
Kedua manusia masih berdiri menunduk di depan Darren, mereka takut setelah ini tidak lagi diizinkan menjalankan misi. Han dan Nola mengingat kejadian sebelumnya.
Ketika Darren menutup map setelah selesai menandatangani kertas-kertas, jantung keduanya berpacu cepat. Melihat siluet bosnya itu berdiri dan berhenti di hadapan keduanya.
"Ehem!"
"Valerie pasti meninggalkan pesan, apa yang dia katakan? Ceritakan detailnya" ujar pria berjas di depan.
Han dan Nola saling pandang dan kembali menunduk, mereka tidak ingin menjadi penyampai pesan. Rasanya kaki kedua orang itu mendadak menjadi jeli.
"Siapa saja, katakan!" lagi katanya.
Darren masih menunggu.
"Kami tiba dalam keadaan ruangan gelap. Saat, saya ingin menyalakan lampu, Nyonya sudah berada di sofa makan eskrim dengan santai,"
Nola berhenti sebentar, menyusun kata-kata yang tepat.
Mendengar itu Darren meremas tangan yang berada di belakang punggungnya. Istrinya selalu punya kebiasaan aneh tetapi hal itu perlu diwaspadai. Wanita itu tidak boleh dalam keadaan stress.
"Lalu,"
"Lalu kau mendapat luka? Valerie tidak mungkin memukulmu artinya Nola yang melakukannya, benar?"
Han mengangguk.
"Oke lanjut!" perintah Darren.
"Lalu, kami memberikan dokumen beserta pesan anda. Nyonya tampak kaget, tangannya bahkan gemetar saat menerima amplop putih itu."
"Nyonya mungkin tidak menyangka bahwa anda akan mengambil keputusan itu." Nola memotong Han. Dia masih tidak ingin percaya, bahwa Darren akan menceraikan Istrinya.
Darren tidak membalasnya, dia menunggu Han kembali berbicara.
"Boleh saya menyampaikan apa yang saya lihat?"
"Tentu, karena itu saya menyuruhmu bicara."
"Seperti kata Nola, dia terlihat kecewa. Sampai dokumen itu di tangannya, Nyonya langsung menghancurkan amplop itu tanpa di buka. Dia memasukkannya ke dalam mesin penghancur kertas lalu tersenyum,"
"Dia tersenyum?" tanya Darren.
"Ya tuan, Nyonya tersenyum, dia meminta anda untuk datang menemuinya dan dia tidak akan pernah menandatangani surat apapun yang anda kirim."
Dia ikut tersenyum. "Wanita itu benar-benar, " dia ingin melanjutkan kalimatnya tetapi pandangannya jatuh pada kedua pengawal itu. "Ah, terima kasih sudah menjalankan tugas dengan baik, kalian bisa kembali ke bawah, tunggu sampai tugas berikutnya."
Nola mundur sedikit, tidak percaya dengan apa yang di katakan Darren. Mereka tidak dihukum karena gagal.
"Kami tidak dihukum tuan?" tanya dia penasaran.
Darren menaikkan alisnya. "Kalian mau?"
Han maju. "Kami gagal tuan,"
"Lalu?"
"Bukankah itu peraturan dari markas. Saat seseorang gagal menjalankan misi, dia harus menerima hukuman yang sepadan."
__ADS_1
"Benar, saya yang membuat peraturan itu! karena saya pemiliknya, maka semuanya terserah padaku, benarkan?"
Kedua pengawal itu mengangguk mengerti.
"Terima kasih tuan."
Han dan Nola pamit undur diri.
Tinggal Darren sendiri dalam ruangan, dia mengambil remote control dan menekan tombol merah di bagian atas.
"Tuan Darren." sapa seseorang di layar.
"Tolong kirimkan lagi amplop yang sama kepada Valerie, kali ini tolong masukkan daftar asetku. Katakan itu hadiah dari suaminya."
Pengacara Jeong tersenyum. "Baik tuan."
"Terima kasih." ucap dia lalu layar itu menjadi hitam kembali.
Dia menekan tombol interkom. "Are naik ke atas."
3 menit, sang pengawal sudah berada di depannya.
"Tuan memanggil saya?"
"Apartemen di sebelah Valerie masih kosong?"
"Setahu saya tuan,"
"Dengan cara yang baik, tolong urus itu menjadi milikku dan jangan sampai mereka tahu apartemen itu milik Lee Seok Hoon, mengerti?”
Are berangkat. Darren tidak sabar melihat reaksi Valerie.
...🖤...
Di dalam apartemen Valerie mentertawakan drama bergendre roman komedi di TV. Sudah lama sejak dia menonton karena terlalu sibuk. Cemilan dan minuman menemani kesendirian.
