The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 93


__ADS_3

"Jangan terlalu memaksaku. Bahkan tanpa diberitahu, kau sudah tahu." Frederick mengangkat tangannya. "Jadi, janji tetaplah janji!"


Darren terkejut tapi cepat dia bisa mengendalikan ekspresinya.


“Apa kita bicara masalah yang sama?” tanya Darren ragu.


“Kalau tidak, kenapa ketika aku menyebutkan Lim Sujong tidak akan masuk ke itali kau terlihat lega?”


“Siapa yang mendahuluiku bertemu denganmu?” lagi dia bertanya.


Frederick diam sebentar. “Siapa yang tahu, mungkin dia yang datang,”


Siapa yang tahu, mungkin dia yang datang.


Darren mengulang kalimat itu di kepalanya. Beberapa klien dan petinggi perusahaan serta Hyuk. Siapa dari mereka yang datang, dia masih memilah orang yang membocorkan informasi pribadinya.


“Tidak ada dari mereka yang akan melakukan itu,” Darren berhenti sesaat. “Kecuali, Valerei yang datang.”


“Aku ragu, awalnya. Sepertinya, kau masih pandai dalam menilai.”


Frederick membuka kancing lengan kemejanya. “Boleh aku meminta sesuatu yang harus kau kabulkan!?”


Darren menjawab dengan menaikkan alisnya.


Frederick berdiri dari singgasananya dan mendekati Darren. Jaraknya sangat dekat. “Boleh aku memukulmu!?”


BUGG


Setelah dia mengatakan itu, sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Darren. Frederick bahkan tidak menunggu pria itu menjawab.


Darren terdorong ke belakang dan menghantam pintu, dia mengatur nafasnya sebab mendapat seragan mendadak dari jarak dekat.


“Masalah yang terjadi di masa lalu sudah usai, tapi untuk masalah yang baru saja terjadi kau pantas mendapatkan pukulan itu!”


Frederick menggerakkan badan dan berbicara pada dirinya sendiri yang masih terdengar oleh Darren. “Harusnya kupukul lebih keras!”


Menanggapi itu Darren tersenyum kecil di sudut bibirnya.


“Kau harusnya bersyukur, aku menahannya sejak tadi dan hanya luka kecil itu yang kau dapatkan.” kata Frederick tegas.


Ya, Darren harusnya bersyukur, jika tidak dia mungkin sudah menghilang mengingat dimana dia berada sekarang.


“Terima kasih.”


Kemudian Frederick meninggalkan Darren dan kembali ke meja kerjanya sambil berbicara pelan.


“Untung saja Valerie sudah mengingatkanku. Jika tidak, aku harus membujuknya agar tidak marah. Padahal, seharusnya aku yang marah dia menyembunyikan masalah besar tapi kenapa, ah benar-benar dia.”


Menoleh ke arah Darren. “Pulanglah, tidak kuantar!"


Darren mengatur jasnya dan keluar dari ruangan itu. Pria tadi mengantarnya kembali ke lobby.


“Tuan!” Han kaget melihat wajah Darren tetapi sebaliknya Are tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Are dengan sigap membuka pintu mobil dan Darren naik.


“Are, kita ke kediaman Kang Hyuk!”


“Tuan, Mereka sedang berada di pulau jeju,”


“Ke pulau Jeju.”


...🖤...


PULAU JEJU


Leon asik bermain bersama Lele, kucing kecil yang baru saja menjadi temannya. Lari kesana kemari, melompat dan berguling, itu tampak lucu. Sedangkan tujuh orang dewasa sedang menikmati teh sore hari.


“Ini liburan pertama kita tahun ini.” kata Jihyo, mereka semua setuju.


“Darren belum bisa dihubungi?” tanya Larry.


Mendengar nama itu Valerie tersedak, Elena dengan sigap mengambilkan air putih dan menepuk pelan punggung Valerie.

__ADS_1


“Kau baik-baik saja?” Larry khawatir.


“Yah.” jawab Valerie di barengi anggukan, lalu melihat Leon yang berdiri di pinggir kolam ikan bersama teman kecilnya lele. “Leon,”


Dia beranjak pergi menemui anaknya.


“Astaga, bagaimana dia tidak tersedak, makan sambil lihat Leon.” Ucap Larry.


Teman-temannya tersenyum, mereka tahu bagaimana Leon sangat istimewa untuk wanita itu.


“Leon, jangan terlalu pinggir ya,”


“Ya mami!”


Valerie tersenyum. “Ayo sini,” menjulurkan tangannya yang disambut hangat Leon sambil tersenyum memamerkan deretan gigi kecil putihnya.


“Lele ayo!” tidak lupa pada teman kecilnya, Leon melambai memanggil. Lele yang menyadari itu belari mengikuti langkah Leon.


Mereka berbincang. Valerie menanyakan bagaimana harinya selama disekolah, Leon yang antusias menjawab mengundang senyum semua orang yang menyaksikan itu.


Malam mulai larut, Valerie berada di teras penginapan menikmati dingin yang menerpa badannya.


"Diluar dingin, kenapa tidak masuk!" Hyuk datang dengan selimut hangat, dia melingkarkan di pundak Valerie.


