
Mendengar teriakan keras membuat tubuh Valerei limbung ke depan, Darren dengan sigap menangkap istrinya dan mendudukkannya di kursi kerjanya. Dia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelepon hingga membuat Valerei seperti itu. Nomor tidak dikenal. orang itu menyembunyikannya.
Hampir saja Valerei terjatuh menghantam lantai keras yang dingin dan melukai dirinya. Dia melihat Darren mengangkat kedua tangannya, meminta untuk digendong kembali ke kamarnya. "Darren, ke kamar."
Darren menurunkan istrinya di kasur, membawa Valerei berbaring dan menyelimutinya. "Istirahatlah."
"Ponselku?"
"Nanti!"
Mereka diam, Valerei melihat suaminya yang memeriksa ponselnya. "Kau tahu siapa yang menelepon?" tanya Darren. Valerei menggeleng, dia memang tidak tahu siapa orang itu.
Darren menyimpan ponsel istrinya di atas nakas, mata Valerei mengikutinya. Saat Darren sudah menaruh ponsel itu Valerei akan mengambilnya. "Kau sangat kaget, apa yang dia ucapkan?" Ragu. Valerei membisu. tangannya perlahan turun, tidak jadi menjangkau ponselnya.
"Bawa ke sini ponselmu yang lain." Darren tahu istrinya baru saja membeli ponsel baru, yang dia pakai hari ini, bukan ponsel yang biasa dia gunakan.
"Dimana?" tanya dia lagi. Valerei tidak bisa menghindar, yang paling utama karena dia tidak berani, kali ini.
"Darren.."
"Tidak, jangan memanggil seperti itu. aku tahu kamu mau kabur lagi. Aku bukan tidak melihat, juga bukan tidak mendengar, apalagi tidak peduli. Aku membiarkanmu lolos kemarin-kemarin, karena kupikir kau masih harus berpikir dengan baik sebelum memberitahuku. Jangan lagi seperti itu, aku merasa tidak dibutuhkan." Valerei melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca, dia menyadari betapa buruk sikapnya belakangan ini.
"Aku juga tidak tahu..." menghapus air matanya yang jatuh. "Hampir setiap hari, dia mengirimiku pesan dan foto. Awalnya aku mengabaikannya tapi semakin hari semakin tidak bisa di abaikan. kau tahu, aku.."
"Aku berpikir, bagaimana menghadapi mu, setiap melihatmu rasanya itu menjadi sulit." Darren mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya. Sesekali menghapus air mata yang jatuh di pipi merahnya.
"Aku pernah mengatakan padamu, bahwa apapun bisa ku maafkan tapi tidak dengan perselingkuhan. Hari itu, aku menerima fotomu dan..." Valerei mengambil ponselnya dari laci paling bawah nakas samping tempat tidurnya. Dia memberikannya pada Darren. Darren melihatnya sebelum mengambil ponsel istrinya.
Wajah Darren bahkan tidak berubah, dia masih melihatnya, mengulir layar ponselnya sampai ke bawah, beberapa foto dia berdampingan bersama seorang wanita lalu ada beberapa lagu foto dirinya sedang bermesraan dan yang paling aneh menurutnya adalah foto dia dan perempuan yang sama sedang ‘tidur’ .
Mengerikan, editannya, batin Darren. Merasa bersalah karena istrinya ini cukup kuat menyimpannya sendiri.
Darren menatap mata Valerei. "Kau percaya?"
"Apanya?"
__ADS_1
"Foto-foto ini" dia menunjuk foto yang ada pada ponsel lama valerei.
"Aku tidak percaya fotonya."
"Lalu?"
Kilatan marah pada matanya, membuat Darren merinding sendiri. "Dia lebih tahu kau dibandingkan aku, itu membuatku marah dan... sedih." Valerei memperbaiki duduknya. "Kamu suamiku, kenapa orang lain lebih tahu. itu, aku merasa gagal jadi istri. Menjengkelkan!" Saking gemesnya dia mengambil bantal dan melemparnya ke depan hingga mengenai sofa.
Darren maju ke depan menggeser selimut yang menutupi istrinya. "Mau apa!?" tanya Valerei saat wajah suaminya sangat dekat dengannya.
"Jangan aneh-aneh." Valerei mewanti-wanti.
