
"Maaf, kakimu baik-baik saja?" tanya Larry khawatir kaki Valerie terluka karena ulahnya.
"Tidak apa-apa, jangan tanya lagi!" dia sudah menjawab pertanyaan yang sama berulang kali.
"Kau tidak perlu ke rumah sakit? aku telfon Yura ya?" Larry menarik Ponselnya dari saku celana.
"Larry, mungkin kau yang harus ke rumah sakit kalau aku memukulmu sekarang!"
Mereka tertawa kecuali Hyuk, Larry menampakkan wajah ngeri karena mendapat ancaman dari sahabatnya. "Baiklah, aku berhenti bertanya."
"Itu lebih baik."
...đź–¤...
Darren melihat dari jauh rumah yang di tempati sahabat beserta istrinya.
"Tuan Rey membawa beberapa orang berjaga di sekitar rumah itu tuan," ucap Are.
"Kita kesana."
Han mendengar intruksi Darren dan memacu mobilnya hingga 10 meter dari jarak mobil pengawal Rey, dia berhenti.
Are turun tanpa intruksi, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dia masuk kedalam gang sempit yang terhubung dengan gang persis dibelakang mobil pengawal Rey.
Didalam mobil pengawal mereka tidak menyadari kedatangan tamu.
TOK TOK TOK
Ketukan di kaca mobil pengawal Rey. Mereka saling memberi kode bersiap terhadap seragan. Pistol disalah satu tangan mereka sudah siap. Ketua pengawal itu duduk di depan, meminta anak buahnya yang berada di kursi tengah membuka kaca.
Perlahan kaca mobil itu turun, Are yang berada di luar mengangkat tangannya menahan mereka untuk menyerang dan menunjukkan identitas dia sebagai pengawal Darren.
“Kepala pengawal Lee Dong Jun?” kata pengawal yang membuka kaca mobil.
Lee Dong Jun adalah nama kecil Are, tidak ada yang memangginya dengan nama itu semenjak dia diadopsi ke amerika.
Satu-satunya yang bisa memanggil dengan nama itu hanya adiknya Lee Dong in, pengawal yang bertugas menjaga kediaman Rey.
Legah, menyimpan kembali pistol mereka. “Apa yang membawa anda kesini?” Tanya ketua pengawal Rey.
“Tuan Darren ada di belakang, tolong tahan komunikasi dengan Tuan Rey.” sembari menunjuk mobil hitam tidak jauh dari mereka.
Saat itu Darren turun dari mobil di damping oleh Han, mereka melihat dan bergegas keluar dari mobil memberikan hormat. “Tuan Lee Seok Hoon.”
“Tidak perlu turun, silahkan lanjut bertugas.” Kata Darren.
“Rahasiakan kedatang saya ke Jeju bahkan kepada Rey dan tolong beri sedikit kelonggaran untuk area belakang, hanya sampai besok pagi”
“Baik Tuan.”
“Terima kasih.”
Darren kembali ke mobilnya diikuti Han dan Are, tidak lama mereka pergi.
Ketua tim pengawal Rey melihat arah mobil Darren pergi. “Minta tim yang bertugas untuk berjaga di depan, pengawal Tuan Darren akan mengambil alih sampai besok pagi.”
__ADS_1
“Baik ketua!”
.
Didalam rumah, Larry dan Jihyo berdebat setelah Valerie masuk kedalam kamar.
Pertarungan argumen antara saudara itu membuat Hajoon geleng kepala.
"Aku menemui kesulitan!" katanya pada Hyuk di samping.
HA HA HA
Rey menertawakan Hajoon yang harus berdiri di tengah keluarga Wang.
"Bersyukurlah! lihat Hyuk, dia sendiri. Yang namanya saudara, kalau tidak bertengkar artinya mereka kurang akrab!" kata Rey.
"Hubungannya?" Elena tidak terlalu paham maksud suaminya.
"Hubungannya, karena aku sendiri! Tidak punya kekasih ataupun saudara!" balas Hyuk.
"Oh, itu bukan pujian!"
Larry meninggalkan Jihyo yang masih kesal. Dia pergi mengambil kompres dan menuju kamar Valerie.
"Mau apa lagi si Larry?" kata Rey melihat sahabatnya berjalan ke kamar Valerie.
"Apa lagi sayang, lihat kak Larry bawa kompres!" sahut Elena.
"Bukannya Valerie sudah bilang tidak apa-apa? dasar keras kepala!" lanjut Hajoon.
