The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 141 : Membuka tirai (2)


__ADS_3

"Wah, tidak bisa dipercaya! Aku dan Rey terlihat kekanak-kanakan. Bagus untukmu!" Ha Joon mengejeknya. Dia merasa jika marah dia seperti anak yang merengek karena sahabatnya mengabaikan dia dan tidak percaya padanya. Seperti temanmu mengajak temanmu yang lain makan di rumahnya sedangkan kau tidak, padahal kalian teman yang sama.


Rasanya benar-benar tidak nyaman. Ha Joon diam begitupun Rey. Mereka tidak tahu lagi bagaiamana mengutamakan perasaan setelah tahu Hyuk mengetahui rahasia itu sejak lama.


Ha Joon dan Rey seperti di kucilkan dari pertemanan. "Pilihan apa!? Darren menikah dan hanya kau yang tahu. Larry! Apa Larry tahu?"


"Seharusnya sudah tahu, tidak. Dia pasti sudah tahu!" Sambar Hyuk. Mendengar nama pria itu emosi Hyuk bangkit. Dia bersumpah, jika melihat Larry saat itu juga dia akan memukulnya hingga masuk rumah sakit. Ah, rumah sakit terdengar tidak pantaspantas untuk orang yang sudah merusak kebahagiaan sahabatnya.


"Apa-apan ini!"


Ha Joon tidak terima. Bukan bermaksud kekanak-kanakan tapi dia merasa tidak menjadi sahabat yang baik. Hyuk tahu sedangkan mereka tidak. Padahal status Hyuk dan status mereka sama. Justru lebih lagi bagi Rey.


Elena dan Ji hyo hanya mendengar tanpa berniat mengomentari. Mereka tidak begitu mengenal Darren Lee, tidak pantas ikut campur marah seperti para suaminya.


"Siapa yang kau nikahi sampai pernikahan itu harus dirahasiakan!? Aku benar-benar ingin tahu sehebat dan sekaya apa dia hingga Darren Lee, tuan Lee Seok Hoon pemilik Hill Group mampu berbohong!?" Ujarnya.


Darren mencemooh dirinya dengan ekspresi jijik. "Pria yang kau sebut sebagai pemilik perusahaan besar itu telah kehilangan istrinya."


Informasi tambahan menjadikan suasana senyap. Ha Joon bahkan belum cukup untuk marah tapi mendengar Darren dia terdiam lama sampai Rey buka suara.


"Apa informasi tadi tidak cukup? Darren bukankah kau membuat kami-- ah bagaimana aku bisa menjelaskan, aku terlalu pusing. Kau sudah menikah dan sekarang berpisah?"


"Ya," Singkat jawaban Darren.


Ji hyo yang sudah penasaran sejak tadi ingin bertanya, keceplosan. Dia kira sedang berbicara dalam pikirannya tapi mulutnya bergerak cepat mengatakan semuanya di depan. "Mengapa berpisah?"


Darren lagi-lagi mengejek dirinya sendiri. Menahan air matanya agar tidak tumpah. Pria itu merapatkan giginya membentuk garis keras, lalu otot di rahangnya menegang.


"Dia-- istriku mengalami kecelakaan ketika penculikan sedang berlangsung, dia menjadi korban." Darren menunduk dan mengeratkan genggaman pada sofa.


Semuanya bisa melihat kesedihan di mata Darren yang berubah menjadi merah dan ada air mata yang mengenang di sana. Jujur saja kata Elena dia tidak pernah melihat sosok Darren rapuh seperti hari ini.


Ji Hyo dan Elena meneteskan air mata. Dia belum mendengar semuanya secara detail, melihat Darren dan mendengar bahwa wanita itu telah tiada, pria itu melewati hari yang sulit. Wanita yang penuh rasa itu bahkan menguatkan Darren dengan kata-kata.

__ADS_1


"Semoga dia berada di tempat yang lebih baik."


"Dia pasti wanita hebat, kakak mendapatkan keberuntungan menikah dengannya. Sabar ya kak!"


Dan banyak lagi kata-kata motivasi dari keduanya. Bahkan Ha Joon dan Rey hampir tidak ingat soal kebohongan Darren karena reaksi kedua istrinya begitu besar. Mereka benar-benar sedih, hingga Leon si anak manis itu memberikan dia lembar tisu kepada masing-masing dari mereka.


"Siapa dia?" Tanya Rey. Itu yang lebih penting kata dia dalam hati.


"Han!" Panggil Darren. Han memberikan album foto besar pesta pernikahan mereka yang di adakan di Indonesia.


