
Pria itu menatap anak yang marah sembari memukulnya. Dia jongkok menyamakan tinggi, lalu dia pegang erat bahunya. Ditatap lekat langsung dari mata ke mata. "Ayah hanya ingin bahagia." Setelah sang ayah menyatakan perasaannya. Anak kecil itu melepaskan tangan ayahnya yang berada di pundaknya.
Dia mundur, setiap langkah yang dia ambil ketika itu merupakan sumpah. Matanya menatap tajam erat layaknya elang yang siap menerkam mangsa dari atas langit. "Kau bicara seperti kami adalah sumber ketidakbahagiaanmu. Ibuku bersalah karena jatuh cinta pada pria sepertimu dan rela melahirkan anak-anak untukmu."
Anak kecil itu tertawa. Dia baru berusia 5 tahun tetapi hidupnya sudah begitu runyam untuk dia tanggung. Anak pertama yang harus bersikap dewasa sebelum waktunya. Mendengar ayahnya berbicara dengan bahasa yang mungkin akan dia ingat sampai besar dan menjadi trauma seumur hidupnya.
Sang ayah hanya terdiam mendengar anaknya berbicara. Pria kecil itu mencemooh pikiran dan tutur bahasa ayahnya. "Yah, bahagialah! Setelah kau berbahagia dengan mereka, jangan pernah datang dan menganggu kehidupan kami! Kau bukan lagi ayahku dan kita tidak punya hubungan apa-apa lagi! Sampai matipun aku tidak akan melihat dan datang ke pemakamanmu!"
Dia benar-benar melakukannya, itu mejadi kenyataan. Hanya sekali dia ikut bersama ayahnya dan keluarga barunya, itupun disebabkan oleh sang ibu yang memaksa dia dengan mengancamnya. "Nak, jangan seperti itu. Aku masih tetap ayahmu." Katanya sendu.
__ADS_1
"Ayah itu ketika kau berusaha melindungi keluargamu dari penderitaan rasa sakit dan kepahitan hidup. Bukannya menjadi alasan itu terjadi! Ibuku menikah dengan pria egois yang hanya memikirkan kebahagiannya saja. Aku, adik-adikku dan ibu hanyalah pajangan rumah."
Dia pergi.
Darren dari belakang menarik tangannt ke sepan ingin menggapai anak laki-laki itu tetapi kembali berubah menjadi asap putih yang menyebar lalu hilang di udara. Tinggallah dia dan seorang pria paru baya yang saling pandang. Darren melihat mata yang menangis itu berubah menjadi sosok gelap dan hilang.
Bunyi kring sepada membuatnya berbalik arah. Di sana pria paru baya tadi menemani anak laki-laki kecil bermain sepeda. Sepeda yang menggunakan roda tambahan untuk anak kecil yang ingin berlatih. Dia tertawa riang berbeda sekali dengan ekspresi wajahnya ketika bertemu dengan anak 5 tahu tadi.
Dingin itu membekukan, tangan hangat dari belakang merambah memeluk dirinya. Dia merasakan kehangatan merasuk melalui cela pori-pori kulit dan menyentuh setiap organ dalam tubuh. Bunga yang layu di dalam sana tumbuh mekar dengan warna yang indah.
__ADS_1
"Aku disini, jangan pergi terlalu jauh!" Kalimat yang keluar dari mulut wanita di belakangnya menariknya tiba-tiba ke suatu tempat yang terang. Semua kegelapan tadi sirna dan berganti menjadi taman-taman indah.
.
Darren sudah di tangani oleh dokter, dia dalam kondisi mengkhawatirkan karena ledakan itu. Are, Han dan Nola harap-harap cemas pada kondisi bosnya dan Valerie. Nola berharap perempuan yang di maksud pria tadi bukanlah Valerie melainkan orang lain.
Sementara para penyelamatan tadi tidak dapat menyelamatkan perempuan di dalam mobil. Mereka mulai mengidentifikasi identitas korban melalui otopsi. Sedang dalam operasi tertulis jelas di depan layar.
.
__ADS_1
.
.