
Deora masih tidak bisa melupakan kejadian tadi. Dia yakin orang itu adalah Rania, tetapi jika dipikirkan untuk apa kakak iparnya berada disana, sedangkan mereka tidak memiliki kerabat di Thailand. Jong Seok, suaminya memperhatikan Deora. “Kamu mungkin marah dengan Rania, karena itu melihat semua orang dengan dirinya juga hal yang wajar.”
“Wajar apa? Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Yah aku salah, sudah jangan dipikirkan. Kalau dia benar Rania, mau apa? Tidak ada hubungannya dengan kita dan anak kita.”
Deora mengangguk. Setelah meninggalkan ketiga anaknya, Jika dia kembali mengganggu dia benar-benar tidak punya perasaan, pikir Deora. Dan mencoba melupakan hal itu, menutup matanya membiarkan lebur di pikirannya. Mereka menunggu hingga waktu pesawat itu terbang.
.
Incheon Internasional Airport (ICN) / Bandar Udara Internasional Incheon.
Pesawat mereka sudah mendarat, seorang dari kediaman Lee Jong Seok sudah berada di bandara menunggu mereka. “Tuan besar!” sapanya menunduk sopan.
Lee Jong Seok dan Deora mengangguk dan berjalan bersama mereka.
“Kita ke apartemen menantu saya,” kata Deora.
Suaminya berbalik. “Tidak ingin istirahat dulu? Kau lelah bukan?”
“Tidak perlu, aku lebih baik menemui Darren dari pada berusaha tidur dan berakhir dengan mata memerah.”
Mobil sudah berada di depan pintu keluar. Barang-barang telah di masukkan ke bagasi, keduanya juga sudah berada di kursi penumpang.
“Kau ingin makan sesuatu?” tanya pria itu ketika mobil sudah jalan.
Deora menggeleng menutup mulutnya. Pandangannya tertuju ke luar jendela mobil. Dia bisa melihat seberapa padat jalanan kota, bus, motor juga mobil yang dipenuhi penduduk negara ini melakukan aktivitas mereka. Belum ada yang berbeda setelah kepergiannya. Lalu matanya menangkap tempat yang sering dikunjungi menantunya.
“Kue favorite Valerie.”
__ADS_1
Deora bergumam pelan.
Lee Jong Seok berbalik melihat istrinya saat dia mendengar suara pelan dari sebelah tempat duduk. Dia menengok kebelakang dan menepuk kursi di depan.
“Putar balik, kita mampir ke café seberang.” Perintahnya.
Sang supir mengangguk, dia memutar balik mobilnya dan berhenti di depan salah satu café. Terlihat penuh oleh pelanggan, Deora turun tanpa berbicara. Salah satu dari mereka ikut turun mengikuti Nyonya rumah.
Lee Jong Seok menghela nafas pelan. Matanya menatap ke depan dan tidak sengaja beradu pandang dengan sang supir. Dia tidak pernah melihatnya sebelum itu, jadi tersadar bahwa orang baru yang masuk sebagai supirnya lebih dulu datang. Dia diberitahu bahwa supir baru akan datang lebih lama karena menjaga ibunya yang sedang sakit. “Bagaimana ibumu?” Tanya Jong Seok.
Agak terkejut dia gelagapan menjawab. “B-baik Tuan, ibu saya sudah baik-baik saja.”
Pria tua mengangguk dan ketika matanya kembali menatap mata anak berbakti itu dia tersenyum penuh ketulusan. Pikirannya menerawang, dia dan Deora tidak punya anak kandung dan hanya memiliki Darren sebagai anak yang adalah keponakannya dari kakak tertua dari keluarga Lee. Walau Darren tidak terlahir dari istrinya, anak itu sudah cukup untuk dirinya dan Deora.
Sewaktu usia Lee Seok Hoon atau Darren 16 tahun, Jong Seok pernah meninggalkan istrinya dinas keluar negeri. Dia ingat memakan waktu hampir 2 bulan lalu sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi, istrinya sakit. Dia tidak bisa kembali cepat dan berusaha menyelesaikan semuanya. Ketika dia sampai Darren tertidur di kursi dekat kasur sang Ibu angkat. Padahal saat itu, dia tahu Darren sedang berada di Jepang untuk membahas kerja sama.
