The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 111 : Deora & Lee Jong Seok


__ADS_3

Deora masih berada di thailand. Sebenarnya Thailand bukan satu-satunya negara yang sering dia kunjungi bersama suaminya, ada banyak lagi tempat yang biasa dia kunjungi seperti Swiss, Jepang, Indonesia, Vietnam dan Yunani. Bicara soal negara-negara itu, hal paling menyenangkan saat berada di Swiss dan Indonesia adalah penduduk yang ramah. Swiss juga dikenal sebagai negara bersih sama seperti Jepang. Jangan tanya jika menyangkut makanan dan minuman, beragam sekali dan tentu saja rasanya yang luar biasa enak untuk lidah mereka berdua.


Suaminya juga sangat menyukai mendaki gunung dan Deora suka menikmati harinya memandangi danau atau laut. Ketika dia mengunjungi Indonesia tempat yang sering dia datangi adalah pantai Geger atau yang biasa di kenal oleh wisatawan dengan nama pantai nusa dua. Walau tidak seterkenal pantai lainnya dan terbilang tidak terlalu ramai tapi dia dan suaminya merasa nyaman berada disana. Dia tidak pernah bosan untuk kembali. Negara-negara yang sering dia kunjungi adalah negara di mana dia bisa menikmati keindahan alam yang memukau.


Jika dia hitung sudah 12 kali menginjakkan kaki ke Thailand dan tempat yang paling sering dikunjungi adalah Villa di provinsi Chang Wat Prachuap Khiri Khan dan Surat Thani, Thailand. Namun kali ini mereka tinggal di rumah milik keluarga jauhnya yang berada di provinsi Trat. Rumah itu tidak pernah di tinggali sejak di bangun karena sepupunya itu tinggal di Bangkok. Tuntutan pekerjaan yang padat membuatnya harus melerakan masa liburan dan harus berada di sana sepanjang tahun.


Setelah berkeliling daerah itu, mereka kembali ke rumah dengan banyak pernak-pernik khas. Deora memeriksa ponselnya, beberapa hari dia menunggu kabar dari Darren tetapi anaknya belum juga menelepon.


"Sayang?" panggil suaminya dari balakang.


Selama di sana, suaminya aktif membuat taman kecil. Dia rajin merawat kebun yang dipenuhi sayuran dan beberapa buah kecil.


"Di dapur!" teriaknya agar pria itu mendengar.


Lee Jong Seok datang dengan keranjang penuh sayuran dan buah yang baru dipetik, dia tersenyum kepada isterinya lalu melirik masakan wajan. Keringat di wajahnya tidak kalah banyak, sang istri meminta dia untuk mandi sembari menunggu masakannya selesai.


"Buat apa?" tanya dia belum menghiraukan suruhan istrinya.


"Kesukaanmu. Tumis wortel dan buncis, ah aku menambahkan daging cincang."


"Sepertinya enak, aku lapar!"


Bagaimana tidak, sejak pagi dia sudah bekerja tanpa henti.


“Mandilah dulu, makanannya belum matang” kata dia lagi meminta. Istrinya kembali sibuk pada masakannya sementara sang suami duduk memandang wajah istrinya yang semakin hari semakin cantik.


Sang istri tersenyum memandang sekilas apa yang dia lakukan pria itu, dia menggeleng sebab perkataannya dihiraukan.


"Darren belum menelepon?" tanya Jong Seok, mengingat pembicaraan anak dan istrinya beberapa hari lalu.


Deora menggeleng. "Mereka baik-baik saja kan? aku khawatir! Apa sebaiknya kita pulang saja?"


Walau sudah besar, Deora tidak pernah melepaskan rasa khawatirnya pada anaknya. Jika tidak ada kabar dari Darren, dia akan sibuk mondar-mandir dan itu dapat mengundang rasa khawatir sang suami. Jong Seok ikut khawatir tetapi Darren sudah berjanji akan menelepon. Dia bukan anak yang akan mengingkari janji, Lee Jong Seok paham karakter anaknya.


"Tidak sayang, mereka pasti baik-baik saja." katanya mencoba menenangkan.


