
Mansion of The forest, Valerei berada di ruang tamu, sejak pagi tadi ketiganya di minta keluar dan belum pernah kembali ke kamar. "Nyonya." Panggil Nola
"Hem?"
"Apa mungkin ini harinya?"
"Hari apa?"
"Tuan Darren datang!"
"Tuan mungkin sudah tahu ini jebakan, dia harusnya menolak kan?" tambah Nola.
Valerei mendengar Nola sembari menidurkan satu makhluk kecil dipangkuannya. Ya, saat dia setuju untuk bekerjasama, penculik itu membawa Yun kepadanya.
Lalu dengan enteng Nola berbalik dan mengejek Sen, pengawal Putra Mahkota. "Anda bisa kalah juga?"
Walau Sen tidak menjawab dia melihat Nola dengan tidak suka, harga dirinya seperti diremas dan di injak.
"Nola!" tegur Valerei.
Mendapat teguran keras, Nola akhirnya berhenti, padahal dia ingin melanjutkan kalimat panjangnya. Dia pergi ke dapurnya mengambil jus untuk Valerei, walau sedang menjadi tawanan dia tidak lupa dengan jadwal Valerei, seperti yang Darren katakan.
Nola melihat bahan-bahan yang berada di kulkas, terbersit ingin membuat tumis daging bawang bombai. Namun, mengingat tidak sedang rekreasi dia membatalkan keinginannya. Tangannya beralih ke deretan buah segar, dia menimbang akan membuatkan hus jeruk tapi buah pearl di sampingnya terlihat menggiurkan. Nola berlari ke arah Valerei dengan membawa kedua buah itu.
"Nyonya!"
"Hussstt! Kenapa Nola?" Suaranya dibuat rendah agar tidak menganggu Yun.
"Nyonya, kita ada Pearl dan jeruk, saya buatkan yang mana?"
"Pearl saja."
Nola mengangguk dan kembali bertugas meraciknya.
...đź–¤...
Darren sudah masuk ke dalam hutan lebat, di ujung pandangannya dia melihat ada asap yang keluar dari cerobong di atas rumah. Tidak menyangka jika di dalam hutan berdiri sebuah bangunan. Sudah lama dia tidak menginjakkan kaki ke tempat asalnya. Darren mengikuti tanpa banyak bertanya, sesampai mereka di halaman rumah yang cukup luas, dia diminta masuk mengikuti maid berpakaian putih.
Tidak bisa menebak akan dibawa kemana, Darren menganalisis setiap sudut rumah ini. Tetapi, tidak ada yang berbeda dari Villa pada umumnya.
"Silahkan!" Maid itu membukakan pintu kaca yang tembus ke halaman belakang, Darren bisa melihat ada bangunan tradisional di sana.
"Tolong ikuti jalan setapak ini, lalu anda bisa masuk ke dalam rumah di sana." maid tersebut pamit dan meninggalkan Darren.
__ADS_1
"Rumah tradisional? Nuansa yang tidak biasa!" Setelah berbicara pada dirinya sendiri, dia berjalan hingga berada di depan rumah yang di arahkan.
Cukup lama, dia berdiri memandang pintu di depannya. Karena ragu membuka pintunya dia langsung menggeser hingga bunyi diritan pintu kayu mengambil kesadaran penghuni dan berbalik melihat sumber suara.
...đź–¤...
Sementara di ruangan Valerie, Ketiga pengawal di dalam memandang pintu besar di depannya lalu beralih melihat Valerei. "Siapa?"
Seseorang mengeser pintu tanpa mengetuk.
"Tidak tahu Nyonya, sepertinya bukan orang di Villa ini, mereka selalu mengetuk jika ingin masuk!"
"Bukalah, berhati-hati!"
Han berdiri menuju pintu sementara Nola dan Sen melindungi Valerei yang sedang menggendong Yun. Tangannya sudah memegang handle pintu, Han mendorong pintu itu keluar dan dia terdiam.
Valerei melihatnya dari jauh. "Siapa Han?
...đź–¤...
Pintu di depannya perlahan menunjukkan celah, Darren mundur selangkah membiarkan pintunya terbuka sepenuhnya.
"SELAMAT DATANG!"
"Dimana istriku!?" langsung pada intinya, karena Pria ini sudah tahu rencanya, dia tidak perlu berbasa-basi lagi.