Dia diberitahu bahwa anaknya sudah pulang saat mendapat kabar ibunya sakit, dia mengurus semuanya, meminta perawat datang dan ikut menjaga sang ibu. Hati anaknya terbuat dari kapas yang lembut. Saat itu rasanya dia lebih tidak berguna sebagai suami tetapi perkataan Darren membuatnya sadar dan kembali untuk tidak bersedih. Kalimat itu masih segar diingatannya, Ayah, tugasmu adalah bekerja mencari nafkah, mencintai dan menghormati istrimu dan kau sudah melakukannya dengan baik. Lalu tugasku sebagai anak adalah menjaga, membantu, Mencintai dan memuliakan kalian sebagaimana kalian menjaga, mengasihi dan menyayangiku dari kecil hingga sebesar ini. Kalimat indah itu seperti oasis di kepalanya, dia mencium kening anaknya penuh rasa sayang. Melihat anak lainnya berbakti pada orang tuanya selalu membawa dia pada kenangan masa lalu.
“Belum tuan besar, saya belum berani untuk menikah.” katanya malu-malu, dia cukup tahu diri untuk melangkah ke fase berikutnya.
Ini merupakan hal yang biasa, untuk menikah mereka harus menyiapkan banyak hal. Jika belum sanggup secara finansial jangan mencoba. Kedinginan di musim dingin yang ekstrem tidak akan menyenangkan seperti bermain bola salju di pekarangan. Setidaknya mereka harus punya rumah. Semua serba mahal.
“Lalu, kau tidak akan menikah?” Tanya bosnya lagi.
Pembicaraan soal pernikahan membuatnya ingin kabur, bukan dia tidak ingin menikah tetapi belum sanggup ada hal yang paling banyak di temui. Dan dia adalah salah satunya. Dia baru saja bekerja di kediaman Tuan besar Lee, butuh beberapa tahun lagi jika dia akan menikah.
“Saya akan menikah tuan, mungkin harus menunggu beberapa tahun.” tersenyum sopan.
Yah, bukan karena dia tidak paham dengan keadaan, dia tahu itu dan berusaha menolong. “Katakan pada Shin Teil jika kau sudah punya pasangan, dia akan mengurus semuanya termaksud apartemen tempatmu tinggal.”
__ADS_1
Dia kaget, badannya terputar kebelakang. Memastikan tidak ada yang salah dengan kupingnya.
“Kenapa?” Tanya Lee Jong Seok.
“Tidak apa-apa tuan besar.” Dia kembali melihat kedepan, apa yang baru saja dia dengar dari sang pemilik kerjaan Lee itu apakah nyata atau hanya candaan semata, pikirannya mendadak full.
Lee Jong Seok tertawa kecil, sedangkan sang supir terlihat kaget juga kebingungan. Maih dalam keadaan yang canggung, Deora masuk ke dalam mobil terheran melihat suaminya yang tertawa.
"Ada apa?" tanya dia.
Pengawal itu juga sudah duduk di samping supir. Dia melihat juniornya terdiam dan pucat. Dia meminta penjelasan dengan kode mata tetapi bukannya jawaban yang dia dapatkan adalah wajah bingung juniornya. Beberapa detik saat Lee Jong Seok sudah bisa menetralkan ekspresinya dia berbicara.
"Aku memintanya menikah jika sudah punya pasangan, tetapi dia bingung." Ujar Jong Seok. Deora lantas menggeleng, ini lagi. Suaminya senang sekali membuat semua pengawal di kediamannya terkejut.
Pengawal yang menemani Deora turun tadi mengerti, semua pengawal baru di kediaman akan mendapat kejutan dari tuan besar. Biasanya, tergantung apa yang dibutuhkan oleh orang yang bersangkutan. Contoh adalah dirinya, Tuan besar Lee Jong Seok memberikan kebun untuk kedua orang tuanya di kampung sebab dia sudah beristri dan sudah punya rumah.
“Apa saya harus menemui Shin Teil tuan?” Tanya senior pengawal itu kepada Lee Jong Seok.
Yang berada dibelakang mengangguk. “Tanya, siapa namamu?” kepada supir barunya.
“Moon Ye Jun,”
“Pergi temui kepala urusan rumah tangga jika kau sudah punya keinginan.”
Dia diam lalu berterima kasih.
.
.
__ADS_1
.