
Darren pamit kepada orang tuanya, dia terburu-buru karena Ho Young akan membahas masalah keluarga Wang. Ibunya marah, dia duduk menyilang tangannya. "Bu, nanti aku bawa Valerei main kesini lagi, aku ada kerjaan."
"Memangnya kalau kamu kerja Valerei tidak bisa di rumah ini. Biasanya juga kamu kerjakan, Ibu yang temani istri mu." Katanya merajuk.
Ayahnya memberi Darren kode agar dia pergi, biar masalah isterinya dia yang akan mengurusnya. Darren meminta maaf lalu pergi.
...🖤...
Ho Young terpukau dengan pandangan Istrinya sahabatnya. Setelah dia pikirkan dengan baik, istri Darren sangat menarik untuk dijadikan teman. "Sepertinya aku menemukan teman yang cocok untukmu." katanya, memberikan segelas jus kepada perempuan yang duduk di depannya.
"Jus? kau terlalu lama berada di darat!" Sindir Yun padanya. Dia melihat gelas dengan jus di tangannya. Terasa asing.
"Aku akan mengajakmu menemuinya nanti, sekarang bersiaplah."
Ho Young merasa Yun akan cocok berteman dengan Valerei, istri Darren. Selain mereka berdua adalah tipe yang sama, Valerei sangat bisa di andalkan. Dia menjadi tidak sabar.
"Aku tidak begitu tertarik dengan pertemanan. Apa yang berubah jika aku punya teman!?"
Tidak ada yang bisa memahami wanita ini selain Ho Young, itulah yang dia katakan dalam hati.
...🖤...
Berkali-kali Darren mengetuk pintu kamar Valerei tapi dia tidak mendapat respon apapun. Dia salah telah menyebutkan nama orang yang paling tidak ingin istrinya dengar. "Estela sialan!" Umpat Darren, Are melihat Han saat Bosnya mengeluarkan kata umpatan. Sedikit shock.
Sejak kepulangan mereka kembali ke mansion, istrinya berlari naik ke kamar dan mengunci pintunya. Darren menerka-nerka sikap istrinya seperti itu karena masalah mantan pacar yang keluar dari mulut Ho Young.
Tidak lama pintu terbuka menampakkan wajah Valerei tersenyum cerah. "Ada apa?" dia tidak tampak kesal sama sekali. Justru Darren kaget melihat barang yang di dorong istrinya keluar.
"Mau kemana?" Darren melihat koper besar yang berada di samping Istrinya.
"Kerja." Valerei melihat Darren. "Kamu lupa? aku ada dinas ke Jepang hari ini."
Se-enteng itu Valerei bicara? Aku sudah khawatir dia marah karena wanita lain, ternyata bukan karena Estela tapi karena pekerjaannya? batin Darren.
"Bukannya tadi kamu marah?" tanyanya terheran.
"Marah? siapa? aku? Ah kamu berkhayal, aku mana pernah marah!" Dia menggeser tubuh Darren lalu menggeret kopernya menuruni tangga.
Han sigap mengambil alih koper yang lumayan besar itu. "Terima kasih." Ucap Valerei.
"Valerie!" Panggil Darren.
Dia mengayunkan jarinya agar Valerei menghampirinya, susah payah dia kembali menaiki tangga. "Hem?"
"Perusahaan mu cuti!"
Mana mungkin perusahaan cuti, dasar! Valerei menggeleng, dia tahu Suaminya hanya bercanda. "Perlihatkan suratnya!?" dia di tantang.
Are mengambil amplop coklat dari balik jasnya. dan memberikan kepada Wanita di depannya. "Sudah jelaskan?"
"Darren aku tahu kau punya banyak uang, tapi apa tidak boros? menggaji banyak orang tapi mereka tidak bekerja?"
__ADS_1
Sungguh kehidupan orang kaya, dia yang terlahir dengan sederhana bisa mengerti apa.
"Aku ada pertemuan dengan Ho Young, kau ingin ikut?"
"Aku? tentu saja! Lego!" Bersemangat, dia meminta kopernya di masukkan kedalam mobil. "Kenapa kopernya di bawa?" tanya Darren.
"Tentu saja untuk kupakai! Sehabis bertemu dengan Ho Young bagaimana kalau kita berlibur? Oke! aku tahu kamu setuju." Lihat dia, batin Darren. Belum suaminya menjawab dia sudah mengatakan oke dengan lantang.
Sudut bibir Darren otomatis naik. "Apa istriku lupa kita harus menyelesaikan masalah Wang?"
Are dan Han saling pandang. "Senang sekali melihat Nyonya bersemangat." Nola datang dengan menenteng bunga matahari yang masih kecil di dalam pot.
"Nyonya!" Teriaknya, Valerei berada di atas mobil membuka jendela. "Nola, mana?"
Dia memberikannya pada Valerei, yang menerima bergembira memeluk bunga itu. "Hai mohon bantuannya. Tumbuhlah dengan baik!" mulai berbicara kepada bunga itu.
Istrinya mungkin sedang berada pada fase itu, pikir Darren.
.
Mereka sudah membuat janji akan bertemu di villa milik Ho Young. Darren memanggil semua temannya. Rencana kali ini harus berhasil.