Deora mencoba menenangkan dirinya dan melanjutkan masakan yang hampir selesai. Saat masakan selesai dia matikan kompor dan mengambil piring saji. Suaminya sudah berpindah tempat ke meja makan. Mereka menikmati masakan itu penuh hikmat tanpa bicara. Setelah usai, Deora duduk di teras belakang sambil mengecap teh yang dibuatkan Lee Jong Seok. Pikirannya melayang dan suaminya tahu kemana dia bersarang.


Tangannya menyentuh pundak Deora sekali lagi menenangkan kekhawatiran yang berada di hati wanita itu, dia tersenyum mengangguk mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja, bahwa anaknya bisa melewati semua ujian ini dengan akal sehat dan hati yang teguh. Deora menggenggam tangan besar dipundaknya, dia berharap anaknya tidak terjatuh dengan semua yang terjadi padanya, kekhawatiran tidaklah benar adanya. Dia teguhkan semuanya dan menyerahkan pada takdir baik akan menyertai putra sulungnya. Dadanya terasa lapang sebelum telepon berbunyi. Perasaan seorang ibu tampaknya selalu mendekati, bunyi telepon Deora mengalihkan perhatian keduanya.

__ADS_1


Deora tersenyum melihat nama pemanggil.


"Nak?” Panggilnya setelah dia meggeser tombol hijau di layar


"Ibu!" Suaranya serak.


Deora melihat suaminya, hatinya teriris mendengar nada suara itu. Jong Seok juga melihat istrinya, ekspresi khawatir itu terlihat jelas. Dia mengeratkan pengangan pada bahu Deora dan berbisik. "Apa yang terjadi?"


Pertanyaan menggantung karena Deora hanya menggeleng. Belum tahu apa yang terjadi.


"Ibu!" Panggil Darren lagi


"Ada apa nak? ada apa dengan suaramu? kau sakit?" Tanya dia.


"Ibu!"


"Ya, ibu disini."


"Bisakah kau pulang? kami membutuhkanmu!"


Darren tetaplah anak kecil di mana sang Ibu. Deora menutup matanya, merasakan sesak yang datang menghantam dadanya. Darren selalu kuat tetapi kali ini dia menelepon dengan nada suara yang perih.


"Apartemen Valerie."


"Baiklah, kami mencintaimu!"


Dia menyimpan kembali ponselnya di samping piring penuh makanan.


"Apa yang terjadi?" tanya Jong Seok.


"Mereka sepertinya tidak baik-baik saja, kita pulang malam ini ke Korea!"


Deora naik ke atas, mengepak barang-barang yang dia beli untuk dibawa ke Korea. Kemarin, dia terlalu sibuk mencari oleh-oleh. Hanya milik Valerie. Dia bisa mengosongkan toko hanya untuk membeli pernak-pernik untuk menantunya.


Lee Jong Seok melihatnya di pintu.


"Tiketnya sudah dipesan, barangnya biar suruh orang untuk bawa,"


"Tidak, semua barang ini untuk menantuku." katanya tegas.

__ADS_1


Sang suami pasrah, Deora selalu membawakan menantunya oleh-oleh. Kadang-kadang, dia tidak membawa baju yang banyak karena harus mengisi kopernya dengan barang baru yang dia beli.


"Valerie harus beli lemari lagi kayaknya." ujarnya.


Deora yang mendapat sindiran halus hanya menaikkan bahunya.


"Kalau harus beli ya beli saja. Ah, apa aku saja yang belikan?"


Ide bagus, dalam hati Deora.


Dia berbalik menatap suaminya meminta persetujuan.


Hah? Baiklah. Istrinya tidak bisa diberikan ide, dia langsung mengiyakan semuanya.


"Konsultasi dulu sama Darren," kata dia akhirnya.


"Oke!" semangat menjawab.


Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di bandara. Deora yang menunggu diruang tunggu bisnis class melihat siluet seseorang yang dia kenal. Dia berlari keluar tetapi orang itu tidak terlihat lagi.


Dia kebingungan. "Apa aku salah lihat?" katanya pada diri sendiri.


"Sayang!" panggil suaminya.


"Hah?"


"Ada apa? kenapa disini tidak didalam!"


Masih celingak-celinguk. "Tadi aku melihat Rania!"


Lee Jong Seok tahu Rania tidak berada di thailand. Dia berpikir istrinya mungkin salah lihat.


"Sayang, Rania tidak ada disini. Dia berada di Jepang."


Ah benarkah? mungkin aku salah lihat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2