The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 67 : Marah lagi, sensi lagi.


__ADS_3

Valerei masuk ke dalam kamar diikuti Darren dan ketiga pengawalnya, dengan kasar dia menjatuhkan dirinya disofa. Melihat tingkah barbar istrinya, Darren menegur dengan nada rendah. Sayang, bukannya mendapat respon positif dari Valerei, malah wajah sinis istrinya yang terpampang. Awalnya, Darren biasa saja, dia berusaha tenang. Tetapi sepertinya Valerei akan puas jika sudah membuat Darren marah. Kebiasaannya beberapa bulan terakhir.


"Mantanmu it---"


Darren memotong. "Va, tidak baik membicarakan masa yang sudah berlalu."


Lalu dia melihat Nola yang berdiri di samping Valerei. "Nola bawa istri saya istirahat!"


Nola mengangguk, menunduk ingin membantu Valerei berdiri tapi tangannya didorong menjauh dengan pelan. Dia menatap sinis suaminya. "Kenapa? kau tidak suka mantanmu di jelek-jelekkan? cih!"


Lagi, Darren menghela nafas, samping bibirnya berkedut ingin mengatakan banyak hal tapi percuma katanya, istrinya ini sedang tidak bisa diajak kompromi. Jika sudah datang masa itu maka Darren harus lebih bersabar. Pikirannya tiba-tiba terbang ke masa lalu. Andai saja waktu itu dia bisa menolong istrinya. Rasa bersalah itu kembali menghampirinya.


"Tidak seperti itu, kamu baru saja terbebas dari Bin, sebaiknya istirahat." Darren mencoba menjelaskan agar istrinya paham. Tetapi wanita yang telah terlanjur kesal siapapun tidak bisa menghentikannya.


"Ah, bilang aja kamu kasihan! Kalau mau balikan sana!" Kalimat terakhir diakhir dengan teriakan Valerei.


Balikan?


Darren berdiri mengancing jasnya, berniat untuk keluar dari ruangan ini. Baru saja menemukan istrinya lalu sekarang harus dihadapkan dengan pernyataan sepihak Valerei. Menahan emosinya yang akan keluar sembari menatap mata Valerei.


"Valerie nanti kita bicara saat emosimu sudah stabil ya?" Ujar Darren, senyum tertahan itu tidak bisa disembunyikan.


"Lagipula!" Sahut Valerei lalu berhenti. Kedua tangannya saling menggenggam.


"Kita tidak pernah berhubungan i--" Kalimat yang akan dia selesaikan akhirnya hanya menggantung saat Darren tegas bersuara. "Apa yang kau bicarakan!"


Darren berjalan mendekati dia dan memegang kedua pundaknya. Valerei sempat mundur tapi, cengkraman tangan Darren membuatnya kembali ke posisi semula, dia meringis.


"Satu-satunya wanita yang bisa menjadi istriku hanya kau, jadi jangan bicara hal yang tidak masuk akal. Sampai kapanpun! kau hanya akan menyandang status sebagai Nyonya Darren!"


Lama setelah itu, Darren bisa merasakan istrinya sudah lebih tenang, cengkraman tangannya juga sudah kendur, dia merasa bersalah menyakitinya, tapi jika tidak dihentikan, istrinya bisa berbicara hal yang lebih dari batas. Bagaimanapun, privasi hubungannya dengan Valerei harus dijaga.


"Sudah?" Tanya Darren. Istrinya hanya butuh pelampiasan, setelah dia sadar dari perasaan sensitif itu, dia akan kembali lagi.


"Hem." Mata Valerei berkaca-kaca, Dia sering mengucapkan kata ini dalam dirinya, 'kenapa dia menjadi aneh? apa yang terjadi padanya? Kemana sifat bijaknya yang mengerti banyak hal dan kenapa dia selalu menjadi manusia yang sangat sensitif?' Apakah ini sifat aslinya yang terkurung dalam? atau hanya karena dia baru bersama Darren dalam jangka waktu yang lama.


"Mau istirahat dulu?"


"Tidak!"


"Lalu?"

__ADS_1


"Boleh aku memelukmu?"


"Tentu!"


Seperti yang sudah-sudah, pertengkaran kedua pasangan ini selalu diakhiri dengan cara yang sama.


Nola dan Han baru saja keluar, sementara Are sudah menghilang sejak Darren bicara.


.


"Kalian ini!" tegur Are saat melihat kedua bawahannya baru saja keluar dari ruangan.


