The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 81 : Menjadi satu


__ADS_3

Han Yu ra menghubunginya, wanita itu mengatakan bahwa akan mengirimkan vitamin dan beberapa kebutuhan Valerie selama masa kehamilannya. Dia menyarankan agar Darren lebih mengawasi Istrinya seperti saat dia bergerak dan bertindak. Bagaimanapun, kondisi Valerei rentan, dia juga sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit.


Setelah pembahasan mengenai Valerie selesai, Yu Ra juga memberitahukan masalah ayahnya dan ibu Darren. Dia mengatakan bahwa keduanya sedang di Indonesia entah mengurus masalah apa atau hanya sedang liburan menghindar dari masalah yang mereka perbuat. "Jangan sampai mereka masuk ke Korea dan menemui Valerei sebelum kau memberitahu istrimu apa yang terjadi! itu bisa merugikan posisimu!" Itu adalah sepenggal kalimat wejangan dari Yu Ra sebelum memutuskan sambungan telepon.


Satu sambungan telepon baru saja mati, sambungan lainnya menunggu. Ibu Deora disana.


"Halo bu?"


"Mereka ada di Indonesia, kau sudah tahu?"


"Baru saja dari Yu Ra."


"Yu ra menelepon tengah malam begini? Istrimu mana?"


"Valerie sudah tidur bu"


"Hoon, walau ibu tahu kalian tidak ada apa-apa tapi perasaan wanita itu lebih sensitif dari kelihatannya. Pastikan untuk tidak mengkat telepon siapapun kecuali ibu setelah jam kantor selesai."


Deora agak memahami sifat menantunya setelah beberapa kali bertemu dan pernah tinggal bersama. Pada umumnya wanita itu sangat sensitive terhadap keadaan, mereka bisa merasakan semuanya secara detail. Dia tidak ingin menantunya salah paham kepada Darren dan berakhir buruk untuk hubungan anaknya.


"Aku mengerti bu, terima kasih."


"Ibu tahu kamu lebih tahu yang terbaik, dan nak?" Panggil dia, melupakan sesuatu lalu teringat.


"Sebaiknya segera beritahu Valerie apa yang terjadi, ibu khawatir posisimu akan berat saat itu terungkap dari sisi lain."


Darren membenarkan perkataan ibunya. Dia bisa saja kehilangan Valerie.


"Aku mengerti bu."


"Baiklah, ibu menyayangimu!"


"Aku juga mencintaimu bu!"


Suasana dalam ruangan kerja Darren mendingin, dia menangkup wajahnya. "Selain memberitahunya kebenaran, apa ada cara lain agar Valerie tidak bisa pergi walau dia ingin!?"


Sepersekian detik, Ide yang baru saja terlintas di kepalanya menusuk perasaannya. Apakah pantas?


Dia tahu betul, bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sah dimata agama dan hukum. Namun, melakukannya untuk menutupi masalah lain apakah pantas. Itu yang dia pikirkan. Saat Valerie mengetahui kebenaran tentang kehamilannya, dialah yang paling menderita.


Darren kembali ke kamar, dia tidur sebentar dan kembali terbangun saat jam menunjukkan pukul 4 pagi. Dia masuk ke kamar mandi dan bersiap. Setelah selesai dia dengan kegiatannya Darren kembali ke kasur menatap istrinya yang terbaring. Lama adegan itu, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Darren mengecup keningnya. Ketika itu, wanita yang tertidur tadi membuka matanya perlahan.


"Darren?" Valerie bersuara.


Darren yang mendengar itu menjauhkan wajahnya sedikit. Ia tersenyum.


“Apa kau lelah?” tanya dia kepada Valerie.


Gelelngan kepala itu menjadi sirine untuk Darren dan setelah itu Valerie kaget mendapati aksi suaminya.


"Hem?" melihat mata coklat bening istrinya. Selalu cantik untuk dipandang.


