy malam itu di sesi telepon rutinnya tentu saja menceritakan semua pergumulan barunya pada Rey. Ia bukan tipe cewek pemendam atau penutup masalah. Ia ingin Rey tahu kalau ia tak bermaksud memulai. Rey mendengarkan dalam diam.
"Tak mungkin kau mau jadi polisi lagi mengawasi kencanku. Aku pun tak mau kencan dengannya. Amit-amit. Walau handsome selangit." Joy merinding disko, teringat cubitan pelan di lengannya dan kata saya suka Joy.
"Idiiiihhh... Rey, tolooong." Joy tak suka cengeng atau bermanja ria, tapi kali ini sekali lagi ia ingin Rey melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Aku punya ide. Tapi kau harus tetap kencan dengannya. Tak boleh kau tolak." Rey di ujung sana tersenyum, hanya saja Joy tak melihat.
"Ma, ma, maksudmu? Kau rela aku di-pedekate ekspat Khoreya ber-make-up mata ala celak Kleoputri?"
"Gak begitu juga kali... kita double date aja."
"Maksudmu, kau juga datang bawa cewek lain?"
"Gak juga kali." ulang Rey lagi, "Ceweknya satu. Kamu. Cowoknya dua. Dia dan aku."
Huh, apa pula maksud Rey kali ini?
__ADS_1