The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 100 : Frederick


__ADS_3

Frederick menunggu hingga berjam-jam di depan rumah yang mereka tahu milik Dokter Han. Dari informasi yang diberikan anak buahnya, rumah itu sudah tidak ditinggali selama lebih dari 20 tahun, tetapi sekitar 2 minggu lalu rumah yang biasanya kosong mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan.


Dia tidak bisa menerobos begitu saja, tujuannya ingin berbicara secara baik-baik jadi dia harus menggunakan cara yang sama pula.


Saat mereka datang, jendela lantai dua terbuka, berselang beberapa menit tiba-tiba jendela tertutup, hal itu di sadari anak buah Frederick.


Kembali pria itu mengetuk pintu.


“Permisi!” sembari mengetuk pintu.


“Permisi, Dokter Han?”


Anak buahnya menyerobot. “Tuan, apa perlu kita dobrak?”


Pria itu menggeleng. “Tidak perlu, tunggu sampai besok pagi. Jika tida ada niat baik, aku akan menghancurkan rumah ini.”


Mereka yang berada di belakang Frederick mengangguk mengerti. Menyadari betapa mengerikan kata itu, mereka berdoa agar pemilik rumah segera sadar atas apa yang akan terjadi.


Malam semakin larut, beberapa masuk ke dalam mobil untuk tidur dan beberapa harus tetap berjaga agar orang yang berada dalam rumah tidak kabur.


Frederick bersandar pada mobilnya, matanya tidak bisa lepas dari jendela yang tertutup tirai tadi. Berharap agar pemilik rumah bersedia menjelaskan tanpa mengelak.


Dia hanya ingin mengetahui seperti apa kejadian yang menimpa Valerie, wanita yang telah menyelamatkan nyawanya, yang telah mengubah monster mengerikan menjadi seorang seperti Frederick hari ini.


Jika dia masih menjalani hidup seperti dulu, bagaimana bisa dia bertemu dengan kebahagiannya. Dia harus mendapat jawaban.


.


Kembali menjelajahi masa lalu.


Pria itu memegang bahunya yang terkena tembakan berjalan memasuki hutan, darah tidak berhenti membuat dia harus menekannya lebih keras.


Berhati-hati agar darah tidak terjatuh dan menjadi alasan dia ditemukan dengan cepat. Karena sudah sering mengalami hal serupa, Frederick tidak begitu khawatir, dia lebih tenang setelah banyak pengalaman membahayakan hidupnya*.


Di tengah jalan dia menemuka dua jalur. Memilih acak, Frederick mengambil jalan lurus. Mengetahui bahwa orang-orang itu akan segera menemukannya dia terus berjalan. Sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada yang mengikuti.


30 menit berjalan, wajahnya telah pucat, dia belum menemukan jalan keluar dari hutan dan kembali ke markas.


Frederick lelah dia bersandar di pohon besar, mengatur nafasnya untuk memulai kembali berjalan.


“Sama seperti sebelumnya?”


Suara dari jauh membuatnya berhati-hati. Pria itu turun beberapa meter dari tempatnya dan bersembunyi di semak- semak. Darah segar terus mengalir dari bahunya, rasa sakit itu semakin menyengat.


“Sebenarnya masih banyak, ada beberapa dokter dan perawat yang tidak ingin naik karena jalurnya terjal. Yah kita maklumi, karena masa lalu sulit di lupakan.” ujar perawat bernama Kim Hye Na.


“Saya pernah berpi--- siapa disana!?’ Wanita itu melihat ke bawah, dia merasa ada yang bergerak di semak-semak.


“Ada apa?” tanya Kim Hye Na.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, sepertinya aku kurang tidur."


Mereka berdua memutuskan melanjutkan perjalanan, akan tetapi setelah berjalan beberapa menit salah satu wanita itu berhenti. Indra penciumannya merasakan ada bau yang tidak asing.


Menyusuri bajunya dia melihat lengan baju sebelah kiri terdapat bercak darah.


“Kenapa? Oh, kamu terluka?”


“Tidak, ini…”


Dia mengingat sempat berhenti saat melihat semak-semak, lengannya bertumpu pada pohon besar.


“Mungkinkah, sepertinya kita harus kembali!” dia berbalik dan menyusuri jalan yang mereka lewati tadi.


