
Larry mengakui dia gagal menjadi teman. Semalam, sekeras apapun dia berpikir tetap tidak bisa menemukan alasan Darren menikah secara diam-diam. Lalu, wanita itu siapa dan kenapa bisa dengan santainya memanggil nama teman Darren dengan sebutan nama tanpa embel-embel penghormatan. Jika memang mereka tidak saling kenal itu terdengar aneh. Karena seseorang yang memanggil dengan sebutan nama saja bisa dipastikan dia adalah teman baik.
Sejak tadi, dia diam tidak melakukan pekerjaan apapun. Dalam pikirannya berkecamuk cerita yang ingin dia sampaikan kepada Sahabat-sahabatnya. Namun, dia masih ingin tahu detailnya. Apakah dia harus bertanya dengan gamblang atau tetap diam memperhatikan keadaan hingga dia memastikan semuanya benar. Memikirkan wanita yang bersama Darren sangatlah tidak tertebak, dulu wanita terakhir yang bersamanya adalah kakak sepupu Estela, Setahu Larry. Kalau kalian masih mengingatnya, Estela juga merupakan mantan Darren sebelum Lim Sujong.
Lim Sujong, model asal korea. Dia menjadi brand ambassador sebuah merek terkenal dari paris. Karena kepandaiannya dalam peragaan, juga kecantikan dan keanggunan serta tutur yang baik, merek luar selalu mencarinya, bahkan ketika itu dia mendapat empat tawaran sekaligus. Pada akhirnya dia tidak memilih salah satunya dan menjadi brand ambassador merek lokal. Lalu selama berbulan-bulan lamanya, dia menjadi wanita paling dicari. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, dia menajadi brand merek dari paris. Kembali dengan adegan seorang wanita yang menjadi pusat pertengkaran Darren dan Frederick? yah, wanita inilah penyebabnya.
Kalau Larry perhatian cara Darren berbicara, dia menjadi lebih santai, suaranya terlalu manis untuk didengarkan. Menemukan bahwa wanita yang bersama temannya melebihi Lim Sujong, Larry semakin penasaran. Tidak bisanya Darren selembut itu jika bersama wanita manapun bahkan dengan adiknya. Dia menjadi kakak yang super dingin. Larry melihat ponselnya yang mendapat pesan dari tetangga sebelaH bahwa dia akan menemuinya dikamarnya untuk membahaa masalah Keluarga.
Tidak berapa lama waktu berlalu, suara bell di depan terdengar. Anak buahnya berjalan ke arah pintu mempersilahkan Darren masuk. Mereka menunduk lalu mengantar Darren. "Kau terlihat berbeda." tiga kata itu mengundang arti ganda.
Darren juga menyadari. "Cobalah, kau juga akan berbedah!"
"Mencoba apa?"
"Apa saja! semuanya ada disini. Sudah kuminta pembatalan surat perceraian mereka ke pengadilan." FD kecil itu berpindah ke tangan Larry, dia mengambil laptopnya dan melihat semuanya dengan perlahan-lahan memindahkan gambar.
"Surat perjanjian mereka sudah direkam, lihat dokumennya!" saran Darren melihat dia hanya memperhatikan foto-foto.
"Ini benar-benar kerjaan Estela?"
"Estela tidak mungkin bekerja sendiri, ketua terdahulu kelompok HARI punya hubungan dengannya karena itu mereka ikut campur dalam urusan rumah tangga adikmu dan Ha Joon! Juga----"
Terdiam sejenak, Darren mengambil amplop coklat yang belum tersentuh. "Beberapa anggota pemerintah dan kelompok mafia ikut campur bukan tanpa alasan, mereka adalah sponsor Estela dan Lim Sujong."
"Maksudmu pria yang Sujong nikahi ada hubungannya dengan masalah keluargaku?" Larry tidak percaya apa yang dia dengar. Lim Sujong selalu menjadi primadona baik hati. Dimatanya.
"Seperti dugaanmu!"
"Beritahu Ji Hyo baik-baik! dia mungkin akan berakhir menerimanya bisa juga tidak. Kau perlu mengawasi mereka dengan baik!"
"Tentu saja!"
Larry menyerahkan semua kepada asistennya.
Sebelum melangkah menjauh Larry berbalik. "Setiap orang punya sesuatu yang tidak ingin diberitahukan kepada orang lain walau itu sahabat mereka. Tapi, ada yang tidak bisa dirahasiakan contohnya seperti pernikahan! Hal itu membuat kita kecewa. Kau berbeda, bukan pria berengsek sepertiku!"
Larry benar-benar pergi. Dia juga meminta tiket pesawat tercepat. Menemui adik dan iparnya lebih dulu adalah rencana pertama. Urusan Estela dan antek-antek nya akan dibahas setelah menangani yang urgent.
