
Lim Sujong berada di cafe dekat dengan kantor Darren. Selama beberapa hari dia memantau rumah pria itu, tetapi kediamannya begitu sunyi. Walau banyak dari mereka yang berjaga di depan. Dia juga belum pernah mendapati pria itu keluar ataupun masuk ke dalam ke rumah, begitupun di perusahaan juga seperti itu, dia terus memantau tapi belum bisa bertindak.
Sujong juga mencari apartemen tempat istri Darren. Namun, sayang seribu sayang. Tidak ada satupun informasi yang bisa dia dapatkan. Informan yang selama ini memberikan dia informasi tidak bisa dihubungi. Terakhir dia hanya mengatakan bahwa apartemen istri Darren berada di dekat perusahaan.
Berkeliling mencari apartemen yang tepat, dari apartemen dengan biaya miliaran hingga jutaan. Semuanya sudah dia datangi tapi masih nihil. Pencarian itu tidak membuahkan hasil. Otaknya berputar, tidak sengaja melihat orang dari kediaman Wang sedang berada di cafe.
Wang Jihyo, adik dari Wang Larry. Pertemuan tidak sengaja itu membuat senyumnya merekah. Perlahan dia mendekat, jaraknya hampir 2 meter. "Aww!" teriak kecil dari bibirnya. Seorang pelayan yang membawa minuman panas menyenggolnya.
Dia memegang lengannya yang basah dan perih akibat kopi panas. Sujong memandang pelayan itu dengan sinis. Sementara pelayan itu terus membungkuk memohon maaf. Wajahnya lagi lagi memerah marah, tidak dia hiraukan permintaan maaf dari pelayan itu. Tangannya yang satu mendorong pelayan itu membuat semua orang di sana berseru tidak setuju dengan perilaku Sujong.
"Sebaiknya anda segera ke rumah sakit, dari pada marah tidak karuan disini!"
Ibu berambut lurus hitam itu berbicara. Dia menyayangkan kejadian barusan. Pelayan itu bersalah karena tidak berhati-hati tetapi perempuan yang marah tanpa memikirkan tangannya yang melepuh juga aneh.
"Sialan!"
Dia mengangkat wajahnya melihat sekeliling, Wang Jihyo sudah tidak ada. Mengumpat dalam hati, lalu pergi meninggalkan cafe.
Seorang pria dari lantai atas melihat semua adegan itu. Dia mengambil ponselnya dari saku dan menelepon seseorang.
"Tuan, dia hanya melihat Wang Jihyo tetapi tidak mendekatinya. Pelayan itu apa yang anda ingin lakukan? Lim Sujong mungkin tidak akan tinggal diam. Dia bisa di tuntut."
"Han, tidak perlu khawatir! Dia bukan penumpang resmi. Jika dia membawa masalah ini ke jalur hukum, bukankah itu sama dengan membunuh diri sendiri? walau itu perkara tidak sengaja tetapi pelayan itu, dia membantu. Berikan perlindungan padanya, kita tidak tahu seburuk apa tabiat wanita itu."
"Baik tuan."
Han memutus sambungan telepon. Dia memanggil salah satu orang yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Dua dari kalian urus pelayan itu jangan sampai Lim Sujong mendekat. Jika ada pergerakan yang berbahaya hubungi markas."
Pengawal itu mengangguk dan pergi menjalankan misi.
Han kembali bergerak membuntuti Sujong. Dia sudah melakukannya beberapa hari. Kemanapun Lim Sujong pergi, Han sudah melaporkan kepada bosnya. Di negara itu, dia tidak bisa melakukan hal yang berbahaya kecuali dia tidak waras.
...🖤...
Darren bersama Are sedang di ruang tamu apartemen Valerie. Wanita pemilik rumah, masih tertidur.
"Bagaimana Are?" tanya dia. Rambut basah sehabis mandi, handuk juga masih bertengger di pundaknya. Tetesan air jatuh itu menambah keseksiannya.
"Dia belum bertindak tuan, semuanya masih dalam kendali. Juga, soal telepon tuan Frederick waktu itu. Anak dokter Han sudah dipastikan bahwa dia adalah informan Lim Sujong."
