The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 31


__ADS_3

Valerei ingin berteriak. Saat dia bangun dan membuka matanya, Darren berada tepat di sampingnya, sangat dekat hingga dia bisa merasakan hembusan nafas Darren.


Perlahan Valerei bergerak mundur, sangat pelan, dirasa cukup jauh, Valerei bangun. Dia menghela nafas. Irama jantungnya tidak karuan, seperti habis lari maraton.


Dia mengambil jam kecil di nakas. Memicingkan matanya ragu. "12.25?" perutnya berbunyi tanda dia belum di isi. kemudia dia kembali melihat Darren, tidurnya sangat pulas.


Dia tidak berniat membangunkan pria itu dan bergerak turun sendiri. Belum kakinya menyentuh lantai, suara Darren menghentikannya. "Mau kemana?"


"Kebawah, kamu sudah makan?" Darren menggeleng masih dengan mata yang tertutup.


"Aku ambilkan?" tanya Valerei


Dia membuka matanya. "Bisa kita disini saja?" rasanya, tidur lebih nyaman bersama dengan Valerei. "Tidak, aku lapar" dia memegang perutnya, bibirnya mengerucut lucu, mata Darren mengikuti gerak tangan valerei, dia kaget. Aku lupa, batinnya.


Darren bergegas bangun. "Ayo makan" dia berjalan lebih dulu dari Valerei. Lalu istrinya mengikutinya turun ke bawah. Saat di ujung tangga, dia melihat Are dan beberapa pengawal, mereka menundukkan kepala melihat Darren turun bersama istrinya. "Tuan, Nyonya.”


"Ada apa?" tanya Darren


"Saya akan memanggil kepala pelayan." dia akan menekan tombol interkom yang tersambung di ruangan pelayan perempuan tapi Valerei menghentikannya. "Tidak perlu Are, aku akan makan apa yang ada. Mereka pasti sudah masak tadi, aku lupa, ketiduran." Valerei cengengesan. dia mengambil piring "Kalian belum makan? kalau belum, ayo makan"


Istriku ini! dia lupa, mereka semua adalah pria, batin Darren.


Darren memberi isyarat agar semua pengawal pria itu kembali ke tempatnya. Mengerti isyarat dari bos, mereka pergi.


"Mereka kemana?" dia meletakkan piring nasi dan piring lauk di depan Darren. Terlalu sibuk mengambil lauk sampai tidak melihat mereka pergi. "Istirahat." ucap Darren, dia melihat makanan didepannya.


"Kamu mau yang lain?" Darren tidak menjawab dan langsung memakannya. Melihat Darren makan dengan lahap, membuatnya ingin makan apa yang Darren makan.


"Itu enak?" dia menggigit bibirnya.


"Hmm"


"Darren" panggil Valerei membuat Darren menatapnya. "Apa itu enak?" tanya dia lagi.


"Ya" dia kembali makan, sesingkat itu. bukan marah, Darren tidak suka diajak berbicara saat makan.


"Aku mau" dia menunjuk piring Darren, Valerei dengan percaya diri membuka mulutnya, minta disuap suaminya. Darren yang sibuk makan tidak memperhatikan itu, karena tidak mendapat respon, Valerei turun dari kursinya dengan kasar hingga suara deritan membuat darren berbalik. Wajah istrinya masam, Valerei pergi meninggalkan nasi yang baru dia sentuh sedikit.


Apa lagi, semakin lama semakin penuh teka-teki.


Darren membawa dua piring. Miliknya dan milik Valerei, istrinya yang terlihat cemberut.


"Mau apa?" dia bertanya saat duduk di samping Valerei yang kabur ke ruang nonton.


"Mau apa?" dua kali dia tidak mendapat respon positif. Wajah Valerei tetap masam, malah bertambah menjadi marah. Double.

__ADS_1


"Va" andalan, jika Darren sudah memanggil seperti itu, mau tidak mau Valerei harus menjawab. "MAU MAKAN!!" dia marah, marah yang diiringi tangis. Darren diam, dia membiarkan Valerei menangis sampai puas. dia akan berhenti sendiri.


2 menit kemudian, see. Dia berhenti. Valerei mengusap air mata sekaligus ingus yang keluar. Dia memukul tangan Darren, sakit. Valerei memukulnya dengan keras. Darren berniat memeluknya. "Jangan dekat-dekat" istrinya marah lagi, serba salah.


"Ayo makan, nanti makanannya terbuang. kasihan." ajak Darren, Valerei tidak menggubrisnya. Dia ingin menelepon sahabat-sahabatnya tapi mereka tidak punya pengalaman, dia harus sabar, menghadapai istrinya yang seperti bom waktu ini.


Darren mencoba peruntungannya lagi. "Mau makan yang lain?" Valerei menggeleng.


Syukur, setidaknya dia menjawab. "Mau yang itu." tunjuk Valerei pada piring makan Darren. Otomatis Darren mengambil piringnya akan menyuapi istrinya. "Aku makan sendiri." keputusan Valerei membuatnya mengangguk mengerti. Akhirnya, setelah drama malam hari itu mereka makan dengan tenang.


