The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 37 : Berhasil, misi Valerie


__ADS_3

Jalanan sore itu terbilang ramai. Darren sudah khawatir. "Tolong dipercepat Pak Shin."


Rumah sakit Han Yun


Pak Shin menghentikan mobilnya di lobby rumah sakit. Darren turun di ikuti Are dan berlari sampai di depan pintu kamar rawat istrinya. Seketika emosinya naik, melihat dua pengawal itu keluar dari kamar Valerei. "APA YANG TERJADI!? SIAPA YANG MEMPERBOLEHKAN KALIAN MASUK KE DALAM!?" jangan tanya bagaimana reaksi keduanya, mereka kaget luar biasa. Darren bukan tidak pernah marah, mereka pernah melihat dan itu luar biasa menakutkan tapi kali ini lebih dari itu.


Dari dalam kamar, Valerei dapat mendengar suara bentakan keras. Dia berjalan keluar dan melihat dua pengawal itu menunduk, sedangkan orang yang membentak seperti akan memakan mereka.


"Darren!?" Valerei tidak pernah mendengar bentakan keras Darren. Dia benar-benar terkejut.


"Apa yang terjad--"


"Perutmu sakit?" Darren menjangkaunya dan menariknya agar dekat dengannya. Dia menggendong Valerei masuk kembali ke kamar.


"Are urus bawahanmu!!" dia memperingatkan kepala keamanan keluarga Lee agar lebih mengontrol bawahannya.


Valerei menahan lengah suaminya. "Darren jangan marah, mereka membantuku tadi. Kau marah karena apa? mereka masuk ke kamarku?"


"Kalau aku tidak marah, itu aneh namanya!" dia kembali membawa Valerei masuk.


Valerei memberi kode keduanya agar tidak terlalu khawatir, dia akan berbicara dengan Darren.


Didalam kamar, Valerei melepas perlahan tangan Darren. "Mereka cuma bantu. Aku panggil mereka untuk makan karena berterima kasih. Setelah itu mereka keluar, kasihan kalau makan di luar."


"Valerie! pengawalku tahu kapan harus makan. Mereka sudah punya jadwal dan aku tidak mungkin biarkan mereka kelaparan karena bertugas, itu zalim namanya."


Valerei menaikkan bahunya. "Minta maaf kamu sama mereka. Bikin orang sakit hati dosa tahu!" dia pergi ke kasurnya duduk dan mengambil buah apel dan memakannya.


"Melanggar perintahku untuk tidak masuk ke kamarmu tentu mereka harus dimarahi. mereka harus bersyukur aku tidak menghukum sesuai dengan peraturan yang Are buat."


"Kan aku yang minta, jadi mereka tidak bersalah!"


"Karena itu aku tidak menghukum mereka. Sebaliknya, kamu harus dihukum."


Valerei menghentikan makannya, dia melihat Darren. "Aku kan sakit? kamu tega?" Darren melihatnya dengan senyum miring khasnya, dia berjalan mendekati Valerei. "Jangan melanggar perintahku lagi. tidak apa-apa baik pada orang tapi jangan sampai membuat kesalahpahaman. Dengar?" Valerei mengangguk. Dia tidak berniat membuat orang salah paham, orang saja yang melihatnya seperti itu.


...🖤...

__ADS_1


Malam datang dengan cepat, Valerei berbaring membaca buku yang Darren belikan untuknya. Suaminya yang sejak tadi menunggu di sofa kini telah pergi untuk menemui klien. Wanita ini membuka kacamata baca dan menyeka matanya yang berair karena lelah.


Karena belum menemukan waktu untuk menjalankan misi rahasianya, membuat dia kesal. Seharusnya besok dia sudah pulang tapi Darren menghukumnya, dia memberitahu Yu ra untuk menambah masa pemulihan Valerei di rumah sakit.


Dia kembali membaca, mencoba serius tapi dibawah sana perutnya tidak bisa diajak kompromi. Valerei mulai merasa lapar, belum cukup 1 jam lalu dia makan, sekarang perutnya bernyanyi dengan riang meminta diisi.


Dia melihat makanan yang di sediakan Darren. Lagi-lagi dia tidak berselera, padahal dia memakan itu tadi dan tidak apa-apa, tapi saat dia melihatnya sekarang, dia merasa mual.


Valerei melepas kacamatanya, menyimpan buku yang dia baca. Dia berusaha tidur tapi tidak bisa, perutnya terasa perih. Lalu pergi mengambil telepon untuk menelepon Darren.


...🖤...


