The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 109 : Darren pikir sudah selesai


__ADS_3

Darren terbangun, setelah tidur nyenyak. Tidur di samping Valerie membuatnya lupa akan pekerjaan yang banyak. Rasa lelahnya meluap. Diraba kasur disebelahnya, tidak ada penghuni selain dirinya. Kosong. Pria itu bangun dan mengalahkan lampu menggunakan tombol di belakang nakas. Terang, dia tidak menenukan keberadaan sang istri.


Bergerak cepat memeriksa kamar mandi, tetapi nihil. Tidak ada tanda-tanda wanita itu berada di dalam kamar. Segera dia keluar dari kamar tidur memeriksa kamar sebelah tetapi Valerie tidak berada disana. Dia berjalan lagi dan merasa lega. Di sofa istrinya tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Mendekat, menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan. Hampir saja dia menelepon polisi. "Syukurlah, aku pikir kau pergi." Darren melihat sekeliling, dia mengangguk mengerti. Istrinya mungkin lapar.


"Kentang gorengnya tidak dimakan? Apa sudah kenyang? Atau moodnya tiba-tiba berubah?" Darren mencari jawaban sendiri


Ehm


Erangan terdengar. Darren membalikkan kepalanya kembali melihat Valerie.


"Aw!" Teriaknya masih dengan mata tertutup.


"Valerie? Hei bangun."


Dibantu istrinya bangun, Darren mengguncang bahunya pelan. "Sayang!"


Em


"Valerie?"


Mata yang sulit terbuka itu akhirnya menunjukkan eksistensinya.


"Hoon?" Valerie menunjuk wajah Darren, jari telunjuknya menyentuh hidup pria itu.


"Ow! Itu Hoon!" dia tertawa kecil.


Fuuu, Valerie meniup udara di depan wajah sang suami. Pria itu mengerjap.


"Hoon, Min hyuk, saudara!"


Hah?


"Sayang?" panggil Darren.


Istri kecilnya itu mungkin merasa bahwa dirinya masih dalam mimpi.


"Oh! Beraninya! Berlutut!"


Apa-apan ini, apa dia bermimpi menjadi raja? Darren menggeleng. Dia mengangkat Valerie, tiba-tiba. Membuat orang yang diangkat membuka matanga lebar. Kaget tentu saja.


"Mama!" teriaknya.


"Di Surga." Jawabnya ketika sang istri mencari ibunya.


Astaga. Apa yang terjadi?


Valerie mencoba memahami keadaan. Namun ketika sudah sadar, dia telah berpindah ke kamar. Melihat Darren yang duduk bertumpuh lutut di depannya.


"Lagi apa?" tanya Valerie.

__ADS_1


"Menurut kamu?"


"Mana aku tahu, bukannya tadi aku di sofa?"


Darren menggeleng sekali lagi.


Sudahlah, pikirnya.


Dia turun dari kasur mengambil remote AC dan menurunkan suhunya. Terlalu dingin, dia takut istrinya terserang flu. Lalu dia kembali berbaring disamping wanita yang berstatus sebagai istrinya.


"Tidur lagi, pagi masih lama."


Menarik dia agar berdekatan. Darren mengecup keningnya dan jatuh tertidur. Sementara orang disebelahnya mengatur nafas pelan, mukanya memerah.


"Aku tidak bisa tidur." mendongakkan kepala melihat Darren.


Enak sekali, dia bisa tertidur dengan cepat.


Valerie melonggarkan pelukan suaminya, dia bergerak ke samping membelakangi Darren. Tidak ada penolakan dari sang suami.


Karena kesal di tinggal tidur, Valerie memukul bahu suaminya dengan bantal.


"Kenapa?" Darren terbangun.


"Kau membangunkan aku dan sekarang malah tertidur? ayo bicara! Bisa-bisanya dia tidur sementara masalah kita belum selesai!"


Darren diam menatap istrinya masih dalam keadaan berbaring. Tunggu? di lupa atau pura-pura lupa, benar. Masalah mereka belum selesai. Hanya karena Valerie tidak menolak pelukannya bukan berarti semuanya berakhir.


Dia mengamati. Lama, lalu menghembuskan nafas berat.


"Aku sudah tahu sejak lama," wanitanya mulai berbicara. Dia menurunkan tangan, otomatis. menyimak kalimat yang selanjutnya akan keluar.


"Sejak kau meminta ku kembali, aku sudah tahu."


"Bag-- Bagaimana kau bisa tahu?"


Darren sangat berhati-hati.


"Hye Na, kau tahukan dia seorang perawat."


