
Musim baru saja berganti, hangat yang datang setelah panas berlalu dengan rangkaian langit biru dan beberapa awan putih ditambah dedaunan menjadi kuning dan merah, mereka gugur berjatuhan. Suasana yang paling menyenangkan untuk bermain. Beberapa orang akan akan berkumpul di taman, mendaki gunung atau sekedar jalan-jalan bersama keluarga dan orang terdekat.
Dua wanita merangkai bunga di taman rumahnya, bersenda gurau menikmati waktu bersama. Nola, sang pengawal menemani Valerei bermain setelah sekian lama tidak bertemu. Dia tertawa renyah mendengar celotehan sedikit "nakal" pengawalnya.
Nola membahas seorang pria yang ingin dia kencani, melontarkan beberapa rencana untuk mendekati pria itu. Sebagian darinya adalah rencana yang aneh bin ajaib, terbilang anti-mainstream. Valerei membayang bagaimana reaksi pria itu saat Nola melancarkan aksinya untuk mendapatkan hati pria yang katanya adalah seorang kepala keamanan hotel milik Hyuk.
Bayangkan saja dua orang yang pandai bela diri bersama? akan banyak hal yang menyenangkan pasti, pikir Valerei. Nola berhenti sebentar mengatur nafasnya untuk memulai kembali berbicara, matanya selalu berbinar jika berbicara apa yang dia sukai. Bukankah semua orang akan seperti itu? belum lagi semburat merah muda pada pipi tirusnya.
Nola melihat Valerei yang tersenyum saat dia berbicara, mirip seperti seorang ibu yang mendengar anaknya berbicara masalah yang terjadi di sekolah. "Nyonya?"
Valerei berbalik. "Ya?"
"Saya harap anda dan tuan selalu bersama dan bahagia." Dia melihat perubahan yang baik di mansion ini.
"Aamiin, terima kasih Nola. saya juga berharap kamu selalu bahagia." Valerei mengambil tangan Nola dan menggenggam telapak tangannya.
"Aku juga berharap Han di sini, kalian sudah seperti adikku." ucap Valerei. Nola melihatnya lagi dan mengangguk.
...🖤...
Valerei mengintip dari balik celah pintu ruangan kerja Darren. Tadi saat Are masuk, dia tidak menutup pintunya dengan rapat, hal itu menjadi kesempatan untuk Valerei 'mengintai target'
Nola melihatnya takut-takut, "Nyonya, sebaiknya kita ke kamar anda."
Valerei menaruh telunjuknya di atas bibirnya. "Ssstttt. jangan ribut, aku tidak bisa dengar."
"Kalau ketahuan Tuan, nanti bagaimana?" Dia gelisah.
Valerei melihat Nola. "Nola, kau kan jago bela diri, harusnya lebih berani."
Nola membulatkan matanya mendengar perkataan Valerei. "Ya kan itu... kalau yang dilawan tuan Darren, saya mana berani!" tentu saja dia tidak berani, bagaimana bisa dia melawan bosnya yang baik meski galak itu.
"Darren tidak pandai bela diri, jadi jangan khawatir, dia pasti kalah." ejekan yang tidak sopan pada suaminya, membuat Nola bertambah was-was.
Nyonya bukan itu yang aku khawatir dan lagiTuan Darren mana mungkin tidak bisa bela diri, batin Nola menggila karena takut.
Valerei mencoba mengintip lagi, tapi dia kaget karena Are sudah mendekat ke arah pintu. Dia gelagapan berdiri dengan cepat dan mondar-mandir tidak tahu harus bersembunyi di mana. Are sudah membuka pintu dan mendapati Valerei dengan cepat berdiri menghadap pintu dan tersenyum. "Halo Are" dia tertawa canggung.
Are melihatnya juga tersenyum sopan. "Are minta istriku masuk." teriak Darren dari dalam membuat Valerei melotot.
__ADS_1
"Silahkan Nyonya." Are membukakan pintu yang lebar untuk Valerei masuk, dia masuk sendiri, sedangkan Nola berdiri kaku di luar.
Are melihat Nola. "Istirahatlah di kamarmu, Nyonya mungkin akan lama di dalam." Nola memberi hormat kepada Are setelah itu dia pergi.
Valerei masuk ke dalam melihat suaminya yang sedang menatapnya. "Ada apa?" tanya Valerei. Beginilah jadinya jika dia tidak fokus, seharusnya Darren lah yang bertanya. Darren menggeleng, keanehan istrinya.
