
Rey selesai bicara. Mama Joy terdiam. Joy menunggu keputusan beliau dengan cemas dan penuh harap. Pasti berat rasanya tiba-tiba melepas anak perempuan satu-satunya demi cinta, tapi memang cinta bukan hanya cinta. Sebelum kita ada, manusia lebih dulu diciptakan oleh cinta, siapapun dan bagaimanapun orang tuanya. Karena itulah 'ber-cinta' itu bukan hanya sesuatu yang berarti ninuninu saja. Kita ada karena ada yang bercinta.
"Baiklah. Rey adalah pemuda baik yang Mama Joy sudah saksikan sendiri perjuangannya membela Joy. Rey sudah berhasil membuat Joy tersenyum kembali setelah semua kesedihan dan kehilangan yang ia alami. Jadi Mama ingin sekali Joy juga terus tersenyum seperti itu."
Rey dan Joy saling berpandangan. "Jadi, kami..."
"Ya, Mama dengan tulus merestui kalian. Asal jangan melupakan Mama, ya. Tak perlu gimana-gimana, asal kalian bahagia Mama juga bahagia."
Joy dan Rey mendekat dan memeluk Mama dengan perasaan lega. Jadi?
"Ya, tentu saja, saya akan selalu membuat Joy tersenyum."
__ADS_1
Malam itu sepulang Rey, Joy merasa berat untuk tidur sendiri, akhirnya ia pergi ke kamar Mama dan mereka pun berbaring bareng.
"Ma, Joy kuatir Mama akan kesepian bila Joy nanti tinggal sama Rey."
"Mama takkan kesepian. Kita masih punya banyak teman dan tetangga. Pesan Mama cuma satu, nanti bila Joy menikah, jangan pernah ucapkan kata cerai atau berpisah. Baik-baiklah dan sabar terhadap suamimu. Saling mencintai kekurangan dan kelebihan. Pernikahan bukanlah sekolah untuk mengubah seseorang ke arah yang lebih baik. Jadi bila ada kekurangan Rey, Joy yang lengkapi. Kekurangan Joy, Rey yang lengkapi. Itulah gunanya ada dua orang yang berbeda. Saling melengkapi, bukan saling mengkoreksi dengan kritik negatif."
"Baiklah Ma. Joy memang keras kepala dan kasar, sedangkan Rey lembut dan sabar. Tapi Joy akan berusaha untuk mengurangi ketomboyan Joy dan menjadi istri yang baik."
"Nayyy Mama.. Ayah Rey bahkan tak mau langsung mengenalku! Kami tak punya siapa-siapa selain Mama dan Ibu Rey. Kami tak ingin Raja Friedrich sampai tahu dahulu. Bisa-bisa Rey akan betulan dipenjara..."
"Waduhh.. baiklah, kita ikuti saja rencana calon mantu Mama yang Rebel Prince itu. Mama siap membela kalian berdua, apapun yang terjadi. Apakah Ibu Rey akan datang?"
__ADS_1
"Ibu Rey sedang di istana membujuk mantan suaminya agar membuka hati untuk Rey dan aku. Walau sangat kecil kemungkinannya. Kasihan Rey, tapi ia memang belum bisa melembutkan kekerasan dan penolakan ayahnya."
"Pasti ada jalan, suatu hari nanti beliau akan sadar. Yuk tidur, besok akan sangat melelahkan lho..."
Sementara itu Rey belum dapat tidur. Ia berusaha menghubungi ibunya May, yang sebelumnya pun telah memberikan restu. Sayangnya malam ini ponsel May tak dinyalakan. Di hari terakhirnya di Evertonia, sebelum pulang, Rey telah mengungkapkan rencananya.
"Bu, aku akan segera menikahi Joy di tempat rahasia di Evernesia. Semua sedang kupersiapkan. Yin dan Yang, Putri Agnez, akan hadir juga."
"Ibu tak bisa hadir, Rey. Karena Ibu akan mengalihkan perhatian ayahmu dengan mengajaknya bernostalgia. Sehingga dalam beberapa hari ini, ia takkan ngambek lagi dan mudah-mudahan mau menerima keputusanmu. Karena ia memang keras hati. Tapi Ibu tahu, Ayahmu Friedrich juga bermaksud baik."
Ya, Ayah. Maafkanlah putramu Rey. Rey memang Pangeran Pemberontak. Tapi Rey bukan lagi putra kecil Ayah. Rey ingin mencoba jalan hidup Rey bersama Joy. Sebab kebahagiaan kami adalah ketika kami saling bersama. Kuharap suatu hari nanti, hati Ayah akan terbuka dan turut berbahagia juga.
__ADS_1