
Darren sendirian di kamar, setelah pertemuannya dengan sahabat-sahabatnya, tidak ada lagi pesan atau sekedar panggilan menanyakan keadannya. Hyuk menyampaikan pendapatnya tentang perilaku mereka, dia mengerti betapa berartinya Valerie untuk Elena dan teman-temannya, wajar jika mereka marah atau kecewa terhadapnya dan Darren.
Begitupun Darren, dia tahu bahwa memberinya maaf setelah semua ini tidak ada artinya. Valerie telah tiada. Walau pernikahannya telah di ketahui, apa yang bisa berubah? Dia juga berpikir hal yang sama. Ketiadaan Valerie adalah jawaban.
Masalah kantor, telah di serahkan kepada CEO baru. Statusnya juga telah berubah menjadi Tuan Lee Seok Hoon yang lajang menjadi suami seseorang. Benar saja, sewaktu pengumuman pernikahan Darren di publish banyak media yang mencari tahu siapa pengantin wanitanya.
Selepas pengumuman, mereka kembali bekerja seperti biasa. Namun, departemen administrasi belum bisa bekerja karena masalah Pegawai wanita yang menyatakan diri sebagai wanita dari Darren Lee. Mereka mengadakan pertemuan dengan agenda pemecatan wanita itu, tapi Darren merasa itu tidak perlu.
Pemecatan di lakukan berdasarkan pasal-pasal yang dia langgar. Karena ini merupakan kesalahan pertama, dia akan mendapat teguran saja, itu pendapat Darren. Lantas Direktur yang bertanggung jawab telah mengambil keputusan bahwa pegawai yang berpura-pura sebagai kekasih Darren masih bekerja di bagian Administrasi tetapi mendapat surat teguran yang di sampaikan melalui HRD.
Darren melihat ponselnya. Seorang wanita tersenyum manis sembari memegangi perutnya yang agak membuncit. Foto itu diberikan oleh Nola, dalam ponselnya hampir penuh dengan Gambar Valerie. Darren tersenyum mengelus layar ponselnya. "Kalau di Ingat-ingat kau selalu tersenyum."
"Permisi, " Dari luar datang seorang petugas kebersihan.
Darren melihatnya dan mengangguk mempersilahkan dia masuk.
"Permisi, tadi di depan kamar anda ada seorang pria yang memberikan amplop ini."
"Seorang pria?"
Petugas kebersihan itu mengangguk. "Dia terburu-buru, jadi menitipkan amplopnya pada saya, " Dia letakkan amplopnya di atas kasur dan pamit pada Darren.
"Kalau begitu saya permisi."
Darren melihat amplop cukup tebal. Dia ragu awalnya tetapi pada akhirnya Darren membuka amplop berwarna putih itu. Di keluarkan surat dan beberapa barang dalam kantong plastik transparans yang dia kenali dengan baik. Sebuah cincin, seseorang yang telah mengisi hatinya. Valerie. Dan sebuah ponsel entah milik siapa itu.
__ADS_1
Terburu-buru dia keluar dari kamar dengan mengangkat infusnya mencari pria tadi. Dia berjalan jauh di lorong tetapi dia tidak menemukan siapapun. Darren naik ke lantai atas, tempat petugas keamanan melihat CCTV.
Pria itu tidak terlihat jelas, dia memakai hoodie abu-abu dengan topi di kepalanya. Darren meminta melihat CCTV di lobby, dia berharap mobil orang itu bisa terlacak. Saat itu juga Darren meminta Are menyelidiki pemilik mobil yang di kendarai pria tadi.
Kembali ke kamarnya Di dalam Hyuk sudah duduk di sofa dan melambai saat melihatnya. "Kau datang." Sapa Darren.
Mengangguk. Hyuk harus mengajar hari ini, ada kuliah yang tidak bisa dia lewatkan. Jadi dia pergi sebentar dan kembali lagi.
Darren menggelengkan kepalanya. Sahabatnya itu terlalu sering datang. "Kau bisa tidak datang terus?"
Hyuk terlihat ingin mengatakan sesuatu saat dia datang tapi selalu berujung dengan tangan kosong. Hari ini ekspresi itu semakin tegas, Darren melihatnya. "Kali ini apalagi? Kalau tidak ada jangan pasang ekspresi aneh itu." Kata Darren.