Elena mengambilnya lebih dulu, Ji hyo kepalang penasaran mendekat sedekat-dekatnya. Lembar pertama yang mereka lihat adalah foto Darren, foto itu ada karena permintaan Valerie. Lalu foto setelahnya Elena membeku. Ji hyo seperti belum menyadari ada yang aneh, dia tertawa.


"Wah, aku tidak tahu kalau ada dua orang yang sangat mirip." Dia mengambil salah satu foto dan memberikannya kepada suaminya dan Rey. "Cantikkan? Mirip ka Valerie. Wah, ini benar-benar seperti duplikat." Kata Ji Hyo semangat.


Lalu Elena? Jangan di tanya. Diam membeku, rona merah terkuras di wajahnya. Dia memucat.


Rey dan Ha Joon saling pandang dan melihat kembali foto di tangannya.


Setelah mengucap nama wanita yang telah menjadi istrinya. Baik Rey, Ha Joon dan Ji Hyo memandang Darren. Apa ada orang mirip wajahnya, kebetulan punya nama yang sama? Dalam pikiran mereka. Ekspresi mereka berbeda dengan Elena. Elena menyadari sesuatu yang janggal. Cincin di dalam kotak pada foto itu persis dengan cincin di jari manis Valerie. Cincin yang selalu dia pakai bahkan saat mandi, mencuci, apapun. Dia tidak pernah melepaskannya.


Dia tahu ada yang salah dari ini semua.


Elena berdiri, badannya gemetar, bibirnya tak mampu mengeluarkan kata yang jelas. Dia begitu shock. Suaranya pecah. "Apa maksudnya kak? Siapa yang pergi? Kenapa, kenap--" Elena melihat suaminya. "Sayang, aku salah dengar, salah dengar. Aku mendengar nama Kak Valerie!!" Teriaknya pada kalimat terakhir. Rey sudah berdiri memegang pundak sang istri.


"Ha! Kak Valerie sedang kerja, kenapa namanya bisa sama."


Bersamaan dengan Elena menyebut nama Valerie dengan sebutan kakak, Leon mengalihkan fokusnya dari tab di tangannya ke Mommynya.


AH HA HA HA


Dia tertawa, di sertai tangisan Elena. Semua orang melihat Darren meminta penjelasan atas kesalahan pahaman Elena.


"Wanita yang aku nikahi 6 tahun lalu adalah Valerie, Valerie yang kalian kenal. Mami Leon." Setelah dua kata terakhir di ucapkan Darren, Elena jatuh pingsan. Leon menangis di pelukan Darren, meraung-raung. Anak kecil yang kehilangan ibunya.

__ADS_1


Rey menangkap sang istri dan memeluknya. Sudut matanya berkerut, tersirat pertanyaan. 'Apa yang terjadi disini.'


Darren meminta Han memanggil dokter.


Mata Ha Joon melebar, rahangnya terkatup. Tangannya dia jatuhkan ke pelipis dan dia menariknya kepalanya ke bawah. "Ahk!!"


Ji Hyo menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. "Tidak mungkin, bagaiamana bisa! Oh tuhan!" Bibirnya gemetar.


Ji Hyo segera mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Hyuk melihatnya, dia bicara. "Kalau kau ingin menelepon Larry se-"


"Telepon lah, Larry juga sahabat Valerie." Potong Darren.


Hyuk heran, mengerutkan kening.


Ponsel Larry tidak aktif. "Kemana kakakku saat paling dibutuhkan!" Ji Hyo marah.


Ha Joon berdiri tiba-tiba, dia meneteskan air mata dan maju mencengkram kerah baju Darren. Postur mereka hampir sama. "Aku tahu kau bukan pria brengsek! Aku tahu itu tapi, bagaimana kau bisa menjelaskan apa yang terjadi saat itu, sialan!"


Darren tidak ada masalah. Bajunya di cengkraman atau dia dipukul sekalipun, dia telah menyiapkan semuanya, termasuk jika dia harus KO di tangan sahabat-sahabatnya.


Mengalirlah cerita awal hingga akhir Valerie berakhir di mobil Bin dan mengalami kecelakaan.


Pagi tiba, Darren sudah kembali ke rumah sakit dengan luka luar yang lumayan parah. Dokter sampai terkejut melihat perubahan fisik pasiennya.


Ibunya menangis.


Darren duduk berjongkok di depannya. "Ibu, aku salah! Mereka harusnya melakukan lebih dari luka ini. " Katanya menenangkan Deora. Deora mengerti, namanya saja ibu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2