"Pastikan juga, tidak ada informasi yang keluar lagi dari orang itu! kalau perlu, hubungi Aden. Dia baru saja menjadi ketua dari Viktor 10."
Mereka tidak dalam hubungan percintaan ataupun pertemanan untuk diperlakukan berbeda. Sakit hati? aneh! dia dan wanita itu tidak punya ikatan yang dimaksud untuk membalas dendam Dia tidak pernah memberi harapan lebih begitupun status sebagai teman. Darren hanya memberikan status itu pada orang yang tepat.
...🖤...
Sudah kesekian kalinya dia gagal. Kemarin, dia gagal lagi mendekat dan memanfaatkan Jihyo. Kepalanya dibuat pusing untuk memulai rencana yang lain. Sekarang dia berada di penginapan dekat cafe. Sujong memutuskan mencoba keesokan harinya menemui Darren karena itu dia tidak pulang melainkan berada di sekitar kantor. Apalagi jarak antara tempatnya tinggal dan kantor Darren lumayan jauh.
Kakinya sakit seharian berlari kesana kemari. Informan yang biasa memberi kabar belum bisa di hubungi. Jadi dia bermaksud untuk mencari kerjasama dengan orang yang tidak menyukai Darren tetapi dia belum mendapatkan apapun. Handuk kecil sudah direndam air hangat, saatnya dia membersihkan wajahnya yang seharian penuh debu. Tidak ada alat pembersih make up atau sabun wajah disana. Dia hanya menginap di motel kecil.
Selesai dengan bersih-bersih, dia menghubungi adiknya setelah sekian lama. Tapi teleponnya tidak aktif, lalu dia coba untuk kedua kalinya dan masih sama. Karena khawatir Sujong melepon pria tua yang menolongnya masuk ke Korea. Panggilan itu akan berakhir sebelum dia mengangkat telepon.
"Hallo?"
__ADS_1
"Hallo, apa adikku baik-baik saja?" Tanya dia langsung.
Pria itu terdiam sebentar, terdengar suara angin kencang di sana. Sujong menjauhkan ponselnya untuk mengecek apakah dia masih terhubung dan masih. Kembali dia dekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Ha--all-o"
"Hallo!" Sujong berteriak berharap orang disana mendengar.
Lalu sambung itu terputus. Dia mencoba kembali, sayang-tdak berhasil. Sujong mengirim pesan singkat menanyakan kabar adiknya, selang beberapa lama dia mendapat balasan bahwa sang adik baik-baik saja dan dia sedang berada di perjalanan yang menyebabkan sinyal tidak stabil.
Sujong menghela nafas pendek. Setidaknya dia sudah tahu kabar adiknya. Entah mengapa pikirannya tertuju pada teman Darren, Larry.
Seperti ada magnet yang memintanya untuk menelepon orang itu dan mengungkapkan rahasia tentang Sahabat baiknya. Namun, dia juga cukup ragu. Dia takut, nasibnya akan sama seperti Estela dan menjadi tawanan Geng. Dia harus berpikir dua kali.
Larry tidak jauh berbeda dari Frederick. Mereka adala orang-orang yang menyukai wanita itu. Aku harus berhati-hati mendekati siapapun. Frederick adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tidak diterima di italia. Pikirnya dalam hati.
Karena sudah begitu, dia yakin Frederick memutuskan untuk memaafkan wanita itu. Jadi dia harus memanfaatkan orang lain yang bisa lebih mengerikan dari pada Frederick. Dan orang.
TRING
Pesan masuk ke ponselnya. Dia terkejut melihat siapa nama orang yang baru saja memintanya untuk bertemu. Sujong tidak membalas pesan itu, dia harus menunggu hingga beberapa hari. Dia takut bahwa pesan itu adalah umpan, dia akan memeriksanya lebih dulu.
Sebelum lelah menghantam tubuhnya, dia mengecek kembali catatannya. Besok hari Kamis, Darren biasanya masuk kantor agak siang menurut informannya dulu. Dia tersenyum lalu berbaring dan terlelap.
.
.
__ADS_1
.