The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 41 : Mengunjungi Mertua


__ADS_3

Valerei berjalan cepat agar bisa pulang bersama Darren. Elena memintanya untuk tinggal, lalu mengajak Valerei melihat Anaknya yang sudah beberapa hari tidak dia temui.


Didalam kamar, Valerei tersenyum melihat Leon yang tertidur pulas memeluk bantal kesayangan hadiah darinya. Dia mencium pipi anaknya lalu pamit pada Elena. Sebelum pergi, Valerei berjanji akan menjemput Leon untuk bermain, hari ini dia beralasan bahwa ada pekerjaan yang harus dia urus. Karena itu, dia tidak bisa tinggal.


Di luar gerbang kediaman Wang, Darren menunggu istrinya di dalam mobil. Saat Are melihat ke arah spion mobil, istri bosnya keluar dari gerbang berlari kecil. Dia turun, berjalan ingin membukakan pintu belakang. Namun, Valerei mengangkat tangannya, dia diam terpaku hingga Valerei berada di samping pintu. "Tidak perlu Are, masuklah." Valerei membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil.


"Kau sibuk?" Tanya Valerei memakai sabuk pengaman.


"Tidak, kenapa?" Darren merasa deja vu. Dia buru-buru mencegah Valerei untuk bicara.


"Valerei." panggil Darren


"Hem?"


"Kita tidak ke mansion, orang tuaku sudah tiba dari Jeju. Mereka minta kita menginap di sana beberapa hari." ungkap Darren menatap Istrinya. Valerei mengangguk, dia menyukai kedua mertuanya, mereka baik dan penyayang.


...🖤...


Rumah mewah di tengah kota itu penuh dengan manusia yang mondar-mandir, sibuk menghias di segala sisi, mulai dari taman hingga ke dalam rumah. Seorang wanita paruh baya dengan kaos putih polosnya terlihat mengatur orang-orang itu, dia tidak bisa duduk saja melihat. Jiwa muda, dalam dirinya meraung-raung, mengakibatkan pergerakannya sedikit lincah dari biasanya.


Dia ingin membuat rumahnya terlihat seperti dalam dongeng, menunggu sang putri datang dan menyambutnya, agar dia betah dan tidak meninggalkan istana ini. Perasaan mendebarkan seperti itu.


...🖤...


Darren dan Valerei sudah sampai di depan sebuah rumah besar dengan gaya unik. "Ini? kita tidak ke Gangnam?"


"Tidak, mereka mengundang kita ke sini, rumah ibuku di Pyeongchang-dong."


"Wah, orang kaya luar biasa." Valerei terkagum melihat design yang tidak biasa. Sebuah mobil Genesis G90 Limousine hitam berhenti saat mereka masuk ke dalam rumah. Valerei kembali mundur dia menengok, matanya ragu mendapati Han dan Nola di sana. Mereka turun dari mobil.

__ADS_1


"Kalian?"


"Tuan meminta kami ke sini, Nyonya" Ucap Han sembari menundukkan kepalanya.


"Benarkah? Hebat. tapi itu?” Valerei menunjuk mobil lalu beralih melihat keduanya.


Nola tersenyum. "Tuan mengganti mobil anda."


"Diganti?" Valerei dengan cepat berbalik melihat suaminya, tapi orang yang dia maksud sudah tidak ada di belakangnya.


"Syukur Darren punya banyak uang, tapi apa tidak terlalu boros mengganti mobil baru dengan yang baru?" Tanya dia pada dirinya sendiri. Itu lebih seperti gumaman.


Valerei tidak bisa tidak kagum pada apa yang dia lihat, Gaya tradisional yang dipadukan dengan moderen sungguh membuatnya merem melek. Tiba-tiba perasaan itu datang, dengan mata membulat tampak lucu. "Darren, apa kita bisa tinggal di sini selamanya?"


Suaminya yang berada di sampingnya menjawab. "Boleh." satu kata saja membuat Valerei ingin terbang. "Waaahh.. asik" teriak dia dengan riang.


"Honey" Suara halus itu memanggil


"Ayo sayang " dia menggandeng Valerei masuk ke dalam


"Ibu, apa aku boleh tinggal di sini?" tanya Valerei melihatnya dengan mata kucing khas meminta dielus.


"Tentu saja! kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau. Ibu membuatkan mu bakso, Darren bilang kau suka bakso kan?" matanya berbinar, mendengar bakso membuat perutnya berteriak senang. Valerei mengangguk, kepalanya naik dan turun dengan cepat. Darren di belakangnya memperingatkan. "Valerei." Panggilan dengan nada khas Darren membuatnya berhenti saat itu juga.


