The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 96


__ADS_3

Pukul menunjukkan 4.50 pagi. Darren dan Valerie sudah selesai dengan rutinitas subuh mereka. Leon yang lelah masih tertidur memeluk boneka kucing kesayangannya.


"Aku kembali!" ujar Darren lalu dia pergi. Tidak ada hal lain yang keluar dari mulutnya kecuali kata barusan.


Melalui pintu belakang Darren keluar. Are dan Han sudah menunggu di luar begitupun pengawal Rey yang akan kembali berjaga.


"Terima kasih."


"Sama-sama Tuan."


Mobil mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalan. Tidak ada yang pembicaraan apapun selama itu, sementara Are dan Han sesekali melirik satu sama lain.


...----------------...


Mansion Lee


Para pelayan bekerja seperti biasa. Nola yang tidak ikut mengawal Darren hanya duduk memandang bunga di taman setelah menyelesaikan tugasnya, beberapa pengawal masih belum terbiasa melihat santainya menjadi pengawal Nyonya rumah.


"Nyonya tidak ada, enak sekali jadi Nola!" kata salah satu pengawal wanita pada temannya yang lain.


"Eh, jangan begitu. Nanti kedengaran sama pengawal khusus Tuan bisa di adukan kamu!" salah satu dari mereka mengingat.


Dia cemberut, Nola tidak pernah terlihat sibuk. Dia hanya keluar sebentar entah untuk apa lalu kembali dan duduk seharian di taman. Itu yang mereka lihat hingga muncul pembicaraan seperti iri dengan keadaan Nola.


Tetapi tidak bagi Nola, dia begitu khawatir terjadi apa-apa dengan Valerie tapi tidak bisa membantu apapun. Darren tidak membiarkan dia bertindak tanpa perintah, lokasinya akan terus di pantau.


"Nola!" teriak kepala pelayan Shin.


"Iya?" Nola menghampirinya.


"5 menit Tuan Darren tiba." katanya.


Mendengar itu Nola bergegas bergabung dengan pengawal lainnya.


Beep, beep.


Gerbang terbuka bersamaan dengan bunyi klakson mobil Darren. Mobil itu naik dan berhenti di depan tangga. Sang pemilik rumah turun.


"Selamat datang Tuan!" sapa mereka.


Darren mengangguk lalu dia masuk tanpa berkata apapun. Nola mengikuti langkah mereka di belakang Han.


"Bagaimana urusan kamu Nola?" tanya Darren.


"Tidak ada kendala tuan, semuanya sesuai dengan rencana anda." jelasnya.


"Pastikan itu bukan kata-kata belaka!"

__ADS_1


"Tentu tuan."


Darren diikuti Are naik ke kantornya sementara Han dan Nola berhenti di bawah tangga.


"Han," panggil Nola.


Han berbalik.


"Apa yang tuan lakukan?" tanya dia.


"Tanya sendiri kalau mau tahu." Han berjalan melewati Nola.


Wanita itu mengikuti langkah Han. "Apa tuan sudah bertemu dengan nyonya?"


Han berhenti begitupun Nola.


"Kerjakan saja tugasmu dengan baik, jangan sampai kesempatan yang diberikan tuan pada kita jadi sia-sia." ucapnya tegas.


"Apa-apaan dia." kesal karena Han mengingatkannya pada kenangan buruk.


Sementara di ruang kerja Darren, beberapa berkas masih berserakan.


"Apa yang dilakukan ibuku?"


"Tuan Frederick menemukan keberadaan mereka, mungkin 2 hari lagi mereka akan tiba."


"Apakah saya harus menghubungi tuan Frederick?" Are menunggu jawaban dari bosnya.


"Tidak perlu. Jika aku meneleponnya sekarang, dia akan berpikir kita tidak ingin bekerjasama."


Menunggu adalah hal yang penting.


Darren meminta Are keluar agar dia bisa beristirahat. Menatap dokumen di depannya dengan malas, pria itu memijat pangkal hidungnya lelah. Memikirkan banyak masalah yang dibuat oleh ibu kandungnya dengan alasan kebahagiaan anaknya, membuat Darren ingin menghancurkan ikatan itu. Tetapi ketika dia melakukannya, dosa yang akan dia tanggung juga tidak sedikit.