Valerei masuk dengan di kawal banyak anak buah Ho Young. Villa ini terbilang terpencil, dia tidak akan membeli villa seperti itu walau dengan harga murah tapi untuk kepribadian Ho Young, Valerei rasa cocok. Mengingatkan dia hidup sebagai mata-mata.
Telapak tangan Valerei mendadak dingin saat melewati sebuah lorong, di genggam erat telapak tangan suaminya. "Ada apa?" Tanya Darren.
"Lorongnya aneh" Mendengar sesuatu yang menggelinding di belakang, dia berbalik. Tangan mereka terlepas hingga Darren membawa Valerei dalam pelukannya. "Jangan berbalik." Memperingatkan Istrinya.
Valerei memaksa melihat kebelakang. "Kau suka menonton film?"
Ho Young datang dengan seorang wanita. Pertama kali Valerei melihat wanita ini. Tentu saja, batin Valerei.
"Aku suka." katanya. dia mengalihkan pandangan, rasa penasaran dia juga teralihkan.
"Film bergenre trailer, itu kesukaanku, bagaimana denganmu?"
Ada yang mengganjal di tenggorokan Valerei, Ho Young memberitahu jawaban atas rasa penasarannya mengenai benda apa yang terjatuh tadi. Dia tidak suka genre film kesukaan Ho Young. Rasa mual melanda, Valerei berhenti dan membekap mulutnya.
Suami siaga, membawa dia ke toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Darren memijat belakang lehernya tapi Valerei menahan tangan Darren. "Aku tambah mual!" Otomatis tangannya terangkat.
"Tuan, air minum untuk Nyonya." Nola mengetuk pintu toilet.
"Tunggu di luar!" Sahut Sang majikan padanya.
...🖤...
Semua temannya berada di depan villa itu, Larry tidak berhenti menatap sekeliling bangunan di depannya. "Orang ini, bagaimana bisa hidup sampai sekarang?"
"Maksudmu?"
"Tidak, hanya bertanya."
__ADS_1
Seseorang datang membawa mereka menemui Ho Young. Perjalan itu akhirnya berujung. Wang tidak sabar melihat orang yang berani mengganggu keluarganya. Dia tidak akan memberi peringatan lagi, dia berjanji akan menghancurkan orang itu.
"Selamat datang" Sambutan hangat dari tuan rumah. Mereka duduk dan disuguhi dengan berbagai hidangan.
"Silahkan."
Senyum ramah di wajah tuan rumah, tidak mencerminkan pekerjaannya. Elena ngeri sendiri melihat itu.
Ho Young beralih melihat wanita yang berada di samping Rey. "Istrimu?" Dia melirik Rey
"Ya" Jawab Rey.
"Kudengar kau sudah punya anak, dia pasti manis sekali." Ho Young tidak berbasa-basi.
"Ya, dia mirip ibunya."
"Kurasa tidak. Anak itu mirip dengan Ayahnya." kata Ho Young yang dibenarkan Elena. Dia sudah melihat foto Leon, mengingatkan dia kepada Rey dulu.
"Darren dimana? dia belum datang?" Larry bertanya sembari menjelajahi ruangan dengan matanya. Tidak seburuk apa yang dia pikirkan. Rumah itu penuh dengan hawa pria.
"Dia sedang sibuk sekarang. Ah, kalian kenal Valerei?" Entah apa yang ada di pikiran Ho Young saat ini, dia bertanya seolah-olah tidak mengenal Valerei.
Larry merasa aneh atas pertanyaan Ho Young. "Valerei? Vaa? ada apa dengannya?"
"Tidak ada, aku hanya melihatnya beberapa kali." Katanya tersenyum.
Meskipun tidak sopan Ha Joon mengutarakan isi kepalanya. "Beberapa kali? Kau yang bekerja sebagai mata-mata untuk apa melihat Valerei?"
"Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak diketahui banyak orang." Sarat akan arti, perkataan Ho Young menjadi puzzle di kepala orang-orang yang berada di sana.
Yun baru datang membawa dokumen di tangannya. "Ini berkas tentang kelompok Hari. Kurasa, kau akan tertarik melihat ini."
"Kelompok Hari? mereka disini?" Tanya Ho Young melihat Rey, ketua dari kelompok itu adalah teman Rey.
Mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya saat dia menjadi seorang mafia. Itu sudah lama sekali." Rey tidak nyaman di sangkut-pautkan dengan orang itu.
...🖤...
Sementara di sisi ruangan lainnya, Darren membantu sang istri duduk di kursi sambil mengelus punggung Valerie. "Sudah lebih baik?" Tanya Darren.
Valerie mengangguk menjawab pertanyaan suaminya, dia menutup matanya dan bersandar di pundak Darren. "Darren, aku mengantuk." Katanya
"Mau pulang?"
Darren bertanya, dia bisa membatalkan pertemuannya jika istrinya merasa tidak nyaman atau lelah. Tetapi Valerie menggeleng. Darren meminta ketiga pengawalnya untuk menjauh beberapa meter darinya. Dia membenarkan posisi Valerei agar bersandar di dadanya.
.
.
.
__ADS_1