...🖤...


Tring, Pesan masuk ke ponsel Darren yang dia simpan di atas nakas samping tempat tidur. disana Darren dan istrinya terlelap tidur, menari-nari dalam mimpi masing-masing.


Han Yu ra


- Obatnya sudah kukirim, seperti permintaanmu.


...🖤...


The Green Resto


Nola duduk menunduk dengan sikap tegap. Dia berhadapan dengan seorang mantan mafia yang mungkin akan memakannya hidup-hidup.


"Maaf Tuan." Nola tidak bisa berkutik. Bosnya ini, tidak seperti majikan lainnya. "Kau tahu kenapa aku memberimu dua tugas?" ucap Frederick.


Nola mengangguk. "Karena Tuan tahu aku bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik "


"Kalau kau tahu, seharusnya kerjakan dengan baik, jangan buat aku harus bertindak sendiri!" Dia kesal karena Nola melewatkan waktu paling penting untuk berada di samping Darren.


"Darren sudah tahu, kau orang ku! Menurutmu, bagaimana aku harus mengurus itu?" Tambahnya yang membuat Nola gemetar. Ia tahu bosnya tidak berbicara omong kosong. Dia akan melakukannya jika dia ingin.


"Lihat!" Frederick menunjuk sebuah mobil SUV hitam yang baru saja pergi. "Kau pikir dia siapa? Jika kau bertindak tanpa perintah lagi, kau tahu akan seperti apa." Nola diam, dia ikut berdiri saat Frederick berdiri. "Tidak perlu kembali ke mansion Darren, tugasmu sekarang hanya satu, yaitu menjaga Valerie. Mengerti!" tekan Frederick padanya sebelum meninggalkan dia.


Kalau Tuan sampai tahu aku berbohong soal Nona Valerei, entah bagaimana masa depanku!


Nola mengingat alasan dia berada di Korea. Pertama kali dia mengetahui bahwa tugasnya adalah menyelidiki teman lama bosnya. Ingatan itu membawanya kembali ke itali beberapa bulan lalu.


"Selidiki Darren diam-diam! Aku ingin tahu dengan siapa dia bekerja sama, wanita yang berada disampingnya dan semua kesehariannya! Mengerti?"


"Baik Tuan."


"Seseorang akan mengatur agar kau bisa masuk ke dalam Tim keamanan khusus dan tugas tambahan untuk menjaga Valerei tetap aman!"


"Baik Tuan!"

__ADS_1


...🖤...


Kediaman Wang


"Sayang" panggil Ha Joon, Ji Hyo marah padanya. Sudah dua hari dia menginap di rumah kakaknya, membuat Larry murka. "Sayang" panggilnya lagi. Ji Hyo membanting pintu kamar miliknya yang berada di kediaman Wang.


"Sudahlah, dia sedang tidak ingin bicara atau melihatmu. Biarkan dia disini dulu, nanti kalau sudah baik, kuantar pulang." Ji Hyo tidak menceritakan apapun padanya. Dia, Larry tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga adik dan sahabatnya. Dia murka karena Ji Hyo datang sendiri saat tengah malam. Hanya itu.


"Maaf Larry, aku benar-benar tidak tahu kenapa Ji Hyo marah." jujurnya pada Larry.


Beberapa hari lalu Ji Hyo meminta izin ke kafe dengan temannya, awalnya dia baik-baik saja tapi setelah pulang dia menjadi seperti itu.


"Lagi mens kali." jawab Larry


"Ya tuhan." rasanya ingin memukul tembok. Larry menepuk pundaknya meminta dia istirahat di kamar tamu.


Didalam kamar, Ji Hyo menangis, dia menelepon Elena. "Elena--"


...🖤...


Elena yang mendengarnya menangis tidak bisa menahan untuk bertanya.


"Kau kenapa? siapa yang memukulmu?" tanyanya, dia ingat waktu kecil Ji Hyo sering menangis karena menjadi bahan bully teman-teman kelasnya.


"Suamiku berselingkuh!!!"


Setelahnya terdengar Ji hyo kembali menangis. Mata Elena membulat.


"SELINGKUH!!!" dia berteriak membuat Rey yang sedang bermain dengan Leon di sampingnya berbalik melihatnya.


"Kirimkan lokasimu, aku kesana sekarang!" Elena menutup telepon, Ji Hyo segera mengirim pesan Elena bahwa dia ada di rumah kakaknya.


Elena berdiri dia berbalik melihat suaminya. "Rey, ayo!"


"Kemana?" dia bingung


"Ke rumah kak Larry. Ji Hyo disana, katanya Kak Ha Joon selingkuh!" Elena sudah berlari mengambil jaket miliknya, suami dan anaknya.


Rey saling berpandangan dengan Leon. "AYO!!" Elena berteriak membuatnya keduanya kaget dan bergegas mengikuti wanita yang mereka cintai.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2