The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 42 : Valerie terjatuh


__ADS_3

Wanita itu berlari dengan riang di taman luas milik mertuanya. Banyak kupu-kupu yang berterbangan, para pelayan juga sibuk mengejarnya, karena takut terjadi apa-apa dengan menantu keluarga Lee. Para pelayan itu sempat lupa, bahwa Valerie bukan anak kecil tapi orang dewasa.


"Nona, tolong jangan berlari lagi, anda bisa jatuh." belum beberapa detik, perkataan pelayan itu menjadi nyata, Valerei jatuh. Awalnya biasa saja, dia tidak menangis hanya melihat telapak tangannya yang luka terkena batu tajam tapi saat seorang pelayan menyebutkan nama Darren, cukup membuat dia menangis keras.


Deora yang sedang di dapur berlari keluar mendengar suara tangisan menantunya. "Ada apa?" Ucapnya dengan nafas memburu.


Matanya menatap seorang yang sudah duduk di rumput dengan telapak tangan berdarah. "Ya Tuhan. biar sama saya saja." Deora berjalan ke arah Valerie dan mengambil tangan Valerei dari para pelayan. Di bawanya ke dalam dan mendudukkannya di sofa.


"Ambilkan kotak obat dan telepon Yu ra." Pinta dia kenapa pelayan.


Semua pelayan berada di ruangan itu, mereka menunduk takut. "Kalian boleh kembali, aku terjatuh karena tidak hati-hati." Valerei tersenyum lalu tertawa. Kepala pelayan kediaman itu meminta mereka kembali bertugas. "Maaf nyonya."


"Kenapa minta maaf, kalian sudah dengar Valerei bilang dia jatuh karena tidak hati-hati. Tidak apa-apa, kalian bisa kembali." Deora tadi sudah menanyakan apa menantunya terjatuh keras atau ada bagian tubuhnya yang terbentur, lalu Valerei menjawab jika tangannya yang duluan menopang tubuhnya karena itu dia tidak mendapat benturan pada bagian tubuh lainnya, tidak ada yang sakit katanya.


Yu ra, dokter pribadinya dan seorang dokter lainnya juga sudah melakukan pemeriksaan. Hasilnya baik-baik saja. Tidak ada yang mengkhawatirkan.


"Ibu sudah telepon Darren, dia sudah di jalan pulang." Ucap Deora membuat Valerei terdiam lalu menggeleng.


"Ada apa?" Tanya mertuanya saat melihat dia menggeleng tiba-tiba. Valerei langsung berdiri dari tempat duduknya. "Ibu apa di sini ada tempat sembunyi?"


Deora mendongak menatap menantunya. "Tempat sembunyi? untuk?"


"Untuk sembunyi dari Darren." Kata dia membuat Deora tertawa. "Untuk apa bersembunyi dari Darren? dia galak sekali ya?"


Valerei mengangguk, belum lagi ekspresi lucunya. Dia takut dan tidak bisa membayangkan betapa mengerikan saat Darren marah. Lebih baik lari dari pada harus bertemu Darren dalam keadaan seperti ini, pikirnya.


Sebelum langkahnya membawa dia bersembunyi. Suara orang yang dia takutkan terdengar. "Kalau kau takut kenapa tidak mendengarkan perintahku!?"


Membeku, dia tahu suara milik siapa. Perlahan-lahan Valerei membalik badannya dibarengi dengan cengiran. "Pimpinan Lee Seok Hoon."


Darren menghela nafas, haruskah dia marah pada wanita ini? Matanya tertutup sekilas lalu kembali menatap Valerie. "Mana yang luka?"


Otomatis Valerie mengangkat telapak tangannya. "Lukanya tidak serius, tadi sudah diberi obat." Valerei mendekati Darren. "Benar-benar tidak sakit." Sembari menekan kata sakit.


Darren bersedekap menatap lekat istrinya. "Kalau tidak sakit kenapa kamu menangis?"


"Siapa yang bilang?" Tanya Valerei, tidak mungkin ada yang mengadu, kecuali.


"Pengawalmu." Tunjuk Darren dengan dagunya. Dia berbalik melihat Nola dan Han di sana.


"Penghianat." Valerei tidak bersuara, dia menggerakkan mulutnya. Kedua orang itu tertawa pelan.

__ADS_1


"Kami ke kamar dulu ibu." Izin Darren kepada Deora, dia membawa Valerei.


Deora tersenyum, dia menautkan kedua telapak tangannya. "Menantuku manis sekali!" Gemas pada tingkah Valerei.


...🖤...


Valerei duduk di kasur sementara Darren berdiri di depannya, sikap seperti ini sering sekali terjadi jika dia berbicara dengan Valerei. "Besok kita periksa lagi ke dokter."


Darren mengangkat dagu Valerei. "Hukuman apa pantas untuk anak nakal?"