Ibu Deora memperhatikan interaksi keduanya sangat menggemaskan. Darren tidak salah pilih wanita, batin Deora lega.


...🖤...


Mereka makan dengan tenang, tidak ada yang bicara saat makan, itu adalah aturan di meja makan. Valerei berpikir, pantas saja Darren tidak suka bicara saat makan ternyata ajaran baik dari orang tuanya.

__ADS_1


Selesai dengan santapan yang Valerei idam-idamkan belakangan ini, dia duduk selonjoran di sofa mengelus perutnya. Valerei menyadari belakang ini sering sekali mengelus perutnya, ada rasa yang menyenangkan dan hangat?


Darren duduk di sampingnya, sehabis berbicara dengan Ayahnya, Lee Jong Seok. Tangannya otomatis berada di atas tangan Valerei yang sedang mengelus perutnya, istrinya menengok ke kiri beradu pandang dengan suaminya. "Baik-baiklah" Ucap Darren, Valerei tampak sangat cantik, wanita yang dia nikahi tersenyum memperlihatkan giginya lalu Darren beralih mengelus kepalanya membuat pipinya memanas karena malu atas perlakuan itu.


Valerei kembali menonton tayangan televisi. Dia tertawa lepas, sketsa komedi yang dimainkan para pemeran itu lucu baginya. Saat itu juga Ibunya datang duduk di depan Valerei, dia membawa kotak misterius di tangannya.


"Sayang, lihat." dia meminta anak perempuannya melihat kotak yang dia bawa. Dengan patuh Valerei menegakkan punggungnya dan melihat itu di buka. Saat dibuka matanya menangkap berbagai perhiasan lengkap, jika dia menghitung ada lebih dari satu set perhiasan dan sesuatu berupa dokumen, entah isinya apa. Mata Valerei mengedip beberapa kali, lalu dia melihat mertuanya.


"Aku menyimpannya dengan baik sayang. Kakak ipar ku, ibu kandung Darren menitipkan ini padaku untuk diberikan pada menantu pertama keluarga Lee. Dia mengatakan, semua perhiasan dan dokumen kepemilikan tanah dan bangunan ini diberikan kepadanya oleh Ibu mertua kami, Nenek Darren. Berhubung Darren adalah anak pertama, juga merupakan cucu pertama, Jadi kau berhak memiliki semua ini. Ibu serahkan amanah ini."


Valerei melongo, semua itu sangat banyak, Dia pernah menonton film bajak laut yang merampok perhiasan di dalam peti, kotaknya tampak seperti itu, hanya versi kecilnya saja. Jika di menjualnya, dia akan kaya. Sekilas terlintas, betapa kurang ajar dia, tapi dia tidak akan melakukannya, pikirannya bercanda pada dirinya sendiri.


"Apa aku boleh terima?" Tanya Valerei kepada suaminya. Valerei, dia menunggu hingga Darren menjawab.


Darren diam mendengarkan Ibu Deora berbicara tentang harta turun temurun keluarga Lee, dia bahkan tidak berharap mendapatkan apapun. Hidupnya dan Valerei berkecukupan selama ini, dia bersyukur dengan itu.


Hatinya menjadi ragu, apa Istrinya harus menerima itu, amanah tetap harus disampaikan dan dilaksanakan, jika dia menolak maka dia akan membuat Ibu Deora tidak bisa memenuhi apa yang dititipkan kepadanya.


Valerei menggenggam tangan Darren. "Jika kau tidak ingin aku mengambilnya juga tidak masalah, aku hanya perlu menerimanya dan memberikannya kembali ke pada Ibu."


Darren menepuk-nepuk punggung tangan istrinya. "Tidak apa-apa. kau boleh menerimanya."


Valerei melepas tangannya dari Darren. Dia melihat Ibu mertuanya. "Ibu, Apa Ibu Rania bilang aku harus meneruskan harta ini kepada keturunan keluarga Lee selanjutnya?"


Ibu Deora menggeleng. "Tidak nak, tidak ada bahasa ibumu yang mengatakan itu, dia hanya menyerahkan harta miliknya kepadamu."


"Jika sudah diberikan, maka kau punya hak menggunakannya untuk apapun, termaksud menjualnya." Ayah datang dari balik pintu kerjanya, dia duduk di sebelah Istrinya menahan kekhawatiran Darren.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2