
Seorang wanita dan pria berada di dalam kamar. Darren sedang membaca buku di ranjang mereka, sedangkan wanita yang berada disampingnya sedang berbicara dengan sahabatnya, Elena. melalui panggilan telepon
Valerei menekan tombol panggil. Dia menunggu, hingga bunyi Sambungan kedua, Elena sudah mengangkatnya. "Elena, ada apa? maaf aku baru menelepon."
"Tidak apa-apa kak, aku tahu kakak sibuk."
"Ada apa sayang?"
"Sepertinya kak Ha Joon dan Ji hyo akan bercerai."
Suaranya agak tinggi tapi bukan berteriak. "Bercerai?"
Darren berbalik saat mendengar istrinya mengucapkan kata haram itu. Valerei pun kaget mereka saling memandang.
"Elena, apa yang kau bicarakan, ada apa?"
"Ji Hyo bilang kalau kak Ha joon selingkuh, tidak ingin mendengarkan siapapun. Kakak bisa ke sini? aku sudah bilang dia harus berpikir baik-baik, mungkin saja tidak benar tapi dia menjadi keras kepala."
"Kalian di mana?"
"Kediaman kak Larry."
"Aku kesana."
Valerei memutuskan sambungan telepon dengan Elena. Darren berhenti membaca, melepaskan kacamatanya. Dia melihat Valerei
"Apa yang terjadi?" Tanyanya.
"Ji Hyo meminta cerai, aku harus ke kediaman Wang sekarang."
Darren mengangguk mengambil jaket miliknya dan Valerei. "Pakai." Valerei menatapnya agak heran tapi dia tidak bertanya. "Ayo!"
...🖤...
"Sayang." Ha joon masih berdiri di depan kamar Ji Hyo. Dia menggenggam kertas perjanjian perceraian dari Ji Hyo. Terlalu terburu-buru, Ji Hyo sampai meminta pengacara keluarga Wang untuk datang, Larry pun tidak bisa apa-apa. Ji Hyo adalah adiknya, bahkan untuk membantu Ha Joon saja dia tidak bisa. Ji Hyo mengancam akan melakukan hal buruk jika Larry membantu Ha joon. Sungguh, buah simalakama.
"Sayang, please!" Ha joon berlutut memohon istrinya untuk membuka pintu lalu mendengarkan penjelasannya. Namun, memohon seperti apa pun, Ji Hyo tidak perduli.
Dari ujung lorong, Tiga orang sedang melihatnya. Mereka prihatin. "Apa yang harus kulakukan? mereka keluargaku." Larry pusing, Dia hanya perlu mencari tahu kebenaran dan selesai, tapi adiknya sungguh tidak biasa, emosi dan keras kepalanya adalah nomor satu.
Dia tidak bisa melakukan semuanya sembunyi-sembunyi, Ji Hyo akan tahu. Larry menebak orang yang membuat Ji Hyo seperti ini pastilah bukan orang biasa, sampai adiknya yang sangat mencintai Ha Joon saja bisa teperdaya.
Larry ingat saat dia mencoba membantu Ha Joon. Hanya beberapa menit, Dia mendapat pesan ancaman bahwa siapapun tidak boleh membantu Ha Joon, Ji Hyo bahkan melampirkan foto dirinya sedang memegang pisau dengan tangan kanannya, dia akan mengiris tangan kirinya. Larry gila, dia tidak ingin apa pun terjadi pada adiknya.
__ADS_1
"Siapa orang itu!" Dia frustrasi, baru kali ini ada orang yang berani menganggu keluarganya.
"Siapapun dia, pastilah orang yang berpengaruh. Mungkin musuh-musuh mu atau musuh Ha Joon." perkataan Rey ada benarnya, Larry berpikir, belakangan ini dia tidak mencari masalah atau ada yang mencari masalah padanya.
"Tidak ada." Tegas Larry
"Kau yakin? mungkin saja kau mengganggu istrinya?" kata Rey melihat sahabatnya yang menatapnya sinis. "Mulutmu perlu di bersihkan!" perkataan Larry mengundang tawa pelan Rey. Bisa-bisanya dia bercanda.
...🖤...
Darren turun dari mobil bersama dengan istrinya, Valerei. Pengawal yang berjaga di kediaman Wang tidak terlihat. Baru saat mereka masuk ke dalam mansion beberapa pengawal datang dari pintu sebelah barat. Karena sudah tengah malam mereka berganti shift.
"Tuan Darren, Nyonya Valerei." ucap salah satu pengawal, dia menunduk sedikit pada Darren dan Valerei. Valerei selalu bertanya-tanya kepada beberapa pengawal sahabatnya, mereka memanggilnya dengan sebutan Nyonya padahal dia bukanlah istri dari tuan rumah.