"Em, Darren dimana ponselmu?" Tanyanya membuat pria itu terheran.
"Kenapa memangnya?"
"Pesan suara? Jika itu soal pekerjaan ya. Kenapa memangnya?"
"Berhentilah bekerja. Dimana ponselmu coba aku lihat."
Tengah alis Darren berkerut, di antara keduanya. "Kau ini kenapa?"
"Lihatlah Darren, coba cari nomor baru!"
Darren heran tetapi dia mengikuti instruksi dari Hyuk. Dia memang mendapat pesan suara tapi dia tidak mengeceknya.
__ADS_1
"Cek lah, mungkin kau tidak akan terlalu sakit. Setelah kau mendengarnya, kau bisa melihat ponselku." Menunjukkan ponselnya di udara, kemudian dia menyimpannya di atas meja depan sofa. Hyuk keluar menunggu di depan kamar, duduk di sofa kecil.
Di dalam kamar Darren menekan icon di layar ponselnya. Lalu dia memakai earphones mendengar pesan suara yang di tinggalkan.
"Darr-en!" Lalu terdengar suara tangisan kecil.
Pria itu membeku. Ponsel yang dia pegang di tangannya jatuh ke kasur.
"Aku harus menemuimu tapi sepertinya tidak ada waktu. Bagaimana ini? Aku ingin memelukmu," Suaranya terdengar sengau. Dia berbicara sembari menangis.
"Sebe---" Valerie berhenti, suara kesakitan dari ujung sana membuat hati Darren hancur mendengar itu.
"Se--- benarnya, aku-h menyesal. Seharusnya sejak awal-- aku mengikutimu dan tinggal di Korea. Ka----u berniat melindungiku tapi aku hanya memikirkan karierku. Jika waktu bisa di ulang, saat perayaan selesai-- aku akan duduk di bangku pesawat yang sama denganmu. Sehingga, kau-- aku dan anak kita tidak akan menga---akhh ha, mengalami semua hal mengerikan ini, "
"Darren, jangan melupakan kewajibanmu. Kau harus ingat makan, jangan terlalu sibuk bekerja. Jangan bersedih terlalu lama, jiwa waktu tiba kau dan aku akan segera bertemu tapi----- jangan datang terlalu cepat, masih banyak yang harus kau lakukan. Sampaikan rasa terima kasihku pada ibu dan ayah, terima kasih karena merawat dan membesarkan suamiku dengan baik. Aku titip Leon, "
"Ah, aku---h hampir lupa. Jangan terlalu membenci ibumu, di--- ah dia benar, waktu itu aku berhutang padanya. Maaf belum sempat membalas kebaikannya. Juga sampaikan maaf untuk teman-teman kita, aku hanya tidak mengatakannya bukan berbohong saat kalian bertanya," Terdengar suara hembusan nafas Valerie berat, dia menahan sakit sembari berbicara.
Darren terkejut mendengar suara ledakan kecil agak jauh tapi cukup jelas dan suara jatuh yang memekikkan telinga, dia berpikir ponsel yang istrinya pakai merekam terjatuh. Sebelum terputus dia samar mendengar lirih suara Valerie mengatakan dia mencintainya.
Lalu --- tidak ada suara lagi. Panggilan itu terputus. Darren menjauhkan ponselnya dan tergelak saja di kasur tanpa dia perdulikan. Kakinya berjalan ke arah meja tempat Hyuk menyimpan ponselnya. Saat dia buka sebuah rekaman yang telah dia simpan menjadi latar.
Darren menekan tombol mulai, pelan-pelan dia dengarkan suara lirih itu hingga selesai. Tangannya lemas, dia duduk di sofa dengan ponsel yang masih di genggam di sampingnya. Kepalanya tunduk dan mulailah lagi bulir-bulir air mata jatuh tanpa henti. "Kalau kau begitu mengkhawatirkan aku kenapa tidak pulang bersamaku!?" Rasa penyesalan selalu datang pada saat terakhir. Lagi dan lagi kesedihan merangkak dari kegelapan memenjarakan dia di sudut paling jauh dan dalam.
.
__ADS_1
.
.