"Terlalu seru, Nyonya punya bakat akting yang baik" tawa kecil itu keluar dari Nola. Sementara Han menyenggolnya, Are menggeleng dan pergi.


...🖤...


Setengah jam telah berlalu. Darren turun ke lantai bawah, dia menemukan Ho Young bersandar pada dinding dapur menatapnya penuh arti. "Ada apa?" tanya Darren, merasa aneh.


"Bagaimana rasanya?"


Ho Young membenarkan posisinya dan berjalan ke halaman belakang, diikuti Darren


"Rasa apa?" Balas Darren.


"Kau anak-anak? langsung saja ke intinya." Darren tidak kesal, sekedar informasi.


"Valerei menjadi orang lain? aku tanya bagaimana rasanya?"


Sebenarnya, Darren malas meladeni pertanyaan Ho Young, ujung-ujungnya dia tahu kemana arah pembicaraan itu. Pasti untuk mengejeknya. "Valerei tidak pernah jadi orang lain, dia hanya sedikit sensitif terhadap hal-hal yang terjadi!" Jawaban cerdas.


"Mengeluh sekali-kali! Kau galak di depan orang tapi sama istri sendiri tidak berani!" Ejeknya.


Darren lalu mendapatkan ide. "Lalu, bagaimana denganmu? Ibu Yun!"


Tiba-tiba, wajah jahilnya berubah. Mendadak Ho Young terdiam, keningnya mengkerut dan bibirnya kaku. Darren menyadari seharusnya dia tidak bertanya. Dia hanya ingin membalas tapi sepertinya dialah yang dibalas. Kekanak-kanakan.


"Aku tidak tahu," Dia menunduk. "Yun, datang padaku saat umurnya baru 3 bulan! Ibunya pergi ke surga lebih dulu saat melahirkannya! Aku harusnya berada di sana saat dia membutuhkan, tapi kau tahu, aku pria brengsek!" Tambahnya.


Ho Young meremas rambutnya, walau Darren dekat dengannya tapi masalah soal Ibu Yun, dia tidak tahu. Hal itu dia tutupi sampai hari ini.


"Maaf, kesalahanku!" Darren menepuk pundak Ho Young.

__ADS_1


...🖤...


Dia terbangun setelah Darren keluar dari kamar.


Valerei hanya bisa diam di kamar. Dia bergerak gelisah di kasurnya, berguling ke kanan ke kiri. "Apa di bawah banyak orang?" tanya dia kepada Nola.


"Di bawah kosong, apa Nyonya ingin makan sesuatu?" Dia mendekati Valerei membantunya untuk turun dari ranjang.


"Akhir-akhir ini, kau selau membantuku turun dari ranjang. Jiga saat ingin berdiri dari duduk, kenapa?" Tanya dia.


"Ya? Aku hanya melihat tuan selalu membantu anda, jadi aku pikir itu perlu!" Tatapan polosnya selalu mengundang senyum. Valerei ber-oh ria membalas perkataan Nola.


"Nola, tadi aku benar-benar keterlaluan ya?" Valerei melihat Nola.


Nola menggeleng, masih memegangi istri bosnya menuruni tangga terakhir.


"Kau benar-benar adikku!" Tawa renyahnya membuat Ho Young ikut tertawa. Ternyata, sejak tadi pria itu memperhatikan Valerei dari bawah.


"Halo Tuan Ho Young!" Salam Nola.


"Oh hai!" Balasnya ramah.


"Mau kemana?" Tanya Ho Young pada Valerei.


Valerei tidak menjawab dengan kata-kata, dia mengarahkan telunjuknya ke arah dapur.


"Ah, mau makan?" Tanya lagi yang dibalas dengan anggukan. Ho Young ikut mengangguk.


Dia berdiri dari sofa dan berjalan melewati Valerei. Sesampai di dapur, dia menepuk kursi di sampingnya dan berbalik melihat wanita itu.


"Duduk disini!" pintanya.


"Kenapa?"


"Akhirnya bicara juga, aku pikir kau marah padaku!" Dia pura-pura terluka, dan memegangi dadanya.


Valerei memandang Ho Young ragu, dia tidak tahu apa pria ini tahu yang terjadi padanya dan suaminya atau tidak. Sejak tadi setelah dia dibujuk, Darren turun dan tidak kembali sampai sekarang.


Apa Darren sudah cerita pada temannya ini? Dia menggeleng, tahu bahwa suaminya tidak akan membuka semua masalah dengan lantang. Mungkin hanya untuk bicara dan mendapat saran, suaminya juga butuh teman bicara selain dirinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2