
Bangunan itu tampak tua tetapi terawat, istana yang di bangun dengan kerja keras tentu tidak pernah mengecewakan. Halaman yang luas dengan bangunan utama yang berdiri di tengah dengan banyak bangunan kecil mengelilinginya walau jauh, menambah kemewahannya.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi?"
Pria itu menyilangkan kaki, duduk di kursi dengan bangga. Matanya menatap tajam foto besar yang tergantung di dinding. Dia menggenggam erat pengangan kursi.
Orang yang berdiri di depannya mengangguk dan memberikan beberap foto.
Dibuka satu persatu, tersenyum sinis. "Aku terlalu memanjakan dia ternyata!"
Tawa bergema memenuhi ruangan. Dia tidak menyangka, dengan segala kemewahan yang dia berikan tidak cukup untuk memenuhi nafsu wanita itu. Membawanya dari kehancuran, balasan yang dia terima sungguh mengharukan.
Cukup, dia tidak pernah mempermasalahkan apapun karena merasa bertanggungjawab terhadap kehidupannya setelah aksi bejat adiknya. Ternyata begini saja, pikirnya.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?"
"Apa lagi? biarkan saja! aku ingin melihat bagaimana dia merangkak kembali ke sini. Kau pergi ke china bawa Inha kembali."
Apa kau juga sama Inha? membohongiku dan melukai ikatan yang disebut keluarga?
Dia berharap Inha berbeda dari kakaknya. Dari semua bagian dari keluarga Lim, Inha lah yang masih normal. Dia memberi perhatian pada Inha bukan hanya karena dia adalah adik iparnya.
"Baik tuan."
...đź–¤...
Tidak bisa tidur, Inha merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Dia gelisah, memandang pintu kamar penginapan. Hujan di luar belum juga redah, masih enggan untuk beranjak. Semakin malam, hujan semakin lebat. Petir dan gundur beradu, membuat wanita itu menarik selimut membungkus seluruh tubuhnya.
Malam selalu membuatnya bertambah takut apalagi dalam keadaan sendiri seperti ini. Dia mencoba mengintip lewat sela-sela selimut, melihat pintu penginapan yang tertutup. Tangannya meraba nakas untuk mengambil ponselnya, dia mengecek pesan tetapi belum ada satupun chat yang masuk dari sang kakak.
Kekhawatiran datang padanya. Semakin dia pikirkan, semakin kacau pikirannya. Mungkinkah kakaknya gagal atau dia sudah berhasil lantas melupakan dirinya. Berusaha untuk menangkis perasaan buruk, dia mengirim pesan kepada sang kakak. Namun apa daya, sinyal tidak berada di pihaknya. Pesan yang dia kirimkan gagal terbang.
__ADS_1
Inha mencoba mencari sinyal dalam selimut. Ponselnya dia pindah-pindahkan untuk mencari kehidupan agar berfungsi. Saat tangannya keluar memegang ponsel untuk mencari sinyal suara guntir dan kilatan petir menyambar bumi dengan cepat dan keras. Karena kaget ponselnya terjatuh di lantai. Tubuhnya masih berada di dalam selimut, dilemma. Apakah dia harus mengambilnya atau dia biarkan saja.
Bruk
Inha menutup mulutnya, refleks terkejut bukan main. Mengeratkan genggaman pada selimut yang tadi sedikit tersingkap. Dia tidak lagi memikirkan ponselnya yang berbaring terbalik di lantai, dia berusaha untuk tidak bersuara.
Suara sepatu berjalan mendekat, dia bisa mendengar dengan baik. Lampu tidur membuatnya melihat siluet hitam berjalan dari pintu yang baru saja terjatuh ke depan. Beberapa orang telah menerobos masuk ke penginapannya. Inha gemetar, menutup matanya. Apa yang bisa dia lakukan dengan keadaan tubuhnya. Bagaimanapun dia menjerit dan berontak, dia tidak akan bisa mengalahkan kekuatan beberapa orang sekaligus.
Saat dia ketakutan yang ada di kepalanya hanya kaka iparnya. Dia harusnya mengambil ponsel yang tadi terjatuh, menyalahkan diri sendiri. Tidak lama selimutnya tersibak menjadi alasan dia berteriak keras di tengah hujan deras.
