
Valerie terdiam, dia tahu itu keegoisan. Kepalanya yang tadi tertunduk perlahan naik melihat wajah Darren dan menyusuri setiap inci wajah pria itu.
Ah, Frederick! apa dia memukulnya dengan keras? Kenapa aku baru melihatnya dengan jelas, dalam hati Valerie.
"Lukanya sudah diobati?" tunjuk pada ujung bibir Suaminya.
"Sudah!" singkat dia.
Darren mengingat setiap kata-kata yang keluar dari mulut Frederick. Sesuatu yang mengganjal mengusik hatinya. Awalnya dia tidak ingin menanyakan perihal Frederick tetapi dia menjadi penasaran sejak kapan dan kenapa Frederick tidak marah, apa yang di ucapkan Valerie padanya. Dia benar-benar ingin tahu.
"Valerie," menggantung.
"Apa Frederick sudah tahu?" lanjutnya.
"Tentang?"
"Semuanya, perihal kita dan masalah yang terjadi!!"
"Menurutmu dia tahu?"
"Aku menemuinya tetapi seseorang telah menemuinya lebih dulu karena itu dia tahu masalah yang terjadi dan dia tidak marah."
"Dia bilang itu aku?"
"Tidak, secara tidak langsung. Aku hanya menebak orang itu kamu. Tapi, kenapa?"
"Kenapa? dia tahu tapi tidak menghancurkanmu? atau kenapa dia tidak marah pada wanita yang telah berbohong padanya selama bertahun-tahun?"
"Semuanya, apa yang kau katakan padanya sampai aku hanya mendapat luka kecil ini."
Valerie duduk di ujung kasur. "Frederick, dia hanya pria yang berharap kedamaian setelah dia dilukai. Walau terlihat brengsek kehidupannya telah lama berubah. Dia menjadi pria sederhana. Kau mungkin tidak lagi mengenalnya selama bertahun-tahun karena dia tidak berada disisimu tapi dia berbeda, Frederick tahu segalanya tentangmu meski perteman kalian telah rusak." jelas wanita itu tanpa mengatakan dengan jelas jawaban atas pertanyaan suaminya.
"Jadi, "
TOK TOK TOK
Lagi dan lagi suara ketukan pintu menghalangi pembicaraan keduanya. Valerie pergi melihat, dia menarik handle pintu dan menemukan si kecil Leon dengan manisnya berdiri sambil membawa boneka kucing di lengannya.
"Halo mami, boleh Leon masuk?" katanya lalu mengelonos di antara sisi ruang.
"Papi!" Leon berlari kepelukan Darren, pria kecil itu diangkat tinggi. Disambut dengan gembira.
"Hai sayang." sapa Darren.
"Leon," panggil maminya.
Darren menyadari keterkejutan istrinya. "Aku bertemu dengan Leon di halaman belakang tadi."
"Tidak ada yang melihat. Mami, tenang saja!" lanjut Leon pada Valerie.
Wanita itu mengangguk, pembicaraannya dengan Darren harus tertunda. Tidak mungkin dia melanjutkan dengan kondisi Leon ada di antara mereka.
"Leon ganti baju tidur." ajak wanita itu.
__ADS_1
Valerie membuka kopernya dan mengambil barang paling bawah. Box putih tulang dia angkat dan diletakkan di atas kasur. Valerie mengeluarkan isinya dan membentangkan di kasur.
"Ini untuk Leon, untuk mami dan papi!"
Baju tidur keluarga. "Dapat hadiah dari Ibu deora, cantik kan?"
Darren mengangguk, Ibunya itu selalu mengirim barang untuk menantunya. Jika dia sedang berlibur, selalu ada bagian untuk Valerie. Terakhir kali dia mendapat satu koper penuh daster bali. Sungguh menantu kesayangan.
"Kamu mandi dulu, aku sama Leon mau ganti baju!"
20 menit kemudian, Valerie dan Leon menunggu hingga bunyi air pancuran di kamar mandi berhenti. Mereka berdiri, saat pintu terbuka.
"Taaaraaa!" keduanya memamerkan baju yang dipakai.
"Bagus!" Satu kata, pria itu sembari mengangguk agak memaksa kedua orang di hadapannya untuk tidak cemberut. Itu pujian.
"Ayo tidur!" Leon berlari naik ke atas kasur, dia berbaring di tengah menjadi pemisah keduanya.
.
Dari ruangan yang berbeda, Rey melihat keluar melalui jendela kamar, sesuatu menarik perhatiannya sejak tadi.
"Kenapa sayang?" tanya Elena melihat suaminya gelisah sejak tadi.
"Tidak apa-apa. Aku ambil air dulu ya. " kata dia, melangkah keluar.
.
Diluar Rey bertemu dengan Hyuk yang sedang duduk di kursi ruang makan.