"Jadi dia sudah tahu sejak lama?"


"Dia? ah suaminya? tidak. Aku meminta Hye Na merahasiakan semuanya. Sampai kapanpun jangan memberitahu dia. Biarkan ini menjadi rahasia yang harus terkubur."


Memainkan kukunya, dia gugup.


"Aku seperti melupakan sesuatu, tapi tidak tahu apa itu. Hye Na membantuku menyelidi seorang, dia menemukan bahwa orang itu adalah asisten dokter. Jadi, aku menemuinya dan benar dia orang yang bekerjasama dengan ibumu. Dia yang membantu melakukan inseminasi buatan,"


Valerie membenarkan posisi duduknya.


"Dia bilang ada seorang lagi tapi dia tidak tahu namanya, seorang hipnoterapi. Apa ibumu membuatku lupa bahwa dia melakukan inseminasi buatan?"

__ADS_1


Darren terdiam, apa maksudnya? Valerie tidak ingat soal kejadian penyiksaan itu? Dia hanya tahu soal kehamilannya.


"Valerie?"


"Hem?"


"Kau lupa?"


"Lupa apa?"


Darren berhenti, apa yang harus dia lakukan? bagaimana dia akan menjelaskan ini? Dia berpikir bahwa Valerie sudah mengetahui semuanya.


"Apa aku melupakan sesuatu?"


"Sayang, kamu.."


Valerie menatap suaminya menuntut penjelasan.


"Valerie.."


"Ya?"


Bagaimana aku harus menjelaskan kepada istriku? Ya Allah. Aku tidak ingin ada kebohongan lagi tetapi jika dia tidak bisa menerima, kondisi mentalnya... batin Darren menangis.


"Kau bilang temanmu menyelidiki orang, dari mana kau tahu dia terlibat?"


"Asisten dokter itu? aku juga tidak tahu dia siapa, awalnya. Orang itu sering berkeliaran di depan rumah, tempat kerjaku juga playground Leon. Aku pikir, hanya kebetulan tapi pertemuan kita terlalu intens untuk dikatakan kebetulan."


Valerie menceritakan alasan dia menyelidiki orang itu. Dia juga mengatakan bahwa ketika mendatanginya, orang itu langsung mengakui alasan dia terus berkeliaran di sekitar Valerie tanpa mengelak. Sesaat, tubuh Valerie menjadi kaku, dia tidak membayangkan ibu mertuanya akan melakukan hal seperti itu.


Jujur saja, Valerie tidak pernah bertemu dengannya secara langsung. Hanya melihat foto, itupun tidak sengaja. Ketika dia mengepak barang-barang Darren, sehabis acara berlangsung. Jadi, dia tidak begitu mengenal sifat dan karakter ibu Darren.


Saat mereka menikah, Darren hanya membawa satu orang yang dia tuakan di dalam perusahaan. Dia dan Darren tidak punya hubungan keluarga, pria tua itu adalah teman baik kakek Darren. Lebih akurat, dia junior yang paling di sukai dan disayangi kakek. Bukan tanpa sebab suami Valerie hanya membawa Pak Kim, itu adalah permintaan Kakek sebelum meninggal.


Pria 80 tahun itu tidak pernah muncul setelah pernikahan Darren, beliau memilih untuk tinggal di pedalaman. Daerah terpencil, tepatnya tidak ada yang mengetahui lokasi sesungguhnya. Dia begitu misterius tanpa tersentuh.


Dia juga menjabarkan ciri-ciri dokter hipnoterapi yang di beritahukan oleh asisten dokter itu. Namun, sulit. Valerie tidak pernah menemukan siapapun ketika penyelidikan. Mata sayu, kulit putih pucat, rambut ikal pendek, tingginya sekitar 198 cm, berat 80 dan ada tanda merah di leher bagian atas dekat telinga. Tanda merah yang unik, bentuknya mirip bunga.


Sebenarnya, Darren berniat mengalihkan perhatian Valerie. Dia bertanya pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Sudah membayangkan skenario bagaimana istrinya berakhir menyelidiki asisten itu. Di kepala dia sudah punya jawaban.


"Jadi kau belum menemukan dokter yang melakukan hipnoterapi itu, sampai sekarang?"


Valerie mengangguk. "Itu bukan hal yang diperlukan lagi, aku sudah menemukan jawabannya."


Pria itu tersenyum kaku.


"Apapun keputusanmu, aku akan menerima semuanya. Jadi, jangan menekan dirimu. Kau dan bayi kita harus sehat."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2