Darren berada di mansion setelah pertemuannya dengan klien, dia ingin mengambil baju gantinya dan beberapa keperluan Valerei. Saat dia keluar kamar, Are sedang berbicara dengan seseorang. "Tunggu sebentar Nyonya, Tuan baru saja turun." lalu dia memberikan ponselnya pada Darren.


Darren mengangkatnya, dia mendengar istrinya menangis. "Kenapa Va!?" tanya Darren


"Lapar!"


"Tidak berselera lagi?" Darren ingat, di kamar perawatan Valerei sudah disediakan banyak makanan.


"Mau makan bebek goreng buatan Nola."


"Mau makan di mansion, aku lapar!" walau suaranya serak habis menangis, kata-kata yang dia ucapkan lancar tanpa terbata-bata.


"Tunggu aku kesana!" Darren mematikan sambungan telepon itu dan menyerahkan ponsel Are. Tidak ada yang mudah, semenjak Valerei mengalaminya dia menjadi seperti orang yang berbeda.


...🖤...


Valerei berada di kamar mandi, dia menangis. perutnya lapar. Dia membayangkan makan bebek goreng yang di masak Nola. Valerei sempat berpikir kenapa dia menjadi aneh soal makanan lalu dia mengingat mungkin dia telah rindu pada Nola.


Dia menghapus air matanya dan membasuh wajahnya yang sudah bengkak dan memerah karena menangis. Valerei keluar kamar mandi dan melihat Darren yang baru saja masuk. "Darren." panggil valerei pelan. Dia berjalan dengan cepat memeluk suaminya.


"Mau makan bebek goreng tapi buatan Nola." dia menenggelamkan wajahnya di dada Darren.


"Are sudah minta Nola memasak bebek goreng yang kau mau. tenanglah." mengelus kepala istrinya .


"Mau lihat! aku mau makan tapi mau lihat Nola yang masak langsung." Dia bersikeras, membuat darren tidak tega.

__ADS_1


"Baiklah, ayo ke mansion." Sikapnya yang dingin selalu meleleh karena Valerei. Dia menjadi tidak sabar menunggu saat yang akan datang bersama keluarga kecilnya.


"Are, tolong urus semuanya." Dia menggendong Valerei keluar dari kamar perawatan menuju mansion.


...🖤...


Mobil Bugatti Veyron berwarna hitam terparkir tidak jauh dari mansion Darren. Pria mengenakan Topi dan hoodie berwarna hitam memperhatikan setiap gerak-gerik penghuni rumah besar perpaduan putih abu-abu itu. Saat dia melihat mobil yang dia kenal masuk ke mansion, sudut bibirnya tertarik keatas, dia tersenyum. Setelah memastikan mobil penghuni mansion masuk sepenuhnya, dia menyalakan mobilnya pergi dengan janji akan kembali.


Jika sudah berjanji pasti akan kutepati! Aku akan pulang setelah memenuhi janjiku.


...🖤...


Saat Valerei memasuki mansion, dia disambut dengan senyum para pegawai suaminya. "Silahkan Nyonya."


"Apa Nola di dalam?" tanya dia.


"Nola ada di dapur, sedang memasak makanan untuk anda." ucap kepala pelayan itu membuat Valerei berlari kecil dengan riang, layaknya anak yang baru saja pulang sekolah dan mendengar ibunya sedang memasak makanan kesukaannya. Betapa bahagia dia.


Darren melihatnya tersenyum tipis. "Jangan berlari!" mendengar ucapan suaminya dengan nada perintah yang jelas, dia berbalik dan mengangguk lalu berjalan dengan pelan.


Dia sudah berada di dapur, melihat Nola yang sibuk membelakanginya. "Nolaaaaa!!" Suaranya terdengar bahagia. Siapapun yang mendengarnya akan tahu betapa rindunya dia melihat orang yang dia panggil.


"Nyonya!" Nola berbalik kaget, dia pikir Darren tidak akan mempertemukannya lagi dengan Valerei.


"Kau kemana saja! aku merindukanmu!" Dia memeluk Nola. "Kau dan Han membuatku khawatir."


"Maaf Nyonya, kami sedang melaksanakan tugas lain." Ucap Nola tidak enak. Valerei mengerti, Darren yang menggaji keduanya tentu saja harus ikut perintah. "Jadi kau dan Han sudah pulang? lalu dimana Han?"


"Han masih dalam tugas Nyonya." Dia hanya bisa mengatakan itu, dia juga tidak tahu apa dirinya masih bisa menjadi pengawal Valerei.


"Benarkah? baiklah, nanti kita pergi memancing lagi saat Han kembali. ayo aku lapar." Dia menggandeng Nola menuju dapur.


Rencananya belum dia susun, tapi semuanya berjalan alami. Dia kembali ke mansion, sangat menyenangkan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2