Pria itu mengangguk, dia mengangkat gelas kopinya. "Kenapa? ada yang menganggu pikiranmu?" kata Hyuk.
Dia menarik kursi di depan Hyuk. "Pengawal di belakang mengirim sinyal dari tempat lain, itu aneh." Ujar Rey.
"Wow, teknologi luar biasa. Tidak terjadi apa-apa kan? artinya semua baik-baik saja. Mungkin mereka sedang berganti untuk makan." Hyuk mengutarakan pendapatnya.
"Mungkin!"
...🖤...
Di bagian Negara lain, seorang wanita berteriak marah pada petugas bandara. Karena menarik perhatian banyak orang dia dibawa ke ruang khusus untuk berbicara tanpa gangguan. Tidak terima diperlakukan KHUSUS dia bertambah geram sampai giginya bergesek-gesek.
"Apa maksudnya?"
"Kami dapat pemberitahuan dari duta besar bahwa anda dilarang untuk memasuki teritorial Italia. Surat bahwa anda melanggar aturan sudah diterima. Kami hanya menjalankan tugas." Jelas pengawai bandara itu pada Lim Sujong.
Tidak terima diperlakukan kasar, Lim Sujong menelepon orangnya yang bertugas di bandara tetapi entah mengapa dia tidak mendapat balasan apapun.
"Kalian tahu siapa saya? beraninya orang rendahan!" Sembari melempar tiket ke lantai.
"Kalau anda masih bersikeras kami akan memanggil pihak berwenang. Silahkan kembali Nona, ini sudah peraturan yang ditetapkan di suatu negara."
Lim Inha memegang lengan kakaknya. "Kak sudah, kalau kita bersikeras, kau bisa masuk penjara dan kena denda. Bagaimana jika kak ipar tahu!”
__ADS_1
"Diam! anak kecil seperti mu tahu apa!" dengan kasar dia memandang sembari menunjuk tepat di depan mata Inha.
"Saya tidak pernah melakukan kejahatan di itali, kenapa mereka melarang saya memasuki negaranya!?" kata dia melihat petugas.
Petugas itu sudah menjelaskan alasan kenapa wanita itu tidak bisa masuk ke italia. "Kalau memang seperti itu, sistem kami tidak akan melacak nama anda sebagai orang yang ditolak. Nama anda ada disana karena itu anda tidak diizinkan untuk terbang. Maaf Nona, jika kami bersikeras membawa anda ke Italia, itu sama dengan melanggar aturan dan kami bisa menjadi komplotan anda."
"Semua negara punya aturan masing-masing."
"SIALAN!"
Wanita itu mengacak-acak rambutnya, dia keluar dari ruangan itu diikuti adiknya yang kesulitan.
"Aku harus mencari cara agar bisa masuk ke korea! berpikirlah Sujong, pasti ada jalan." sembari berjalan dia terus berbicara sendiri.
"Kak!" teriak inha di belakang.
Lim Sujong tidak mendengarnya karena fokus mencari kontak orang yang bisa membawanya masuk ke Korea.
Inha yang terus mengejar kakaknya harus berhenti karena pesan yang masuk ke ponselnya. Dia gemetar, pesan itu jelas dari suami kakaknya. Disana dia menanyai dimana istrinya dan apa yang sedang dia lakukan.
Inha kaget. "Bukankah kakak ipar sedang dinas?" kata dia pelan.
Di depan dia melihat kakanya tiba-tiba berhenti. Melihat kesempatan itu, Inha melempar bedak dan mengenai punggung Lim Sujong.
"Apa yang kau lakukan!" dia berbalik marah.
Lim Inha sudah bisa menyusul kakaknya yang kerasukan setan. "Kakak ipar mencarimu!" ponselnya dia berikan kepada Sujong.
Terkejut, matanya membulat menandakan kekhawatiran. "Ayo pulang, jangan sampai dia tahu aku berada di bandara!"
Cepat-cepat, dia mendotong inha untuk pulang.
...🖤...
Italia, Empire Corp.
Fredrick menerima kabar bahwa Lim Sujong telah kembali.
"Jangan biarkan wanita itu masuk ke itali lewat jalur manapun, walau yang akan dia katakan itu kebenaran!" katanya pada diri sendiri.
Dia sudah mengambil keputusan untuk percaya pada Valerie. Saat-saat lelah dalam hidupnya, bertemu dengan Valerie adalah keajaiban. Seperti wanita itu percaya padanya, dia juga akan melakukan hal yang sama.
Tok Tok Tok
Sekretarisnya masuk. "Tuan, kita sudah menemukan keberadaan Dokter Han dan Nyonya Riana.
"Kita pergi, setelah Valerie menelepon!" katanya, sekretaris itu menunduk hormat dan kembali ke mejanya.
Frederick ingin mendengar kebenaran dari mulut orang yang bersalah atas semua kesulitan sahabatnya.
.
.
__ADS_1
.