"Tidak menarik!" katanya lalu menguap yang dilebih-lebihkan, dia menatap Darren.
Pria itu melepas handle pintu dan membiarkannya terbuka lalu dia masuk ke dalam Villa dan duduk di sofa. "Kalau mau tahu, silahkan duduk, Kita belum mulai pestanya!"
"Dimana dia!?" tanya Darren tidak menghiraukan perintah Pria itu.
"Aish, kau ini sangat tidak menarik, sama seperti sebelumnya!" ekspresi wajahnya dibuat-kecewa
"Apa kita saling mengenal?"
"Mungkin tidak." Tertawa, suaranya membuat orang yang mendengar tidak nyaman.
"Apa yang kau mau?" Darren tidak bisa membuat istrinya berada dalam bahaya lebih lama lagi. Jelas orang ini berbahaya.
"Kenapa terburu-buru, apa kau takut istrimu kesulitan?"
Dia sengaja mengulur-ulur waktu, rasanya menyenangkan. Dia ingin melihat Darren putus asa dan memohon padanya agar istrinya dikembalikan. Menunggu waktu ini, sangatlah lama, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tersinggung dan membawa istriku! Kau bekerjasama dengan siapa?"
"Tebak saja! Bukankah semua orang selalu mengagungkan namamu? bahwa kau anak cerdas yang selalu sempurna!" Dia menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Seolah-olah ingin menyampaikan rasa ketidakpuasan dia terhadap Darren kecil.
"Manusia itu tempatnya ketidaksempurnaan, baik kau dan saya! Kita ini makhluk yang tidak mungkin sempurna. Kata mengagungkan itu hanya pantas untuk Tuhan!"
Darren bergerak maju. "Istriku tidak ada disana saat kau iri, jadi biarkan dia pergi!"
"Kau ingin menggantikan dia?"
"Dimana dia sekarang!"
"Berlututlah, istrimu akan ada disini jika kau melakukannya!" Dia tidak akan berhenti, sampai Darren mengakui bahwa dia bersalah padanya.
Penculik itu berpikir sebentar dan mengingat rahasia yang seharusnya tidak terungkap.
"Istrimu, apa dia sudah tahu?"
Darren mengerutkan sebelah matanya hanya sepersekian detik. Dia merasa Pria itu tahu banyak hal. "Kau bisa menyebut apa yang kau inginkan! Perusahaan? saham dan Rumah?"
Mencoba membuat pria itu terbuka, Darren mengatakan apapun yang akan membuatnya marah dan tersinggung.
"Mungkin itu masih kurang? kau ingin mobil, wanita? atau ----" tambah Darren yang sudah dipotong oleh sang penculik.
Gebrakan meja di hadapannya membuat senyum tipis Darren tersungging. "Kalau kau sudah memikirkannya baru kita bicara lagi! Kau mungkin butuh lebih banyak!" Hal ekstrim ini harus dia lakukan. Namun, tidak semua bisa berhasil.
"Sebaiknya kau tidak menambah luka seseorang!" Dia bergerak maju ingin memukul Darren tapi keahlian Darren bukanlah tipu daya.
Tangannya di genggam dengan erat. "Kalau kau ingin bermain denganku, jangan bawa istriku! Aku bisa menghancurkanmu, siapapun kau!"
Luka di lengan Darren belum sembuh, rasa nyeri itu muncul tapi tidak membuatnya mengendurkan genggaman pada tangan Sang penculik. Memandang langsung ke dalam manik-manik mata pria itu.
“Lautan itu dalam, kalau kau mau bermain-main denganku, mari lakukan dengan adil. Jangan mengancam orang lain seperti pengecut.” Erat, dia tidak pelepaskannya dan menggengam tangan itu lebih keras.
“Aku tidak mengancammu, ini hadiah” katanya, memerkan senyum kecil.
Darren melepaskannya hingga orang itu terhuyung ke samping. Dia tertawa, suara tawa yang menjengkelkan di telinga Darren. “Pengecut itu seperti apa yang klien mu lakukan. Tapi aku? Aku hanya membawanya untuk menyelamatkan dia dari orang-orang yang ingin menghancurkanmu. Seharusnya kau berterima kasih bukan malah memukulku.”
Lengannya di elus.
.
.
__ADS_1
.