"Kamu berat!" kata Valerei melihat kebawah badannya.


Darren hanya tersenyum, Valerie hanya mengatakan itu tanpa berpikir karena istrinya gugup. Tidak mungkin dia berat, Darren saja tidak menindihnya, dia memberi ruang agar perut istrinya tidak tertekan.

__ADS_1


Mereka diam, lalu suara dering ponsel Darren menggema, sang empunya ponsel melihat siapa penelpon dan mendapati Larry yang tertera disana. Dia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon itu.


"Ada apa?"


"Darren? bukannya aku kesini untuk bicara denganmu?"


"Ya, lalu?"


"Kau dimana? aku sudah menunggu sejak semalam!"


"Kita bicara setelah urusanku selesai!"


"Darr--"


Diseberang sana Larry terus berbicara tetapi Darren sudah melempar ponselnya ke samping tanpa mengetahui bahwa sambungan telepon belum mati. Itu bukan hal yang di sengaja, Darren sudah menekan tombol merah tetapi sangat disayang dia terburu-buru.


...🖤...


"Darren aku ke tempatmu kau dimana? tadi kau terburu-buru lalu ak----" Dia berhenti berbicara saat mendengar suara wanita.


"Siapa?" tanya wanita itu, suara cukup familiar tapi dia tidak bisa memikirkan siapa wanita itu.


"Larry!" jawab Darren yang masih didengar oleh Larry.


Larry mengerutkan kening mendengar namanya disebut. Wanita itu tahu aku? jika tidak untuk apa Darren menyebut namanya, seharusnya dia bisa bilang teman, klien atau semacamnya. Pikiran Larry melayang mencari-cari siapa wanita yang mungkin dekat dengan sahabatnya. Darren tidak mungkin berhubungan dengan rekan bisnisnya, Larry tahu betul bahwa rekan bisnis hanyalah rekan bisnis bagi Darren. Dia sempat berpikir bahwa Darren menyewa wanita untuk menemaninya tetapi Darren bukankah pria seperti dirinya. Jadi semua kemungkinan yang berperan dalam kepalanya tidak membantu sama sekali untuk mengetahui siapa wanita itu.


Dia masih mendengar.


"Bagiamana dengan masalah Larry?"


"Kau menyuruhnya kesini hanya untuk menunggu?"


"Baru 1 malam, aku sudah menunggu 5 tahun! Biarkan dia bersabar."


Intonasi suara Darren tidak sama ketika mereka berbicara. Larry bisa mendengar nada hangat disana. Dia juga sedang bercanda.


"5 tahun?" Larry bersuara. Suara itu terlalu kecil untuk di dengar oleh kedua orang diseberang sana. Dan kalimat berikutnya yang didengar Larry mampu membuatnya menjadi kaku dan tidak bergerak.


"Sebagai suami, apa aku boleh melakukannya? " ucap Darren diseberang sana.


Kalimat yang keluar dari mulut Darren membuat ponsel di telinga Larry turun ke lantai dengan santai tanpa hambatan yang menyebabkan sambungan tadi terputus.


"Suami?"


...🖤...


Didalam kamar Resort, lampu-lampu masih menyala dikalakan oleh sinar dari luar.


"Sebagai suami, apa aku boleh melakukannya?"


tangan Darren berada di atas res depan dress yang dikenakan Valerie.


Sang istri tidak mengatakan apapun, tidak juga menggeleng atau mengangguk. Tangan Darren yang tadi berada di sana akhirnya mundur. Dia tidak akan memaksa jika istrinya belum siap menerima. Dia bergerak kesamping dan berbaring disana.


Saat itu Valerei berdiri dan mematikan lampu tidur. Gelap, kamarnya tanpa cahaya. Darren kaget memegang istrinya saat dia merasakan Valerie duduk diperut bagian bawahnya.

__ADS_1


"Valerie?"


"Pelan-pelan" ungkap Valerie pelan.