"Aku sempat ke jeju, ikut Darren. Waktu itu anginnya tidak sedingin malam ini."


"Kau tahu Darren ke itali?"


"Itali?"


"Hem, Frederick di sana."


"Untuk apa? dia pergi menemui Frederick?"


"Tentu saja meminta dukungan. Pria itu, walau dia butuh sekalipun dia tidak akan meminta bantuan Frederick tapi kali ini dia pergi menemuinya."


Valerie melihat Hyuk yang juga menatapnya. "Bukan cuma Leon yang perlu kau lindungi V, kalau terjadi sesuatu sebagai ayah Rey tidak akan tinggal diam, aku, Larry dan Hajoon lebih dari cukupkan?"


"Ancaman itu ditujukan pada orang yang paling dekat dan paling lemah. Lihat!" Hyuk menunjuk Beberapa mobil di sekitar rumah yang mereka tinggali.


"Hanya milik Rey, mereka berjaga kemanapun kita pergi. Rey tidak akan sesederhana itu meninggalkan keluarganya dalam keadaan polos tanpa perlindungan. Kau pikir Darren pergi tanpa tahu kabarmu, hanya karena kau kabur? ayolah Valerie, kau paling tahu Darren bukanlah orang yang sembrono. Aku mengira dia sudah tahu kau ada dikediamanku sejak awal."


"Kau menjadi sensitif, dan banyak kekhawatiran. Penilaianmu terhadap masalah menjadi tidak karuan. Kau tahu?"


Valerie diam, dia tidak bisa menyangkal semua perkataan Hyuk.


"Aku.."


TRING


Ponsel Hyuk berbunyi, dia menerima pesan.


Ada senyum menghiasi wajahnya. "Suamimu ini, informannya cepat juga!"


"Hm?"


"Tidak apa-apa, terlalu dingin disni."


"Ada apa?"


"Tidak ada!"


Valerie terus mendesak Hyuk.


"Apa yang kalian lakukan?" sergap Larry di depan pintu.


"Tidak ada!" Hyuk masuk menggeser pria yang menghalanginya hingga ke tembok.


Larry memandang malas Hyuk dan beralih melihat Valerie. "Dari mana?" suara manisnya membuat Hajoon merinding.


"Astaga, aku pikir terlalu banyak gula di mulutmu!"


Jihyo menyenggol suaminya, dia takut kakaknya bertambah kesal.

__ADS_1


"Sayang, kakakmu itu lucu." ujar Hajoon pada Jihyo.


Valerie berjalan ke dapur di ikuti Larry. Mereka yang berada di ruang keluarga berbincang menggosipkan sikap Larry.


"Katanya sudah Move on." Hajoon memulai.


"Mungkin kemarin benar-benar sudah Move on kak, cuma kalau dilihat sekarang Kak Valerie juga masih sendiri, kesempatan kak Larry harusnya terbuka lagi dong, wajarlah."


Elena mulai melihat Larry dengan baik setelah dia kembali ke sisi Rey.


"Kesempatan apa, Larry tidak ada dalam daftar!" Sekarang Rey yang berbicara.


"Ada! Larry ada dalam daftar tahu," sahut Hajoon percaya diri.


"Memang iya?" tanya Rey.


"Iya, daftar hitam!"


Kedua pria itu tertawa, sementara para istri tersenyum canggung atas sikap kekanakan suaminya. Hyuk hanya menggeleng.


Di dapur, Larry bersandar di cabinet tempat piring dan perlatan makan, dia memperhatikan setiap gerakan Valerie.


"Hyuk tidak boleh!" langsung Larry.


"Kenapa dengan Hyuk?" tanya Valerie tidak mengerti.


"Kau tahu! pokoknya jangan dia. Kau bisa memilih pria manapun asal bukan Hyuk!"


"Hah? Ah, itu maksudnya."


"Oke ya?"


"Iya!" Valerie membalas Larry tegas.


"Syukurlah!"


Wanita itu berjalan kembali ke ruang tengah. Dia melihat ada ruang kosong di samping Hyuk, baru saja akan duduk Larry dengan cepat mengambil alih dan membuat Valerie kehilangan keseimbangan sehingga lututnya tertabrak meja di depan.


"Ah!" reflek Valerie.


"Larry!"


"Kak!"


Teriak semua orang yang berada di sana. Larry kaget, dia tidak bermaksud melukai Valerie. Hal yang dia lakukan adalah reflek saat melihat Hyuk di sampingnya.


"Maaf!"


Jihyo dan Elena membantu Valerie duduk.


"Aku minta maaf" dia menyesal.


"Aku ambilkan kotak obat!" dia berlari dan kembali dengan kotal P3k.


"Ini."


"Tidak apa-apa, aku reflek karena kaget!"


"Tapi nanti luka."


"Tidak, tidak luka!"


"Ambil aja Vaa, nanti dia nangis lagi! lain kali lihat kondisi dululah, kalau beginikan kamu juga yang menyesal!"


"Maaf!" ucap Larry lagi.


"Sudah, aku baik-baik saja!" ujarnya kepada Hajoon.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2