"Tolong!" teriaknya.
"Tuan meminta anda kembali!"
Suara pria berbicara mengabaikan teriakan Inha. Inha yang sadar dengan cepat mendengar panggilan orang itu.
Tuan?
Lim Inha membuka matanya perlahan. Dia tidak mendengar lagi suara gundur ataupun kilatan petir. Melihat orang yang berada di depannya, kakinya lemas seketika. Pengawal kakak iparnya berada tepat di sana. Dia baru saja berpikir akan memita pertolongan kepada kakak iparnya ternyata mereka adalah orang suruhannya.
"Nona?"
Panggil seseorang di samping Inha.
Wajah perempuan itu pucat, dia tidak bicara apapun sejak tadi. Pria di sampingnya terlihat khawatir.
"Kita ke rumah sakit!" teriaknya pada supir.
Tetapi Inha menghentikan.
"Kita kembali!"
__ADS_1
Dia merasa kasihan pada wanita ini, Inha terbilang baik pada mereka. Dibandingkan dengan sang kakak, Inha ramah dan baik hati. Memikirkan bagaimana Inha harus menanggung kesalahan, dia bergedik ngeri. Tahu bagaimana cara kerja bosnya, dia yakin Inha tidak akan selamat.
Perempuan yang duduk di sebelahnya memandang jalan sepi melalui jendela mobil. Matanya mulai berkaca-kaca, perasaan yang telah dia tahan akhirnya tumpah. Air mengalir deras turun ke pipinya yang memerah. Tidak ada isakan yang keluar dari bibir, dia menggigitnya dengan keras hingga rasa zat besi memenuhi ruang di mulutnya.
“Anda baik-baik saja?”
Memandang perempuan di sebelahnya, dia tidak pernah menyusahkan pelayan meski dia kekurangan. Sedangkan, Sujong adalah tukang perintah. Nenek sihir dalam cerita-cerita fiksi. Dia bahkan selalu memfitnah para pelayan untuk mendapatkan perhatian atau simpati dari sang suami. Tidak sedikit dari mereka yang dipecat hanya karena persoala sepele.
Orang itu mengerti posisi seperti Nyonya rumah banyak di idam-idamkan wanita manapun. Tetapi kini dia harus bertapuk tangan untuk Lim Sujong karena menghancurkan permainannya sendiri.
Kakak, aku sudah bilang! Kita akan jatuh, jika kau tidak menghargai apa yang telah kau miliki. Setelah aku meninggalkan china, baik aku dan kamu sepertinya tidak akan bertemu lagi. Selanjutnya tolong jaga dirimu.
Dia mengucapkan setiap kata di dalam hatinya dengan sungguh-sungguh. Sebelum menawarkan rencana, dia memahami resiko yang akan terjadi. Walau sudah mengetahuinya, dia tetap melakukannya. Dia juga berharap setelah ini berlalu, Sujong akan mengerti menghargai apa yang dia miliki.
Memahami karakter sang kakak dengan baik. Wanita itu tidak akan berhenti jika tidak ada yang menghentikannya. Berkorban itu tidak mudah, yang dia lakukan adalah berkorban untuk kebaikan walaupun akan berakhir di benci.
.
“Tuan, Nona Inha sudah turun dari pesawat.”
“Dia baik-baik saja?” tanya pria itu.
Asistennya mengangguk dengan anggukan ragu. Dia tidak tahu, apakah baik yang dimaksud bosnya. Jika itu soal tubuhnya yang masih utuh, tentu dia baik-baik saja. Tetapi dia mendengar sesuatu yang lebih mengerikan dari pada tubuh yang utuh, ialah hati yang terluka.
“Mungkin tidak tuan, Nona Inha menangis sepanjang jalan kembali ke inggris.”
“Bawa dia langsung menemuiku sebelum kembali ke kamarnya. Minta dokter siaga di kediamanku malam ini!” katanya lalu kembali fokus dengan computer di depannya.
Asisten itu mengangguk. Merasa kasihan dengan Inha, walau gadis itu adik ipar yang disayang tetapi kesalah kakaknya dan campur tangan dia menjadi sumber kemarahan bosnya.
.
__ADS_1
.
.