Meninggalkan Darren yang masih mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Larry.
__ADS_1
...🖤...
Nola mendatangi Valerie saat dia sedang merias wajahnya. Saat Nola mendekat, Valerie mulai tersenyum melalui cermin. Ketika Nola ingin bicara, Valerie meminta menunggu dengan mengangkat tangannya. Dia bergegas menyelesaikan riasan diwajahnya dengan cepat. Terlihat Nola yang gelisah, mengundang perhatian wanita yang memakai lipstik itu.
"Ada apa Nola?" dia hampir selesai.
"Nyonya, apa ada yang aneh beberapa bulan ini?"
"Aneh bagaimana?"
Valerie berhenti menacap bibirnya, dia berputar menghadap Nola masih dalam keadaan duduk. Kepalanya mendongak memperhatikan detail ekspresi pengawal pribadinya.
"Ada apa?" Valerie masih tersenyum. Nola jarang menunjukkan ekspresi seperti itu kecuali berhubungan dengan suaminya.
"Darren kenapa?" tanya dia lagi
"Ini obat yang biasa nyonya minum?"
"Obat apa?" Valerie mengambil botol obat ditangan Nola.
Dia melihat nama obatnya tampak asing. "Punya siapa?" dia tidak pernah melihat obat seperti itu di deretan obat yang Yu Ra berikan.
Valerie bingung. "Kalau jatuh, yah kembalilan ke orangnya, nanti dia cari!" dia menyadari Nola aneh, seharusnya dia mengambalikan barang orang lain yang terjatuh bukannya membawa barang itu kepadanya.
"Nyonya, tapi ini mirip dengan obat yang anda minum." bersikeras Nola, dia berbalil menuju kotak obat yang biasa Valerie bawa saat bepergian.
Di meja rias, Nola mengeluarkan isi dari botol yang Valerie punya dan obat yang dia pungut. "Lihat Nyonya, obatnya sama!"
Ekspresi yang ditampilkan biasa, tidak terkejut ataupun curiga. "Lalu? bukannya semua obat bentuknya itu itu saja ya?"
"Nyonya!" rengek dia.
"Kamu ini kenapa. Lagian, obat ini dan itu mirip apa masalahnya? kamu ini aneh-aneh saja."
"Masalahnya obat yang dibawa Are itu... " cukup lama hingga dia melanjutkan kalimatnya.
"Obat penguat kandungan!" Setelah Nola menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, barulah Valerie terdiam melihat kembali obat di atas meja.
"Obat penguat kandungan?" dia bertanya pada dengan suara kecil. Kepalanya mendongak lagi menatap Nola.
__ADS_1
"Memangnya Are sudah punya keluarga?" dia kembali tersenyum. Nola mengira Valerie sudah mengetahui maksud dia bicara. Ternyata belum.
Nola gemas, baru dia akan bicara pintu kamar terbuka. Terburu-buru, dia mengambil kedua obat yang dia taruh diatas meja dan menyimpannya ke saku jas.
"Ada apa Nola?" ujar Darren, ternyata sang suamilah yang datang.
"Nyonya meminta saya menemaninya tuan, karena tuan sudah datang jadi saya akan kembali!" Nola pamit, bergegas keluar.
Sementara Valerie merasa aneh dengan tingkah Nola, tetapi dia membiarkan saja tanpa memberitahu suaminya. Sebab, Darren bisa salah paham.
"Tidak keluar?" tanya Darren mengangkat Valerie dari kursinya, dia membawa istrinya kembali ke kasur.
"Baru mau!" seru Valerie. Dia tidak ingin berada di kamar seharian.
"Larry sudah pulang."
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Kalau Larry sudah pulang, terus kanapa?" Valerie ingin menggoda suaminya. Dalam hati dia tersenyum jahil.
Darren ingin memberitahu istrinya percakapan terakhir dia dengan Larry tapi melihat senyum merekah dia urungkan niatnya.
"Aku pikir, kamu mau pulang juga." balas Darren.
Valerie tertawa begitu saja. Darren disampingnya menatap dalam diam. Namun, sedetik kemudian Valerie terdiam karena gerakan spontan Darren. Dia menyusupkan kepalanya masuk kedalam baju Valerei dan berhenti di atas perutnya. Dia bisa merasakan nafas berat Darren dibawah sana.
"Darren?" panggil Valerie gugup.
Kecupan kecil diperutnya menandai berakhirnya adegan itu. Darren mengeluarkan kapalanya dan menatap mata Valerie lekat.
"Aku berharap, kita bisa segera memilikinya!"
Darren membawa Valerie ke dalam pelukannya.
.
.
__ADS_1
.