Selama bertahun-tahun dia sudah mentolerir semua perkara yang ibunya lakukan, karena perasaan bersalah tidak bisa melindungi hak hak wanita itu. Kejadian yang menimpa ibunya tidak satupun dari mereka yang lupa.


Adik perempuan dan laki-lakinya harus jauh dari rumah, meninggalkan kenangan buruk dan memulai kehidupan baru merupakan impian mereka. Sebagai kakak, Darren ingin keduanya mendapat ketenangan dan memilih hidup seperti yang mereka inginkan.


Tetapi semuanya hanya bertahan selama 20 tahun, setelah itu mereka harus kembali menginjakkan kaki ke nereka buatan ayahnya. Satu persatu dari mereka dipaksa memilih jalan berduri tanpa ujung, kembali pada penderitaan. Kehidupan bebas yang Darren perjuangkan untuk keduanya dilahap kekuasaan.


Kembali pada tahun *1995


Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun pada masa itu, bersama keluarganya sedang menikmati keindahan alam di sekitar kaki Gunung Songmi. Ayahnya yang seorang buddhis selalu menyempatkan dirinya untuk berdoa di Kuil Beopju.


"Kakak!" panggil seorang anak laki-laki lainnya berumur 6 tahun. Senyumnya tidak pernah luput, dia berlari memutari kakak laki-laki yang tidak memiliki ekspresi padanya.


"Ayah bilang jangan jauh-jauh, ayo kembali kak." katanya lagi tetapi dia tidak mendapat balasan yang pantas. Tangannya dihempas tidak suka.

__ADS_1


Darren adalah anak laki-laki tanpa ekspresi itu, dia berjalan meninggalkan adiknya yang akan menangis karena sikap kasar kakaknya.


"Pergi! berlarilah mengadu pada ibumu bahwa aku memukulmu, supaya ayah datang membalas dendam untukmu! Anak dan Ibu sama saja, tukang rebut!" katanya tidak memperdulikan bagaimana perasaan saudaranya.


"Apa yang kau katakan!?"


Suara itu, pria tidak tahu terima kasih!


Darren berbalik, dia melihatnya sama seperti melihat anak laki-laki itu.


"Nyaman sekali hidupmu, untuk memulai kehidupan baru kau membunuh kehidupan orang lain!" marah dia dan berjalan melewati pria tua yang sedang menatapnya kaget.


"Anak itu!"


"Sudah sayang, tidak enak dilihat orang." Istrinya menghentikan ketika dia akan mengejar Darren.


Yah, pria itu adalah Ayah kandung Darren, mereka pergi bersama guru wanita yang telah berganti status menjadi ibu tirinya.


Luka itu bermula dari 6 tahun lalu, saat ayahnya mengantar Darren ke playgroup. Disanalah tumbuh perasaan yang tidak seharusnya.


Ibu Darren hidup tanpa tahu kebenaran suaminya berselingkuh. Barulah tahun 1992, dia mengetahui perkara perselingkuhan itu membuat hancur diri dan keluarganya.


Depresi yang dia alami tidaklah sederhana, Rania melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali walaupun tidak ada yang pernah berhasil. Kedua adik Darren baru berusia 4 tahun, melihat semua yang terjadi pada ibunya.


Sejak itu, Darren yang merupakan anak sulung, menjadi benteng bagi keluarganya. Dia melindungi keluarga yang dihancurkan pria bernama ayah.


Bisa ikut pergi mengunjungi kuil hari ini adalah keinginan ibunya, wanita yang telah disakiti itu masih menyimpan perasaan dalam pada suaminya.


"Kau masihlah anaknya? anak!? Ibu bercanda!" mengulang kalimat yang selalu di beritahu oleh ibunya.


Darren melempar batu ke kolam di depannya. Tidak ada dari bagian dirinya yang tidak terbakar, air mata itu turun.


"Tunggu saja! aku pasti membalasmu!" sumpahnya melihat punggung pria yang memegang tangan kecil anak laki-laki yang mengaku sebagai adiknya.


Hidup dengan mengasihi ibunya adalah hal yang dilakukan sampai hari ini.


Rasa bersalah itu memeras jantungmu, masa masa sulit yang telah lewat tidaklah lewat begitu saja, itu benar-benar sulit bagi mereka.


^^^.^^^


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2