
Valerie tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, pelipis anaknya terluka dan sepertinya itu bukan luka yang kecil. Setelah memandikan Leon dia ingin menelepon Elena tapi dia berusaha menahan emosinya yang akan meledak.
Barulah saat berada di kamar sehabis sesi menangis karena teguran Leon, dia menelepon Elena.
"Hallo?" Jawab Elena di seberang.
Tanpa Basa-basi Valerie bicara. "Apa yang terjadi dengan pelipis anakku?"
Elena menghela nafas di sana. Seharusnya dia tidak mengizinkan Leon di ambil sebelum sembuh tetapi dia tidak bisa menolak Valerie. Dia tahu reaksi Valerie akan lebih heboh dibandingkan dengannya.
"Elena!"
Tapi bukannya Elena yang menjawab Rey mengambil ponsel istrinya dan berbicara.
"Leon terjatuh di TK, itu hal yang tidak disengaja Valerie." Sahutnya.
"Tidak disengaja? Kau bercanda!"
Darren yang mendengar bentakan Valerie dari kamar mandi lalu segera keluar. Dia melihat istrinya sedang menelepon.
"Lukanya dalam dan kau bilang tidak disengaja? Siapa yang melakukannya? Leon tidak mungkin jatuh sendiri!" Di cerca dengan banyak pertanyaan, Rey menutup matanya.
__ADS_1
"Kami sudah bicara dengan pihak yayasan. Leon bermain dengan temannya dan tidak sengaja terjatuh. Yu Ra sudah menanganinya dan lukanya bisa sembuh tanpa meninggalkan bekas. Aku akan memastikan itu."
Luar biasa. Dia benar ayahnya? Valerie mendadak naik pitam mendengar ucapan Rey. Dia hampir mengumpat tetapi Darren menutup mulutnya.
Dia ambil ponsel itu dan menekan tombol merah. Sambungan telepon terputus.
"Ada apa?"
"Leon terluka, aku ingin memastikan tapi Rey membuatku emosi!"
"TK itu dipenuhi anak-anak Valerie, orang yang menjadi guru tidak lebih banyak dari pada murid. Sesuatu seperti kecelakaan yang terjadi pada Leon, siapa yang menginginkannya? tidak ada. Mereka juga pasti terkejut, aku yakin. Lalu siapa yang ingin disalahkan? anak kecil yang bermain bersama Leon? Rey sudah pasti tidak ingin memperpanjang masalah ini."
"Tapi---"
"Oke, nanti kita bicara dengan Pengacara Jeong dan Dokter Yu Ra."
Valerie terdiam. Dia menundukkan kepalanya. "Aku tidak ingin bicara dengan mereka berdua! Aku ingin mendengar langsung dari sekolah Leon! Bagaimana kronologinya hingga anakku bisa terluka,"
"Valeri--"
"Memangnya tidak boleh? Bukannya kita tidak berhak tahu? aku juga ikut mengurus Leon sejak bayi!"
__ADS_1
"Aku tahu, tapi--"
"Tidak, tidak. Lebih baik kamu temani Leon di bawah. Aku mau tidur!" Valerie bergerak naik ke tempat tidur menyelimuti badannya hingga tertutup semua.
Darren memgalah dia keluar dari kamar.
Setelah Darren keluar dari kamar, Valerie mengambil kembali ponselnya dan menelepon Elena tetapi lagi-lagi Rey yang mengangkatnya.
"Minta rekaman CCTV sekolah Leon, aku ingin tahu dimana guru mereka sampai tidak memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Kita tidak tahu ini benar kecelakaan atau kelalaian! Kalau kau tidak bisa, biar ku urus sendiri!"
Setelah mengatakan itu, Valerie mematikan sambung telepon.
"Aku tahu kalian orang tuanya, tapi sebagai ibu angkatnya aku ingin tahu kebenaran."
Valerie sudah melupakan alasan dia menangis tadi. Pintu kamarnya tertutup rapat, dia mendadak tidak enak hati kepada suaminya karena marah. Seharusnya dirinya bisa lebih tenang. Emosinya tadi tidak berguna, dia menyadari itu dan menyesal. Valerie berniat turun untuk menemui Darren dan Leon tetapi dia urungkan niatnya. Dia takut, emosinya belum stabil baik dan tetap bertahan sampai akhirnya terlelap.
.
.
.
__ADS_1