The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 36 : Masalah belum selesai


__ADS_3

"Darren, kapan aku bisa keluar? bukannya aku baik-baik saja?" ucap Valerei, sudah tiga hari dia berada di rumah sakit, rasa bosan yang melanda membuatnya tidak betah.


"Sayang!" peringatan pertama. Darren menjadi fasih memanggil Valerei dengan kata sayang. Dia masih dengan gayanya, duduk di sofa sambil membaca Tab miliknya, Memeriksa laporan yang dikirim bawahannya. Mengingat kantor! dia jadi ingat masalah yang ditimbulkan karena kesalahpahaman.


Kurang ajar, katanya dalam hati.


"Aku bosan, ayo pulang!" Valerei membuka selimut yang menutupi setengah badannya. wajahnya ditekuk, bibirnya di majukan beberapa centi.


"Nanti!" peringatan kedua, sama seperti tadi Darren tidak melihatnya dan masih memeriksa laporan.


Valerei tidak ingin kalah, belakang ini selalu begitu. "Pokoknya mau pulang!!" dia akan turun dari ranjangnya, menurunkan satu kakinya tapi saat dia akan menurunkan kaki yang lainnya dia merasa ada aura "Negatif" disudut ruangan, mencoba mengangkat kepalanya, disana Darren melihatnya dengan tatapan tajam, membuat Valerei terdiam cukup lama.


Valerei mengedipkan matanya beberapa kali, melihat Darren dan tersenyum. "Itu, mau ambil buah, lapar." Dia menunjuk piring buah di nakas. Alasan ini selalu berhasil jika dia mengatakannya di depan Darren, tapi rencananya merajuk tidak berhasil kali ini, dia lebih takut pada Darren. Saat terdiam tadi, dia mengingat terakhir kali membuat darren marah. Seluruh badannya lemas. dia tidak sanggup.


Valerei berbalik kembali naik ke ranjangnya dengan piring buah, dia memakannya sambil tersenyum bodoh. Dia berpikir, apa yang bisa membuatnya keluar dari rumah sakit. lama berpikir, dia mendapat ide cemerlang.


"Darren, boleh pinjam ponselmu?" tanya Valerei. darren berdiri dan memberikan ponselnya.


"Terima kasih" ucap Valerei, Darren kembali bekerja. Dia melihat kontak Darren, mencari nomer telepon ibu Deora.


"Ketemu!" dengan suara pelan, tentu Darren tidak mendengarnya. Valerei menekan nomernya untuk mengirimkan pesan ke mertuanya, Pesan itu terbuka, beberapa pesan sebelumnya terlihat, ternyata Darren sudah memberitahu ibunya jika Valerei masuk rumah sakit tapi kedua orang tuanya sedang berada di Jeju. Yah, gagal! Valerei berpikir dengan apa lagi dia bisa keluar, tapi buntu.


Valerei pasrah, hari ini dia gagal untuk pulang. "Jadi kapan aku bisa keluar?"


"Tiga hari lagi. jadi bersabarlah." Ujar Darren.


🖤


Rey pusing, istrinya tidak ingin pulang. Katanya khawatir dengan keadaan Ji Hyo. Alhasil dia harus menginap di kediaman Larry. Dia duduk di ruangan keluarga wang dengan Ha joon. "Kau sebenarnya ada masalah apa?"


"Aku tidak akan pusing jika tahu." Ha joon tidak ke rumah sakit. Dia merasa tidak berselera untuk melakukan apapun sampai istrinya bicara.


"Itu aneh jika kau tidak tahu." Ha joon tertawa, dia berpikir sindiran itu tidak tepat sasaran.


"Justru aneh jika kau yang mengatakannya." Ha joon mengingatkan Rey pada apa yang terjadi dengan Elena.


"Kau juga salah sasaran, karena aku tidak selingkuh!"


"Memangnya aku selingkuh!?"


"Ya kan, lalu kenapa istrimu marah."


"Memangnya alasan istri marah selalu karena suami selingkuh. Dasar!" Betul, alasan untuk marah kan banyak.


...🖤...

__ADS_1


Elena khawatir, Valerei belum menjawab pesannya. "Apa aku telepon Nola saja?" dia berinisiatif untuk menelepon Nola, pengawal yang dikirim Frederick untuk Valerei.


"Halo Nola? ini Elena,"


(Diseberang sana Elena menjawab dengan sopan) "Ada yang perlu di bantu Nona?"


"Kak Valerei bersamamu?"


"Tidak Nona, saya sedang berada di Gangwon-do. Nyonya mungkin sedang bekerja sekarang, terakhir dia sangat sibuk menulis di kamarnya." terkadang Elena agak bingung pada Nola, dia memanggil dirinya dengan sebutan Nona, tapi memanggil Valerei dengan sebutan Nyonya.