"Aneh-aneh juga kamu suka. Lagian aku suami, kamu istri. Lakuin apa saja juga sah." Ucap Darren
"Aku sakit!" tentu Darren ingat istrinya sakit. Dia menggoda saja. Siapa yang marah? Valerei, istrinya.
"Tadi kamu menangis, sekarang marah, nanti apa lagi?" Darren tertawa kecil memperlihatkan beberapa gigi putihnya. Dia mengelus dahi istrinya yang mengkerut sehabis marah.
"Nanti, aku pikir dulu mau apa." ujarnya menyingkirkan tangan Darren.
"Orang itu, kau mau bagaimana?" Valerei menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Foto dikamar itu?" Valerei menunduk memainkan jarinya, kebiasaan yang susah hilang.
"Katanya tidak percaya, sekarang masih bertanya, masalahnya apa neng?"
"Ya, kan cuma bilang, supaya kamu ingat. Masa begitu saja tidak boleh."
"Kamu mengingatkan atau memastikan aku benar-benar tidak ada hubungan dengan wanita itu?"
"Sambil menyelam minum air."
"Aku tidak pernah berselingkuh! kalaupun aku pernah nakal itu dulu. Kamu yang bilang kan? aku tidak butuh masa lalumu! Aku juga tidak butuh, sekarang kamu istriku, itu yang penting."
"Jadi?"
__ADS_1
"Aku akan bicara dengan Are, dan ponselmu aku sita untuk sementara waktu." Darren pergi ke bawah dia menuju tempat para pengawalnya tinggal. Darren bertekad mencari tahu siapa orang yang menelepon istrinya.
"Cari tahu identitas orang yang menelepon barusan." Darren memberikan ponsel baru Valerei pada Are, lalu memberikan ponsel lama milik istrinya yang berwarna gold pada asistennya. "Ponsel ini punya beberapa foto dan pesan dari nomor yang berbeda, cek semuanya."
Are melihat ponsel itu dan memanggil bawahannya. "Sampai detail" Bawahannya pergi setelah menunduk pada Darren.
Darren menepuk pundak pengawal sekaligus asistennya. "Are, tidak usah terburu-buru. kita lihat bagaimana dia ingin bermain."
...🖤...
Valerei menunggu Darren kembali, dia memainkan ponsel suaminya hingga dia ingat harus menelepon Elena. Saat mengambil ponsel lamanya, Valerei melihat beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan singkat dari Elena.
Valerei mencari nomor Elena di ponsel suaminya, tapi tidak ada kontak yang bernama Elena. Seketika dia mengetuk kepalanya sendiri, mengingat suaminya tidak akrab dengan Elena. mana mungkin punya nomor teleponnya. aneh kamu Valerei, pikirnya.
Dia ingin menelepon Rey, tapi sudah pasti Rey punya nomor ponsel Darren. Dia berpikir kembali ingin menggunakan telepon rumah, tetapi ketika dia berpikir tidak akan ada bedanya dengan menelepon menggunakan ponsel, Rey juga akan tahu. Dia kembali berbaring mencoba berpikir hingga tertidur
Beberapa menit, Valerei terbangun. Dia turun dari tempat tidur, berjalan agak cepat. panggilan alam yang tidak bisa dia tunda.
Merasa lega, Valerei keluar. Dia hampir mengumpat, jantungnya akan copot. Kalimat terakhir terlalu berlebihan. Darren berdiri di sana menunggu di depan pintu.
"Darren!"
"Kenapa?"
"Ya Tuhan, kaget aku."
"Kamu hampir mengumpat—“
"Maaf."
"Pakai ini sementara waktu, besok kamu beli sendiri." Darren memberikan ponsel pada Valerei. Istrinya ini tidak suka jika harus dibelikan. Dia lebih puas jika harus menjemputnya sendiri.
"Untuk apa beli lagi, ini juga ada" Dia menerima ponsel dari Darren. Valerei melihat ponsel milik Darren yang lain. Sedikit tersenyum, Suaminya tidak suka membeli ponsel dengan merek luar, dia lebih suka memakai ponsel yang dibuat di negeranya.
"Lagipula ponselku yang lama juga nanti kembali. Sayang uangnya kalau harus beli lagi." ucapnya lagi, Darren hanya mengangguk.
__ADS_1
...🖤...
...‘AKU TIDAK BUTUH MASA LALUMU, YANG PALING PENTING ADALAH KAU SEKARANG MILIKKU’...