Kim Hye Na mengikutinya walau dia tidak tahu apa yang terjadi.


“Ada apa?”


“Shttt,”


Dia turun ke arah semak-semak, membukanya secara perlahan. Seorang Pria tidak sadarkan diri dengan luka di pundaknya.


“Astaga!”


Terkejut keduanya, Kim Hye Na langsung memeriksanya.


Dengan sigap Hye Na melakukan pertolongan, kedua wanita itu membawanya ke desa kosong 7 meter dari tempat mereka.


"Kau baik-baik saja?" kata Kim Hye Na melihat Valerie memijat bahunya.


"Ya, aku baik"


Perawat yang sudah berpengalaman itu mulai melakukan perawatan. Dia melakukan transfusi darah karena orang itu banyak kehilangan darah. Luka tembak tidak hanya satu, tapi ada dua dibagian berbeda.


“Tolong sadarlah, semoga kau baik-baik saja!"


Setelah melakukan pertolongan di salah satu rumah desa kosong, Kim Hye Na dan Valerie menelepon bantuan untuk membawa pria itu turun gunung.


Semalaman mereka menunggu, keduanya bergantian untuk berjaga.


"Dia belum sadar?"


Hye Na mengangguk, belum ada gerakan apapun. "Kenapa dia bisa berada di gunung? apa yang terjadi padanya."


"Kita akan tahu saat dia bangun! kau sebaiknya tidur, besok kau harus shift pagi." imbuh Valerie mengambil tempat duduk Hye Na.


Dia akan menjaga pria itu sampai besok, kemudian Hye Na akan berganti kebetulan dia mengambil shift pagi di rumah sakit.


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 AM, wanita ini masih terjaga walau matanya sudah meminta beristirahat.

__ADS_1


Valerie berdiri berniat membuat kopi. Saat membuka kulkas mencari teman pendamping dia hanya melihat buah.


Keputusan untuk minum kopi akhirnya gagal. Tangannya dengan telaten mengupas buah itu dan memotongnya kecil-kecil untuk lebih memudahkan saat di makan.


"Mungkin dengan mengunyah, aku bisa menahan kantuk."


Mungkin, mencoba tak mengapa.


Sofa menjadi tempat ternyaman untuk makan dari pada kursi di samping ranjang. Dia berpindah dan mulai menyantap buah yang telah dia siapkan.


Semakin lama mengunyah, semakin mengantuk dia. Menyadari bahwa makan tidak membuat rasa kantuknya berkurang, dia menepuk-nepuk pipinya pelan, matanya yang terpejam dia buka selebar-lebarnya.


"Jangan tidur! aku tidak tahu kapan dia akan sadar, jika tertidur kemungkinan sulit di bangunkan."


Kakinya melangkah masuk ke kamar mandi, dia membasahi wajahnya sembari ditepuk tipis. Valerie menatap wajahnya melalui cermin, dia lelah.


Saat mematikan keran, suara menghangatkan indra pendengarnya. Dia membuka pintu dan menemukan pria di atas ranjang itu bergerak.


"Oh, kau sudah sadar?" katanya. Dia menekan tombol yang terhubung ke ruang perawat.


Beberapa detik, seorang perawat datang dan memeriksa. Dari belakang Valerie memperhatikan sembari berdoa untuk pria itu agar semuanya kembali normal.


"Bagaimana sus?"


"Dokter Kim masih dalam perjalanan setelah melakukan operasi di rumah sakit lain. Saya sudah memeriksa lukanya tidak berdarah, tidak ada indikasi apapun, aman."


Dia bernafas lega, Valerie berterima kasih dan melihat pria yang terbaring dengan wajah pucat, matanya sayu.


"Anda berada di rumah sakit, sa----"


"Bis..a saya ta..hu apa yang ter..ja..di?" terbata-bata.


Valerie memiringkan kepalanya. Apa dia lupa? dalam hati.


"Tidak apa-apa, anda hanya perlu beristirahat dengan baik." kata Valerie yang mendapat persetujuan dari pria itu.


Perlahan matanya kembali tertutup.


...🖤...


Frederick menyadari, dia tidak sedang marah melainkan dia khawatir.


“Aku hanya ingin bicara, tolong.” ucapnya pelan yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2