"Coklat?" Dia berusaha tidak melihat Darren, matanya sibuk melihat tempat lain di kamar itu.


"Hem?" Mengerutkan alis juga hal yang sudah biasa untuk Darren. Valerei tertawa sangat canggung, dia memainkan kukunya.


Darren melihat apa yang dia lakukan Istrinya. "Darren, kenapa aku merasa ada yang aneh!" Valerei berdiri, dia menghadap ke cermin. Matanya melihat dari bawah hingga ke atas.


"Apa yang aneh?" Hati-hati Darren.


"Seperti ada yang aneh, kau tidak melihatnya? Badanku tampak agak bengkak, padahal aku minum obat diet." santai, tangannya memegang lengan dan bagian badannya yang agak membengkak.


Darren kaget luar biasa, Obat diet? batinnya.


"Kapan kau minum obat diet!?" suara Darren meninggi.


"Darren!" Dia terkejut dengan sikap Suaminya.


"Ayo ke rumah sakit!" Darren memaksa, dia bersiap mengangkat Valerei, namun dengan cepat Valerei mundur dan duduk di kursi.


Valerei melihatnya dengan ragu, Darren mungkin membangkitkan kemampuan analisisnya. "Kenapa? Bukannya kamu aneh? Kau harusnya suka aku tidak gemuk."


"Apanya yang suka, kamu gemuk juga tidak ada masalah!" Dia melangkah maju, menunduk dan mengangkat Istrinya ala bridal style.


Saat dia akan keluar kamar, Deora datang dengan coklat panas untuk menantunya. "Ibu!" teriak Valerei. Deora memperhatikan ekspresi anaknya. "Ada apa nak?"


"Kami ke rumah sakit dulu Bu." Dia bergegas berjalan tapi Deora menghalangi. "Ada apa!?" tanya dia lagi, kali ini lebih menuntut.


Valerei melihat kesempatan. "Bu, aku minum obat diet apa salahnya?"


"Nak, Yu ra dan dokter tadi sudah periksa, semuanya baik." Deora memberi kode Darren agar dia berbicara padanya.


Kode itu terlihat oleh Darren lalu dia menurunkan Valerei. Dia di turunkan dengan sangat hati-hati di sofa. Valerei bergerak gelisah di sana dan berdiri, telunjuknya mengarah ke pria yang berada di depan. "Karena Darren nakal, malam ini dia tidak bisa tidur di kamar." titah turun dari sang Ratu. Deora tertawa hingga air matanya jatuh.

__ADS_1


"Oh baiklah, nanti kita bicara Hoon. Bersiaplah tidur di luar nak." Deora keluar dengan tawa yang masih tersisa.


Suasana permusuhan jelas di pandangan Valerei. "Kita tidak berteman." Valerei membuang mukanya ke samping.


"Kita memang tidak berteman, kau Istriku." dengan santai dia bicara membuat Valerei tambah marah.


"Dasar.." Ucapnya terhenti, Darren melihatnya dengan satu alis terangkat.


"Tidur di sofa sana." Valerei berjalan meninggalkan Darren, dia masuk ke dalam selimut.


2 Jam kemudian Darren masuk ke kamar. Istrinya sudah tertidur pulas. Dia duduk di kursi tunggal yang menghadap ke tempat tidur. Dia menatap istrinya, menyunggingkan senyum manis di bibirnya.


Valerei tidak sungguh-sungguh menyuruhnya tidur di luar atau di sofa. Saat masuk ke kamar tidur, pintu kamar tidak terkunci, bahkan baju tidur sudah dia sediakan di atas tempat tidurnya.


"Darren aneh! tersenyum seperti itu." Valerei terbangun. Dia berbicara kepada dirinya sendiri dengan suara yang cukup di dengar orang lain.


"Tidurlah." Ucap Darren


"Kau melihat seperti itu, bagaimana aku bisa tidur?" tanya dia, Valerei bangun menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.


Dengan wajah kakunya Darren bertanya. "Kamu lapar?"


"Berhentilah bertanya aku lapar atau tidak, kau terus bertanya seperti itu!" Lagi-lagi dia kesal.


"Kau ingin sesuatu?" Darren tidak menggubris perkataan Valerei yang sedang kesal.


"Makan kamu, bikin kesal saja!" suara Valerei menjadi serak, dia terlalu banyak berteriak.


Darren berdiri, berjalan dan duduk di samping Valerei. "Boleh juga." matanya menatap Valerei. Dia tau, bagian dari Darren membuatnya jatuh cinta, pikir Valerei.


"Apanya?"


"Kamu bilang ingin memakan ku? Ayo silahkan." Dia memberikan tangannya.


"Wah, Aku ingin muntah." Setelah mengatakan itu, dia benar-benar muntah di tempat tidur, tepat di depan Darren.


"Tidak apa-apa." Darren menggendong Valerei masuk ke kamar mandi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2