
Leon berlari gembira sepanjang koridor TK, mendapat kabar bahwa ibunya tidak bisa datang dan digantikan dengan Mami kesayangannya. Sudah lama bagi Leon terakhir bertemu dengan wanita yang telah menjaganya sejak bayi.
Dari ujung terlihat sosok cantik melambai memanggil namanya sayang, dia ikut melambai dan tersenyum. Langkahnya ringan berhamburan ke pelukan sang penolong.
"Mami!"
"Leon rindu? mami rindu sekali!" dipeluknya erat. Tidak menjawab, Leon menenggelamkan kepalnya di ceruk leher Valerei.
Guru wanita yang membawa ransel Leon berlari mengejar, dia berhenti saat melihat Valerei dan anak didiknya berada di ujung koridor.
"Maaf, Leon tadi terburu-buru hingga melupakan ranselnya." Nafasnya saja belum teratur, dia memegang dadanya.
"Terima kasih bu, kalau begitu saya izin pamit dulu." Ujar Valerei memandang ramah guru Leon. Dia menunduk sebentar dan berbalik pergi bersama Leon yang masih asik nemplok.
"Leon mau makan apa nak?" tanya Valerei.
"Makan apa saja mami!" tangannya diangkat ke atas.
Lihatlah, anaknya bersemangat. Valerei mengelus punggung Leon dan mengecup kepalanya, bau shampo khas anak-anak menyusup menari-nari di indra penciumannya.
Mobil terparkir tepat di depan TK, Han turun membungkuk sedikit dan membuka pintu untuk sang majikan. Leon melihat semuanya, walau masih kecil, dia tidaklah sederhana seperti kelihatannya.
"Mami, mobil baru?"
Valerei hanya tersenyum membalas. Lalu, membantu Leon naik dan duduk di tengah, kemudian barulah dia naik, tidak lupa sabuk pengaman untuk anaknya.
Bajunya ditarik, dia melihat ke arah Leon yang juga menatapnya. "Hem?"
Tunjuk Leon ke sebelah. Valerie hanya bisa tersenyum.
.
Mendung tadi, berubah menjadi hujan dibarengi aging kencang. Mobil hitam itu memasuki kawasan perumahan elit. Sepanjang jalan dari TK Leon, keduanya tidak membuka suara, hanya tatapan Leon pada Darren sulit diartikan begitupun sebaliknya.
Valerei melirik kedua pria di sampingnya, dia menggeleng. Apa yang Leon pikirkan. Valerei menjadi penasaran, tapi dia tidak ingin membicarakannya sekarang. Saat mobil mereka berhenti tepat di depan rumah, Valerei membuka sabuk pengamannya dan Leon, dia turun lebih dulu lalu menjangkau Leon untuk di gendong masuk ke dalam rumah.
Namun, Leon meminta turun setelah dia keluar dari mobil. Valerei menuruti kemauan anaknya.
"Ayo!" Valerei menggandeng tangan Leon masuk ke dalam.
Darren dan Are berjalan di depan mereka, sebelum keduanya menghilang ke ruang kerja, Valerei menghentikan langkah suaminya.
"Darren!" Panggil Valerei.
Sang suami yang dipanggil berbalik. Valerei menghampirinya masih menggandeng tangan Leon.
"Katanya mau kerumah mama?" tanya dia mengamati ekspresi Darren.
"Nanti, mereka sedang di Thailand."
__ADS_1
"Bikin apa? bulan madu?"
Mendengar jawaban istri bosnya, Are menunduk. Berbeda dengan kedua pengawal yang berada di belakang Valerei, mereka saling menyenggol. Terkadang Han dan Nola mendadak kompak jika mendengar perkataan lucu bosnya, mereka bisa lebih tidak sopan dan tertawa terpingkal-pingkal jika tingkat kelucuan Valerei berada di tingkat paling tinggi.
"Ini nih, memangnya apa yang lucu?" Valerei berbalik kesal sendiri, ucapan seriusnya ditertawakan.
Sesaat, suasana menggantung dalam hening. Menyadari itu, keduanya menunduk menekan rasa gugup karena Darren melihat mereka dengan tatapan tajam. Anggap, keduanya sedang lupa, mereka tidak hanya bertiga dengan Valerei.
Melihat wajah serius suaminya, Valerei spontan memegang tangan Darren. Meski Han dan Nola terkadang bersikap seperti itu tapi Valerei lebih menyukainya dibandingkan saat pertama kali mereka bekerja, suasana lebih hidup. Lebih banyak gemas dari pada kesal.
Dia juga tidak tahu harus berkata apa kepada Darren, satu kata muncul saat dia melihat Leon. "Ayo mandi?"
tunggu, apa yang dia ucapkan barusan? mandi?