"Mau makan?" Darren menunggu jawaban Valerei. Bertanya soal makanan pada istrinya butuh waktu yang lumayan lama untuk dijawab.
"Tidak, kenapa kau selalu bertanya tentang makanan, kau memintaku untuk gemuk?" Dia melipat tangannya, berjalan lebih dekat hingga diujung meja dia berhenti.
"Berat badanmu harus naik." Ujar Darren santai, mengambil pulpen dan menandatangani dokumen yang tadi Are berikan.
"Untuk?" tanyanya penasaran. Memangnya untuk sehat harus bertambah berat badan? ini saja sudah over! aneh, batin Valerei.
"Untuk apa lagi? supaya kamu sehat." Dia melihat Valerei, lalu matanya turun menatap bagian tubuhnya yang lain. Supaya dia juga sehat, batin Darren.
"No. aku mau diet, supaya sehat!" Valerei menyingkirkan beberapa kertas dan buku di ujung meja Darren, dia berjinjit dan duduk di sana.
Mata Darren menatapnya tajam, setajam elang yang siap memangsa targetnya. "Jika kakamu berani!" Dia menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Bukan Valerei namanya jika tidak memancing peperangan. Baru-baru ini dia punya hobi membuat Darren naik pitam. "Nanti aku mau minum obat diet!" menjentikkan jarinya ketika dia mendapatkan ide cemerlang.
"Valerei!" Suara rendah dan berat milik darren membuatnya menengok. Valerei terdiam, dia menatap suaminya lalu menunduk. Pipinya terasa panas, dia memerah lagi.
"Baru sadar apa?" Tanya Darren
"Kau..." mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya.
"Em, bagaimana aku harus mengatakannya. Kau tampak, seperti daging atau coklat?"
"Daging atau coklat?" Darren melihat tubuhnya, menjadi penasaran, apa yang istrinya maksud.
"Ingin ku makan rasanya!" lalu dia tertawa kecil karena keabsuran yang dia sadari.
Pria itu mengangguk. "Kau ingin daging dan coklat? akan ku beritahu Are." dia menekan tombol interkom, tersambung. Darren menerjemahkan secara langsung.
"Saya tuan." Jawab Are cepat, Valerei kalah cepat menghentikan tangan Darren.
"Are, beli--" Darren tidak bisa melanjutkan perkataannya, Valerei menjatuhkan buku ke lantai, membuat Darren menatapnya dengan alis terangkat.
__ADS_1
"Kau ada, untuk apa beli daging dan coklat" Valerei berkata, perkataan yang masih didengar Are dari seberang telepon sana. Dia melihat tangan Darren. "Itu, tanganmu, aku boleh memakannya?"
...🖤...
Beberapa pengawal yang mendengar itu tersedak. Mereka sedang makan, Are menatap mereka meminta untuk diam. "Tuan?" Ucap Are.
...🖤...
Darren tidak menjawab, dia melihat Valerei.
"Apa? tutup teleponnya." Pinta Valerei dengan suara kecil.
"Are, nanti minta Han kembali ke mansion." Darren menutup sambungan telepon.
"Kau ini." Ujar Darren
Valerei mengangkat bahunya tidak acuh "Aku kenapa?" Tidak menjawab, Darren memungut buku yang Valerei jatuhkan tadi. Dia meletakkan di sisi lain meja kerjanya.
Valerei menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung, matanya menatap dokumen yang Darren periksa tadi. "Are dari kantor?"
"Seseorang mengantarnya ke sini."
"Siapa?"
"Asisten Are."
"Are punya asisten?"
"Punya."
"Wanita?"
"Pria."
Tidak ada lagi percakapan setelah pertanyaan bertubi-tubi Istrinya. Mereka sibuk dengan kerjaan masing-masing. Melamun juga kerjaan kan? pekerjaan yang tidak bermanfaat. Valerei yang sedang melamun di kaget kan dengan suara ponselnya sendiri. Dia mengangkat telepon yang masuk. nomer tidak dikenal.
"Halo?" Valerei mengapa seorang yang menelponnya.
"KAU AKAN BERAKHIR MENYEDIHKAN!!" teriakan keras itu membuat Valerei menjatuhkan ponselnya. Suara yang menyeramkan dengan nada tinggi membuat tubuhnya limbung ke depan. Beruntung dengan sigap Darren menangkapnya.
__ADS_1
...🖤...
...‘DIA PUNYA CARA MEMBUATKU BERGERAK KEARAH YANG SAMA’...