
Darren tidak pernah berharap Valerei mengingat kembali apa yang terjadi saat itu. Lebih baik, semuanya tertutup sampai kapanpun.
Hyuk memandang dalam sahabatnya. Dia mengenal Darren sangat lama, baru kali ini melihat perasaan pria itu terluka karena wanita.
"Lalu kubur saja Darren!" kata Hyuk, dia sangat mengerti kegusaran Darren.
"Itu yang kulakukan!"
Hyuk menimbang untuk mengatakan sesuatu kepada Darren, dia berharap ucapannya tidak disalahpahami. Bukan niatnya ikut campur tapi dia ingin memberi saran karena itu dia perlu tahu kondisi hubungan keduanya. "Boleh aku bertanya?"
"Bertanya lebih baik." timbal Darren memberi izin.
"Hubungan kalian, sudah lebih dekat? Maksudku, kau tahu!"
Seketika wajah Darren menunduk, ada senyum tipis disana. Hyuk cukup paham apa yang terjadi. "Baiklah, kalau seperti itu harusnya sudah lebih baik!"
"Kau punya 2 opsi. Yang pertama, berbohong kepadanya sampai akhir. Katakan saja, dia hamil, minta Yu Ra menghitung bulannya sesuai dengan waktu sebenarnya kalian, yah kau tahulah. Aku tahu itu akan tampak tidak menyakinkan karena berbeda beberapa bulan tapi cobalah. Lalu yang kedua, bawa dia kepada ibumu tapi rahasiakan soal penculik itu, hanya beritahu dia soal kehamilannya disebabkan oleh ibumu dan dokter Han. Minta ibumu bekerjasama, bagaimanapun itu cucunya."
"Dua opsi dijalan yang licin, jika tidak hati-hati kau bisa tergelincir. Semuanya punya resiko, tapi lebih baik dari pada tidak memilih. Pikirkanlah, intinya biarkan Valerie tahu bahwa dia hamil. Kalau kau merahasiakannya lagi, dia akan bertambah curiga. Lebih parahnya, kau bisa kehilangan kepercayaan pasanganmu. Sebelum dia tahu dari orang lain! Itu lebih menyakitkan.”
Hyuk benar, dia juga sudah memikirkan segalanya. Semua resiko sama besarnya.
"Soal Valerie, tunggu saja. Dia bukan tipe yang akan meninggalkan mu tanpa alasan. Mungkin, kau melewatkan sesuatu yang penting."
Darren takut kejadian penculikan itu terulang. Dia mengusap wajahnya kasar. "Sebenarnya, Valerei mendapat teror sejak dia kembali ke Korea"
"TEROR?"
"Hm, penyelidikan ku tidak membuahkan hasil!"
Hyuk dibuat kebingungan, sebanyak apa musuh Darren?
"Aku dengar Ho Young membantu masalah Wang. Sepupunya, siapa namanya? Bin? Yah, dia. Dia masih dendam padamu? Padahal apa yang terjadi karena keinginan wanita itu. Tapi dari sekian masalah yang terjadi, sebenarnya aku lebih penasaran kenapa Frederick tidak tahu? Nola, tidak memberitahu dia?"
Yah, Hyuk juga mengetahui soal Nola yang bekerja di tempat Darren adalah mata-mata yang dikirim Frederick.
"Memotong jalan keluar informasi!"
"Pantas."
...🖤...
Valerie berada di kamarnya sedang membaca buku di perpustakaan mini. Bangunan ini menjadi tempatnya ketika berkunjung ke kediaman Kang Hyuk. Mereka biasa menyebutnya paviliun tengah, karena berada tepat di tengah bangunan utama yang mengelilinginya.
"Lapar,"
Valerie memegang perutnya yang sudah lapar, dia mengecek jam mengira malam telah tiba. Tetapi, jam di dinding masih menunjukkan pukul 2 siang. Dia baru saja makan 2 jam yang lalu dan sekarang seperti orang kelaparan.
"Wow, apa aku lupa baca doa tadi? Yang makan bukan aku mungkin!"
Bulu kuduknya merinding. Valerie berjalan keluar untuk mencari makan. Saatnya hunting.
"Halo Bibi"
"Halo Nona Valerei"
"Hyuk dimana?"
"Tuan sepertinya pergi kerja Nona, tadi Bibi lihat pakai setelan."
"Hari libur?"
"Bos-bos kan biasanya begitu, Bibi juga kurang tahu." dia mengakhirinya dengan tawa pelan.
Valerei mengangguk, dia sering sekali melihat Darren pergi ketika hari libur. Saat dia pamit ke dalam, bibi memanggilnya.
__ADS_1
"Nona! Tadi Tuan Hyuk bawa ayam goreng, udang sama kelapa muda. Ada di meja makan. Pesannya, harus dihabiskan!"
Mendengar berita menggembirakan, binar-binar itu muncul. Makanan aku datang, kata dia dalam hati. Setelah berterima kasih atas info penting, Valerie bersenandung masuk ke dalam rumah.
"Siang Nona." sapa para pelayan saat melihat Valerie datang.
"Siang!" balasnya.
Valerie melihat makanan di meja. "Semuanya harus dihabiskan?" dia berbicara untuk diri sendiri tapi pelayan mendengarnya.
"Tuan pesan harus dihabiskan Nona." mereka pamit agar Valerie dapat makan dengan leluasa tanpa merasa merasa terganggu dan canggung.