"Biarkan saja kak, kak Larry pasti khawatir." Elena sangat menyukai sikap Larry pada Valerie, dia cukup perhatian.
Melihat Hajoon dan Jihyo kembali ke kamar, mereka termaksud Hyuk juga beranjak. Membiarkan Larry sendiri dengan keberaniannya.
Sang pemberani kata Hajoon itu, mengetuk kamar Valerie pelan, dia berdiri hingga wanita itu membuka pintu. 1 menit kemudian, gerakan dari dalam kamar membuat Larry tersenyum.
"Larry?" heran Valerie.
"Oh, satu kali saja, aku benar-benar khawatir!" ujarnya.
"Hah? apa?"
"Ini"
Larry memberikan kompres kepada Valerie lalu dia tersenyum.
"Salahku, ambil ya! supaya aku bisa tidur." lanjutnya.
Valerie berterima kasih, dia tahu Larry pasti akan mengejarnya jika dia tidak mengambil kompres itu.
"Istirahatlah!" katanya dan dia pergi.
Setelah kepergian Larry, Valerie menutup kembali pintunya tapi belum beberapa detik ketukan pelan di pintunya kembali terdengar.
"Katanya satu kal--- Darren!?" menutup mulutnya, dia hampir berteriak keras.
__ADS_1
Kepalanya celinguk memastikan tidak ada orang yang melihat pria itu dan menarik Darren masuk. Tidak ingin mengambil resiko, tidak lupa dia mengunci kamar.
"Apa yang kau laku---" Belum selesai dia berbicara, ketukan lainnya terdengar.
Valerie membuka pintu sementara Darren berada di baliknya, dia disembunyikan agar orang yang berada di luar tidak melihatnya.
"Kenapa?" tanya dia pada orang yang mengetuk, itu Larry.
"Aku lupa, ini di oles setelah di kompres, kata Hajoon!" ucapnya sembari melihat ke dalam kamar Valerie.
"Oh oke, terima kasih!"
Larry masih diam, dia tidak beranjak dan hanya melihat ke dalam kamar Valerie.
Menyadari itu Valerie memanggilnga. "Larry?"
Yang dipanggil gelagapan, ketahuan mengintip. "Ah? Ya?"
"Terima kasih!"
"Oh oke, istirahatlah." Lalu Larry pergi. Dia memiringkan kepalanya, nampak bingung.
Berjalan hingga ke tengah ruang, Larry berhenti di depan cermin yang tergantung. Dia melihatnya tampak aneh memikirkan sesuatu yang terlihat buram tadi.
"Mungkin halusinasi!" menyudahi rasa penasaran dengan berpikir positif.
Sementara di dalam kamar, Valerie bernafas lega. Menatap suaminya. "Kenapa kamu bisa tahu?"
Yang ditanya hanya menaikkan alisnya. Valerie tersadar bahwa dia telah salah.
"Ah, tidak tidak, Itu pertanyaan bodoh!" Imbuh Valerie.
Sebelum Valerie berbicara, Darren sudah mendahuluinya. "Kalau kamu minta aku pulang itu tidak mungkin. Dengar, urusan keluarga Rey biar dia urus sendiri."
Apa yang orang ini bilang, dalam hati Valerie. "Urusan keluarga Rey? Kamu bercanda? Apa yang urusan keluarga Rey kalau aku jadi penyebab mereka mendapat masalah!? Kita keluarga bukan? Jika begitu, urusan apapun menjadi masalah bersama!"
Tidak mengerti ada apa dengan suaminya, dia yang begitu baik menjadi egois.
"Aku hanya ingin keluargaku baik-baik saja!"
"Aku juga, karena itu pulanglah!" minta Valerie.
Darren menatap Valerie lama. "Kau pikir Lim Sujong akan berhenti walau kamu lari dariku?"
Kaget, dia tidak mengetahui bahwa suami akan tahu secepat itu.
"Valerie! tidak ada yang bisa menghentikan orang ketika dia sudah membenci. Bahkan keluarganya saja tidak bisa menghentikan itu, bagaimana kamu bisa."
Darren memahami bagaimana sifat dari wanita yang pernah dekat dengannya. Jika dia menginginkan sesuatu, bagaimanapun caranya dia akan mendapatkan itu.
Istrinya yang terlalu sayang dengan Leon tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran, dan Lim Sujong mengetahui itu jadi dia mudah masuk ke dalam pikiran Valerie.
"Wanita licik itu!"
.
__ADS_1
.
.