Valerei merapatkan bibirnya, menunduk karena malu. Bisa-bisanya dia berbicara dengan percaya diri. Ayo mandi? gila sekali, kata yang ambigu itu keluar saja tanpa difilter.
Dia berbalik melihat kedua orang yang menjadi dalang di balik tragedi putus asa ingin menolong orang tapi dialah yang tidak selamat.
"Leon dulu, baru aku." Sahut Darren lalu dia berbalik menaiki tangga diikuti Are.
Are hanya bisa tertawa dalam hati, dia tidak begitu melihat perubahan istri bosnya kemarin. Namun, hari ini dia bisa merasakan Darren menikmati semua itu.
"Bukan, Darren! itu--"
"Tidak apa-apa!" teriak Darren dari atas masih mendengar Valerei bicara.
"Apanya yang tidak apa-apa?" kata yang dia ucapkan untuk dirinya sendiri, dengan nada pelan. Kepalanya gatal, dia memukul kecil mulutnya yang tidak bisa dikendalikan.
Nola belum selesai berbicara, saat Valerei melotot padanya. Gara-gara siapa aku salah bicara? batinnya.
.
Valerie ingin menelepon Elena saat itu juga, dia melihat ada perban di pelipis anaknya. Tapi, dia menunggu hingga waktunya Leon tertidur.
Leon sudah mandi dan berganti pakaian dengan baju yang dibelikan olehnya beberapa bulan lalu. Selalu ada stock baju yang dia siapkan. Wangi khas anak-anak memenuhi Indra penciuman Valerei, dia memeluk Leon gemas.
"Leon harum!" sahut gembira, Leon tersenyum.
"Ayo makan!"
Tangan mungil itu memegang erat tangan Valerei. Mereka berjalan berdampingan turun ke bawah untuk makan siang.
"Are?"
Dalam perjalanan ke bawah, dia mendapati Are, Han dan beberapa pekerjaan pria berada di lantai 2, hal yang tidak pernah terjadi. Sebab, are ini milik Valerei.
"Oh Nyonya?" Dia juga terkejut.
Kenapa terkejut? Valerei menghampirinya. "Ada apa?"
__ADS_1
"Tidak Nyonya, tuan cuma butuh memindahkan barang ke atas." mengembalikan ketenangan dirinya.
"Oh, oke!"
Valerei tidak ingin banyak tanya, dia kembali berjalan bersama Leon. Sesekali, melirik Leon yang terlihat canggung sejak tadi.
"Leon mau bilang sesuatu?"
Dia memegang lebih erat tangan Leon, memperhatikan langkah anaknya menuruni tangga.
Leon tidak menjawab, entah sibuk dengan pemikiran apa. Dia menarik tangan Valerei saat berada di bawah tangga. Valerei berjongkok menyamakan tinggi dengan anaknya.
"Ada apa?"
"Mommy tidak tahu ya?"
"Hah?"
"Mami sudah menikah, apa semua orang tidak tahu?"
Mendengar itu Valerie terdiam, dia bahkan tidak menyadari jika Darren suda berada di depan Leon.
"Hai, papi!" Sapa Leon kepada Darren. Valerei yang kembali sadar mengkerutkan kening. Papi? kok bisa?
"Papi?"
"Leon sudah tahu sejak kita di Jepang!" Kata Darren membuat Valerei terkejut dan terpana begitu mendapati fakta bahwa Leon telah tahu jauh sebelum dia kembali.
"Kok bisa?" Valerei melihat Leon yang terkekeh geli. Dia masih tidak percaya, secerdas bagaimanapun Leon, dia tidak bisa membayangkan bahwa anaknya tahu bahwa dia sudah menikah dan menyembunyikan kabar itu.
Sebelumnya mereka pernah bertemu di rumah Hyuk, apa Leon menyapa Darren dan memanggilnya dengan Uncle hanya sandiwara agar teman-temanya tidak tahu?
"Aku juga tahu yang lainnya!"
Kali ini bukan cuma Valerei yang melihatnya tetapi Darren juga. "Yang lain apa?"
"Tidak apa-apa, aku terburu-buru!"
Leon melewati keduanya berjalan ke arah dapur, para pekerja yang menunduk sopan, meski Leon adalah anak kecil tetapi dia merupakan tuan muda dalam keluarga.
Kedua orang dewasa disana masih terdiam, mereka mengawasi gerakan Leon hingga menaiki kursi menunggu makanannya disajikan.
"Ingatkan aku, mendaftar dia ke mensa!"
"Hm!" sahut Darren, mengambil tangan Valerei dan menuntunnya melewati satu anak tangga antara ruang tengah.
.
.
__ADS_1
.