Darren mendengar permintaan Valerei dan menuntun istrinya untuk turun, dia mengubah posisi menjadi berbaring membelakangi dirinya.


"Terima kasih!"


Ucapan selanjutnya adalah doa-doa terbaik.


Darren tidak pernah membayangkan pernikahannya akan berakhir seperti ini. Dari sekian banyak alasan, salah satu yang paling besar pengaruhnya adalah menghindarkan dia dari tergoda pada wanita-wanita diluar sana, dia tipe yang akan setia pada satu wanita.


Bentengnya untuk bertahan harus kokoh karena menikah adalah solusi terbaik saat itu dan saat yang bersamaan dia melihat tulisan tangan Valerie di taman, wanita ini sudah menyiram api dalam dirinya serta menghangatkan dia dalam salju yang panjang. Darren telah terpengaruh sejak lama, tetapi dia adalah Darren. Lelaki yang tidak akan terjatuh lagi pada wanita. Namun, akhirnya dia terjatuh juga pada wanita yang tepat.


...Sama...


...Aku menengadah melihat langit yang biru....


...Awan putih yang bergerak serta burung- burung berkicau. Semua ini, Apakah kau juga melihatnya?...


...Angin malam berhembus dingin,...


...menerpa pohon yang bergerak lalu jatulah daunnya. Dengan ini, apakah kau juga merasakannya?...


...Ada yang selalu bertanya-tanya, langit saat pagi dan malam hari, apakah yang kita lihat adalah sama? Lalu mengapa kita tidak berada ditempat yang sama....


Puisi buatan Valerie itu membuatnya tersentuh. Tulisan yang membawanya pada wanita yang luar biasa. Dia tidak menyesal dan akan mempertahankan wanita ini selamanya sampai ke surge.


...🖤...


Jeju dingin pagi ini, angin berhembus agak kencang sejak dini hari. Jam 3 pagi tadi, Darren membawa istrinya kembali ke kamar Hotel. Seharian kemarin mereka berada di resort. Wanita itu masih tertidur memeluk bantal guling dengan selimut tebal putih yang menutupi tubuhnya.


"Dingin!" Kata Valerie dalam tidurnya.


Darren masuk ke dalam kamar dari ruang kerjanya. Berjalan ke arah lemari mengambil baju Istrinya. Setelah itu dia mendatangi Valerei dan duduk di ujung kasur. Mengambil remote AC menekan tombol off dan menyalakan penghangat ruangan. Sang suami tersenyum, dia memegang kepala istrinya dari balik selimut, lalu dia mengangkat sedikit selimut dan memasukkan kepalanya untuk mencium kening sang istri yang masih tertidur.


Mendapat serangan pagi, Valerie terbangun. Dia merapatkan selimut. "Penutup." pinta dia pada suaminya, telapak tangannya keluar menjangkau baju yang tadi suaminya bawakan.


"Nola ada di luar. Nanti kalau butuh panggil saja. Aku bicara sama Larry disebelah!" Darren belum pergi setelah menyampaikan tujuannya. Dia menunggu istrinya selesai.


"Nola diluar?" Valerie senang, Darren tersenyum lagi. Suaminya ini banyak tersenyum.


"Hem! Kalau mau keluar pakai baju hangat!" Darren mengecup pipi istrinya dan berpindah ke arah perut Valerei, dia mengelusnya dan mencium disana.


Valerie terdiam, sesuatu didalam sana berdesir, jantungnya berdegup kencang. Dia terheran lagi, sejak semalam Darren terus melakukan hal yang sama, dia merasa aneh tetapi tidak menolak.


"Jangan terlalu jauh mainnya, setelah bicara dengan Larry kita pulang." kata Darren yang dianggugi Valerie.


Darren keluar dari kamar melihat Nola di sana. "Nola, aktifkan pelacak. Jangan terlalu jauh."


Nola mendapat perintah dia menunduk sedikit memberi hormat. "Baik tuan!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2