Jarak Valerei dan Darren agak berjauhan. Mereka, para pengawal sama sekali tidak berpikir apapun tentang hubungan mereka. "Larry di atas?" tanya Valerei ramah.
"Silahkan" dia mengarah keduanya agar mengikutinya.
"Apa karena masalah Tuan Ha Joon mereka kemari?" tanya salah satu pengawal yang baru saja datang, dia melihat Valerei dan Darren menaiki tangga.
"Aku dengar lawan kali ini berat, mungkin itu sebabnya Tuan memanggil Tuan Darren." Jawabnya
"Lalu Nyonya Valerei?" tanya dia lagi, dia tidak begitu mengenal mereka karena baru masuk beberapa minggu lalu.
"Ya, panggil Nona, dia belum menikah." Ucapnya.
"Nyonya."
"Ya sudah." Mereka pergi. Percakapan itu masih berlanjut, salah satu dari mereka menjelaskan bagaimana hubungan bosnya dan Valerei.
...🖤...
Valerei melihat Elena sedang berbicara dengan Rey dan Larry. "Elena." panggilnya. Tiga orang yang berada di sana berbalik. "Kau datang?"
"Ya. Ha Joon di mana?" tanya dia lalu Valerei mengikuti arah telunjuk Larry di depan.
Detik berikutnya, Darren datang bersama Are.
"Darren?" kaget Larry melihat kedatangan Darren, dia belum memberitahu sahabatnya. bagaimana Darren bisa ada disini, batin Larry.
"Bisa kita bicara?" Valerei membawa Elena turun ke ruang keluarga Wang, mereka mengikuti. Valerei berbalik melihat ke-empat orang yang mengikutinya. "Kenapa ikut?"
"Katanya mau bicara?" ucap polos Larry
__ADS_1
"Maksudku dengan Elena." kata Valerei melihat sahabatnya. "Tentang apa? Ha Joon kan? Kita juga ikut." Larry tetap melangkah mendekati mereka dan duduk lebih dulu di sofa miliknya. Valerei melihat Elena bingung lalu duduk mengikuti Larry. Mereka yang berdiri di sana juga sudah ikut duduk.
Valerei meneguk minumannya yang sudah disediakan pelayan Wang sebelum dia mulai bicara. "Ji Hyo bilang apa?"
Elena mulai menceritakan apa yang Ji Hyo katakan, termaksud persoalan bantuan yang diberikan Larry. Mereka mendengar dengan serius apa yang terjadi sampai selesai. "Bisa lihat isi pesannya."
"Tentu kak, aku sudah screenshot lalu kukirim ke ponselku." Elena memberikan Ponsel miliknya. Valerei melihat nomer orang itu, ada perasaan yang tidak asing ketika membacanya.
"Dia bukan orang biasa ya?" Valerei hanya bergumam.
"Kenapa Va?" tanya Larry yang tidak terlalu mendengar.
"Kau tidak membantu?" sekarang Darren yang berbicara, dia melihat Rey.
Rey menggeleng. "Aku juga tidak bisa."
"Tidak bisa bagaimana?" kembali Darren bertanya. "Darren, kau juga sudah dengar, orang itu tahu jika ada yang membantu Ha Joon."
"Kau bodoh?"
"Maksudmu?" Rey tidak terima dikatakan bodoh oleh Darren.
"Itu seperti perkataan ku." tegas Darren membuat Rey melihatnya dengan tidak suka tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tumben kau mencari masalah Darren? biasanya selain Hyuk, kau orang yang paling bijak." Ucap Larry.
"Itu bukan mencari masalah." Darren menggeleng dan menelepon seseorang. Dia berbicara bahasa Korea dengan dialek membuat Larry menepuk dahinya pelan. Dia benar-benar lupa pada Ho young, Rey sadar jika dia agak lamban.
Setelah ponselnya mati, Darren melihat sahabatnya.
"Jika kau memiliki uang, maka pintarlah sedikit. Itu perkataan Hyuk, kalau mau marah, tunggu dia pulang saja."
"Apa yang dikatakan Ho Young?" Tanya Rey
"Dia akan mengawasi Ji Hyo. Minta orang-orang mu mundur Larry." Darren berdiri.
"Kita bertemu lagi saat Ho Young datang." Dia pergi.
Masalah itu tidaklah sederhana. Apa yang menimpa Ha Joon sekarang mungkin hanya pengalihan. Orang ini, kemungkinan sama dengan Orang yang meneror Valerei, batin Darren.
Analisisnya bukan tanpa alasan, dia melihat karakter orang itu saat mengirim pesan. Bisa saja orang itu tidak sadar atau sengaja membuat hal yang begitu mencolok. Darren melihat dalam setiap pesan yang terkirim. Setiap selesai dengan kalimat, orang itu memberi tanda titik sebanyak 2 kali. Kebiasaan penulisan itu tampak aneh baginya.
.
__ADS_1
.
.