"Ah, mungkin kak Valerei sibuk, aku menelepon tapi tidak diangkat, yaa terima kasih Nola."


"Baik Nona."


...🖤...


Di wilayah lain, Nola mengerutkan alisnya. Istri bosnya tidak mungkin mengabaikan telepon dari Elena. Setelah teleponnya terputus, Nola berinisiatif menelepon Valerei tapi tidak diangkat. Dia dan Han belum ditugaskan kembali oleh Darren untuk mengawal Valerei. Are, atasan mereka meminta untuk menunggu sampai Darren punya waktu bicara. Jika bukan karena Frederick memberitahunya jika penyamarannya sudah terbongkar, dia pasti tidak tahu alasan sebenarnya Darren memintanya bertugas di tempat lain.


"Semoga Nyonya baik-baik saja." doanya untuk bos sekaligus teman, walau dia seorang bawahan, Valerei selalu memperlakukannya dengan baik.


...🖤...


Valerei mengepal tangannya menyemangati dirinya untuk keberhasilan rencananya kali ini. Kemarin, dia mendapatkan ide agar dia bisa pulang ke rumah. Rindu kasurnya yang empuk dan nyaman. "Semoga berhasil!" ucapnya pada diri sendiri


Dia tersenyum. "Suamiku di mana? begini, aku ingin menelepon tapi ponselku ketinggalan, bisa pinjamkan?"


"Oh tentu Nyonya" Pengawal itu tidak curiga, dia berpikir istri bosnya akan menelepon suaminya.


"Terima kasih." dia masuk kedalam kamar. mengingat-ingat nomer telepon Hyuk, lalu meneleponnya.


"Halo?" dari seberang sana


"Hyuk?" ucap Valerei agak keras


"Ya"


"Ini aku Valerei!"


"Aku tahu"


"Kok kamu tahu?" dia bingung


Hyuk tertawa kecil. "Suamimu. Darren tadi ke sini, dia memberitahu jika nanti istrinya akan meneleponku meminta bantuan."


"Bagaimana mungkin?" Dia tidak percaya, suaminya tahu rencana yang dia rancang matang dalam otak pintarnya.

__ADS_1


"Valerie, jika Darren tidak cerdas, bagaimana usahanya itu dapat berkembang."


"Karena beruntung?"


"Keberuntungan tanpa skill juga tidak berjalan, anggaplah kau beruntung bisa mendirikan perusahaan tapi bagaimana kau mempertahankan dan mengembangkannya? kau tidak bisa berharap pada keberuntungan seumur hidupmu, Kau harus punya keahlian untuk berkembang."


"Aku tahu, kau seperti berceramah di depan podium. Hyuk, kau selalu bijaksana, tapi aneh aku kok berubah jadi begini?"


"Ada sesuatu yang kadang berubah karena faktor keadaan, jangan terlalu di pikirkan, nanti jika sudah saatnya akan kembali semula. Jadi?"


"Jadi apa?" ujarnya lesu


"Kau mau pulang?" tanya Hyuk terdengar serius


"Kau mau membantu?"


"Aku berjanji pada Darren untuk tidak membawamu keluar. Tapi sudah kukatakan, jika kalian tidak sependapat, aku ada di pihak mana?"


Dia bersemangat. "Di pihak ku!"


"Makanan rumah paling enak, jika seseorang meminta! maka akan dituruti." itu seperti teka-teki


"Teleponnya ku matikan." tambahnya sebelum mematikan sambungan telepon.


tut tut tut


Valerei terdiam setelah ucapan aneh Hyuk, untuk siapa dia bicara? batin Valerei.


Makanan rumah paling enak, jika seseorang meminta! maka akan dituruti?


Valerei mengulanginya sampai sesuatu terlintas dipikirannya. "Makanan rumah tentu saja lebih enak." berkembang senyum indahnya. Meski nanti tidak berhasil dia tetap akan mencoba. Dia pergi mengembalikan telepon milik pengawal itu


...🖤...


Darren berada di kantor, dia datang mengecek hasil kerja karyawannya, lalu teleponnya berbunyi.


"Ya?"


"Tuan, Nyonya mengeluh perutnya la---"


Darren memutuskan telepon dan berjalan keluar, Are yang baru saja ingin masuk ke ruangan Darren, agak terkejut lantas mengikuti bosnya.


...🖤...


‘JANGAN TERBURU-BURU, PENTING MENDENGARKAN SESUATU SAMPAI SELESAI AGAR TIDAK TERJADI KESALAHPAHAMAN DAN MISKOMUNIKASI’

__ADS_1


__ADS_2