Dia begitu nyaman sehingga kakin direntangkan ke depan sembari di goyang-goyangkan.
HA HA HA
Tawanya semakin keras, bahkan air matanya sudah turun.
“Ah, lucu sekali!” mengusap ujung matanya yang basah dengan tisu.
Valerie memasukkan tangannya ke dalam toples tetapi dia kaget saat tangan tidak menemukan apapun disana. Cemilannya sudah tandas.
Menghela nafas, kakinya melangkah ke cabinet disamping kulkas mengisi toples. Dia sudah menyiapkan banyak makanan untuk memenuhi keinginan besarnya akhir-akhir ini.
Terburu-buru mengambil kripik, toples di tangannya terlepas hingga pecah menimbulkan suara gaduh.
Terkejut, kaku tubuhnya selama 2 menit. Sesaat sadar dia menunduk ingin membereskan pecahan kaca, dipungut dengan tisu lalu di masukkan ke tempat sampah stenlis di bawah meja dapur.
Setelah di rasa beres Valerie berdiri tetapi kepalanya terasa berputar hingga dia tidak bisa menyeimbangkan diri. Layaknya adegan film horror, lampu-lampu di lorong mulai mati satu persatu, kakinya tidak lagi menapak dan pandangan matanya menjadi jauh ditarik kebelakang dan kembali ke depan.
Dia limbung ke belakang, beruntung masih ada sisa kesadaran, tangannya menunpuh di kulkas hingga tidak menimbulkan benturan keras. Badannya merosot ke lantai, wanita itu diam menutup matanya merasakan semuanya menjadi satu.
“Ya Tuhan!" Air matanya mengalir, isakan kecil keluar dari bibir mungilnya. Kepalanya disandarkan ke kulkas, dia menarik nafasnya.
__ADS_1
“Ya Tuhan! Valerie!?” teriakan seorang wanita.
“Sayang! Tolong!”
Valerei masih dapat mendengar semua yang dikatakan orang itu. Namun, kesadarannya seakan tidak kembali sempurna.
3 Jam berlalu, Valerie masih tertidur.
Seorang wanita memegang tangannya, dia berdoa untuk wanita yang terbaring lemah dengan wajah sembab karena air mata.
“Aku hampir pingsan melihatmu tadi, aku pikir setelah kalian bertemu tidak akan ada lagi hal buruk yang terjadi.” ucap dia.
“Mimpi apa? Kenapa tidak bangun?” lagi dia mengajak berbicara.
.
Valerie membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk dengan perlahan. Ruangan berwarna putih itu entah mengapa sangat asing di matanya. Dia menyusuri dan menyadari dirinya duduk di atas kursi goyang.
“MAMI!”
Suara kencang dari luar ruangan menyapa pendengarannya. Di balik kaca besar nampak anak kecil tersenyum padanya. Bibirnya tertarik ke atas, dia ikut tersenyum tetapi air matanya perlahan turun.
.
Dua insan saling melirik, melihat air mata yang keluar dari mata Valerie dalam keadaan tidur.
“Ada apa? Apa Valerie baik-baik saja?” kata pria di samping.
Kau bermimpi apa sampai sesedih itu? dalam hati Hye Na.
Mata Valerie perlahan terbuka, dia menangis sejadi-jadinya saat menyadari ini bukan lagi mimpi.
Hye Na memeluknya tanpa berkata apapun, begitupula pria yang berada di sampinya hanya diam memandang sang istri menenangkan sahabatnya.
...🖤...
Di salah satu cafe, Are memesan kue kesukaan istri bosnya. Dia harus mengantri selama 15 menit. Dulu, toko kue favorit Valerie belum seterkenal sekarang. Are bisa mendapatkannya segera setelah dia datang. “Akhirnya!”
Bergegas dia mengantar ke apartemen Valerie.
Jarak antara toko kue dan apartemen tidak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Dia naik menggunakan lift, sesampainya di atas pengawal itu melihat beberapa orang mengenakan jaket kulit berdiri di depan apartemen Valerie.
Perawakan yang tidak biasa, hanya karena mereka tidak mengenakan jas hitam bukan berarti Are tidak mengetahui siapa mereka.
Mereka berbalik melihat Are tetapi Are langsung berjalan melewati mereka dengan sedikit menunduk, kakinya otomatis berjalan menuju apartemen sebelah, menekan password apartemen dan segera masuk, tidak lupa dia menelepon bosnya.
Dering pertama tidak diangkat, barulah setelah dering ke empat panggilannya tersambung.
“Ada apa Are?” kata Darren.
“Tuan, anda harus menemui Nyonya, sekarang!”
.
.
.
__ADS_1