Setelah sesi makan siang untuk kedua kalinya selesai, Valerei berkeliling mansion. Walau dia sudah hafal semua area di rumah Hyuk, keinginan itu datang. Dia naik ke lantai 2, berjalan pelan sembari mengagumi keindahan mansion.
"Aku kira dia sedang jatuh cinta!"
Valerie mau tidak mau beranggapan seperti itu, sebab nuansa yang sekarang jauh lebih hidup dari sebelumnya. Dia menaiki beberapa tangga menuju balkon. Memegang handle pintu, sebelum tangannya bergerak, seseorang dari balik pintu itu mendorongnya ke arah Valerie. Beruntung Valerie menjaga tubuhnya dan bergeser ke sebelah dengan cepat. Dia cemberut. "Hyuk!" panggil Valerie sebal, dia hampir jatuh kebelakang.
Namun, bukannya Hyuk yang muncul malahan seorang wanita dengan balutan dress lilac berdiri di sana. Wajahnya dan wajah Valerie menunjukkan ekspresi yang sama. Terkejut.
"Anda siapa?" mereka tidak janjian.
"Hah!?"
"Hah!?"
Valerie diam begitupun wanita itu.
Dia melihatnya dengan seksama, mengingat-ingat semua mantan Hyuk, tapi tidak ada yang sama dengan wanita di depan itu. Wajahnya apa tidak terlalu mirip dengannya?
"Maaf, membuatmu kaget! Tapi anda siapa?" tanya Valerie. Wanita itu tidak menjawab, wajahnya terlihat bingung.
"Hem?" tuntut Valerie.
"Kamu bekerja disini?"
"Hmm, saya---“
"Ada apa?"
Valerie menganalisis, dia melihat pakaian yang dikenakan Anna, tidak tampak seperti pekerja. Apa dia pegawai kantor? tanya dalam hati.
"Pegawai kantor?" lagi, Valerei bertanya. Wanita yang bernama Anna menggeleng.
"Lalu?"
Dia diam lagi, tidak menjawab dan hanya menunduk.
"Halo?" Valerei menjadi tidak sabar tetapi kasihan mempergatikan wanita itu sepertinya takut melihatnya.
"Aku baik kok, bukan hantu." senyum Valerie berusaha mencairkan suasana. Namun, tidak berhasil. Wanita itu masih diam.
"Kamu siapanya Hyuk? Keluarga?" masih berusaha , lagi dan lagi dia menggeleng.
Hem, tanpak Mencurigakan! Valerie mengetuk jarinya di lengan sebelah kiri.
"Pacar? tunangan? istri?"
Wanita menggeleng untuk ketiga pertanyaan. Lalu, Valerie hanya meninggalkan satu pertanyaan, tetapi baginya hal itu tidak pantas untuk ditanyakan.
"Terus apa? tidak mungkin simpanan kan?" suaranya kecil, sangat kecil. Dia terbiasa berbicara kepada dirinya sendiri.
"Bukan!"
Valerei kaget dia menjawab, yang artinya suaranya terdengar saat mengatakan 'Simpanan'
__ADS_1
"Anu, bukan maksud saya. Maaf, saya bertindak tidak sopan."
Ada rasa tidak nyaman pada hati Valerie, dia telah bertindak semberono.
"Ah tidak apa-apa! pertanyaan anda, saya juga tidak tahu harus menjawabnya seperti apa." balasnya.
Itu lebih aneh.
"Kalau begitu, siapa yang membawamu masuk ke mansion?"
"Pria bermarga Kang mungkin!?"
Mungkin? dia tidak kenal Hyuk?
Valerei merasa wanita ini tidak berbohong, tapi kenapa dia ada di masion sementara dia sendiri tidak tahu siapa yang membawanya ke sini.
"Kamu tidak kenal dengan orang yang membawamu ke sini?"
Wanita itu mengangguk.
Valerie mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Hyuk.
"Orang ini?" tanya dia saat foto Hyuk diperlihatkan.
"Oh bukan! dia bukan orang yang membawaku!"
"Bukan?"
Apa yang terjadi? memangnya ada berapa orang bermarga Kang di kediaman ini. Dia hanya mengenal Hyuk saja. Ah ada, Andrew Kang, atau Drew Alinski Fernando K.
"Marganya Kang?"
"Ya, aku hanya mendengar dia dipanggil Tuan Kang."
Berita heboh. Valerie menarik orang itu turun tetapi Aira menahannya lengannya.
"Tidak bisa, Orang-orang dibawah melarangku turun!"
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu,"
Dia kembali.
"Kamar mu dimana?"
"Di ujung sana!" tunjuknya, Valerei tahu ruangan itu milik siapa.
"Kamar Hyuk?"
Orang asing tinggal di kamar Hyuk! Berita heboh, batin Valerei.
"Hyuk itu siapa? kamu menyebutnya sejak tadi."
"Hyuk itu pemilik rumah ini, temanku! Kau benar-benar tidak kenal? itu tidak mungkin, Hyuk tidak akan membiarkan orang asing masuk ke rumahnya apalagi sampai tingga di kamarnya. Kau tidak tahu saja, dia gila kebersihan."
Valerie ingin berbicara tapi suara seseorang yang berada di tangga mengejutkan dia dan wanita itu. Anna menarik Valerie masuk ke kamarnya dan bersembunyi di kamar mandi.
"Kau tidak turun kan!?" pria, suara seorang pria.
.
.
.
__ADS_1