The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 121 : Leon datang lagi


__ADS_3

Setelah lambaian tangan perpisahan selama seminggu. Leon masuk kedalam apartemen. Bibi itu meletakkan tas yang berisi perlengkapan Leon di samping meja kecil sebelah sofa. Dia meminta Leon duduk di sofa menunggu Valerie lalu dia bergegas keluar dari apartemen.


Bibi itu adalah asisten rumah tangga tetangganya yang berada di lantai atas. Darren mencari seorang yang bisa membantu Valerie mengurus urusan rumah dan bibi itu adalah pilihan terbaik. Dia hanya mencuci baju selebihnya akan dikerjakan sendiri oleh Darren. Tidak akan menganggu pekerjaan utama dia di atas. Tentu atas izin bosnya.


Leon menunggu sembari menonton TV yang sudah terputar kartun. Belum cukup 10 detik Leon duduk di kursi, Darren datang dan tersenyum kepadanya. Dia berjalan lalu memeluk pria itu erat. "Maaf nak, membuatmu menunggu sendiri." Ujar Darren.


"Tidak apa-apa, katanya mami sedang bekerja. Aku bisa menunggu lebih lama." Manis sekali ketika Leon berbicara. Dia anak yang pengertian dalam hati Darren.


"Terima kasih atas pengertiannya."


"Apa mami baik-baik saja?" Tanyanya mendadak, dia punya firasat aneh.


Darren meraih jemari kecil Leon dan membawanya ke kamar. Dengan mata kecilnya, dia manangkap maminya yang terbaring di kasur. Lemas. Kaki dia bawa melangkah mendekat, tangan mungil itu menyentuh kening hangat Valerie.


"Mami," Leon memanggil maminya dengan lembut. Wanita yang dipanggil itu tersenyum membuka matanya.


"Hai anak mami!" Valerie merentang tangannya. Leon ikut tersenyum, masuk ke dalam dekapan hangat Valerie.


"Leon sudah pindah sekolah, Daddy bilang kalau Leon masih sekolah di sana, mami akan memakannya!" Lalu anak laki-laki itu tertawa.


Valerie dan Darren ikut tertawa. "Benarkah? padahal mami hanya mengatakannya tanpa berbiat buruk."


"Sepertinya daddy takut padamu. Apa papi juga takut?"


Mendengar kalimat Leon, Valerie langsung menatap Darren yang di balas senyum oleh sang suami.


"Baiklah, kita butuh makan. Ayo!" Darren mengambil Leon dari dekapan Valerie dan membawanya keluar. Valerie mengikuti keduanya dari belakang.


"Apa papi takut pada mami?" masih bertanya.

__ADS_1


Saat dia duduk di kursi, Valerie juga duduk. Darren membuka penutup makanan, disana sudah banyak makanan yang tersedia. Termasuk makanan kesukaan istrinya, yaitu bakso. Wanita itu ingin mengambil lauk untuk suaminya tetapi Darren menggeleng, justru dialah yang mengambilkan makanan untuk Valerie. Leon tersenyum lagi dan lagi. Keluarga kecil makan dengan lahap ditemani tanda tawa.


.


Setelah waktu makan, Valerie duduk di sofa meluruskan kakinya yang pegal. Dia seharian berbaring di kasur tanpa melakukan apapun entah mengapa badannya pegal-pegal. Sementara Darren di dapur membereskan sisa piring kotor, dia mencuci. Hal yang tidak pernah terjadi, dia bahkan membersihkan toilet setiap kali Valerie ingin masuk. Dia akan memastikan toilet itu bersih.


Ketika di tanya kenapa harus dibersihkan sebelum istrinya masuk, dia menjawab dengan tegas bahwa lumut bisa timbul kapan saja begitupun bekas sabun atau apapun yang akan menimbulkan bahaya harus dibereskan sebelum sang istri menggunakan toilet. Mau tidak mau, Valerie menuruti kemauan Darren, jika dia menolak makan pria itu akan mengambek dalam waktu cukup lama.


Seperti ibu-ibu yang mengidam. Darren punya banyak permintaan. Dia tidak suka bau menyengat dan selalu punya keinginan tiba-tiba. Seperti tadi malam, dia mendadak mual dan meminta dibuatkan Ayam goreng dengan taburan saus manis di atasnya. Padahal Darren tidak terlalu menyukai makanan itu. Dia ingat bahwa yang menyukainya adalah dirinya.


Bulu kuduknya sempat merinding, dia seperti melihat bagian dirinya di dalam diri Darren. Namun, permintaan itu juga punya batas waktu. Cepat datang dan cepat berlalu. Belum habis ayam goreng itu dia sudah tidak berselera dan meminta makanan lainnya. Are adalah orang yang malang itu, dia harus berusaha keras di malam hari, sebab permintaan Darren yang datang pada malam hari. Valerie harus memberi waktu istirahat kepada Are di pagi hari dan meminta Han atau Nola yang berjaga jika suaminya butuh sesuatu.


Kakinya pegal, dia mencari minyak gosok di laci meja kecil di samping sofa. Leon yang berada di sampingnya melihat aktifitas Valerie. Cekatan, dia turun dari sofa dan berdiri di depan meja kecil itu. "Mami cari apa? biar Leon carikan!" Katanya.


"Mami car minyak gosong warna merah, botolnya kecil, sekecil ini." Sembari dia peragakan ukuran botol dengan tangannya.


"Ini mami?"


Valerie mengangguk. "Benar, Leon pintar! Terima kasih."


Darren datang setelah menyelesaikan tugasnya. Dia mengambil botol minyak itu dari tangan Leon kecil. "Biar papi yang urut kaki mami."


Leon menganggukkan kepala dan naik kembali ke sofa. Kembali pada aktivitas menonton kartun di TV. Darren mulai melakukan pekerjaan ketiga hari ini.


"Aku sendiri saja!" Valerie menolak saat kakinya akan di sentuh oleh Darren.


"Kenapa?" Tanya Darren.


Valerie menggeleng. "Tidak apa-apa, itu kaki aku kotor!"

__ADS_1


"Kotor apa? kaki kamu bersih!"


Kemudian Darren menyentuh kaki Valerie dengan tangan dinginnya. "Jangan bergerak!" Terkejut Valerie sesaat setelah dia akan menarik kakinya.Terdiam. Darren tidak marah.


Valerie terdiam cukup lama, selama Darren memijat kakinya dia tidak mengatakan apapun. Menyadari ada perubahan suasana, Darren mengangkat kepalanya melihat istrinya. Wajah wanita itu biasa saja, hanya dia diam merapatkan bibirnya. "Valerie," panggil lembut Darren.


Leon mendengar itu juga menengok ke samping. Dua pria itu memandang wajah Valerie yang terdiam. Merasa jadi objek, Valerie melihat keduanya bergantian.


"Kenapa?" Kata dia terlihat bingung. Tentu saja keduanya juga ikut bingung.


"Mami marah?" Tanya Leon. Pertanyaan Leon adalah pertanyaan yang ingin di utarakan oleh Darren karena itu dia menunggu dengan berharap.


Mendengar pertanyaan Leon, dia memandang lama wajah anaknya. Tangannya bergerak ke arah pelipis Leon yang terluka. "Mami tidak marah, hanya sedih."


"Aku dan papi ada disini, kenapa mami sedih?"


Darren mengambil tisu basah dan membersihkan tangannya dari minyak gosok yang menempel. Setelah bersih, dia menggenggam tangan Valerie erat.


"Aku berharap kebahagiaan ini tidak berlalu. Namun, kehidupan itu penuh misteri. Ada waktu dimana orang-orang bersedih dan bahagia. Untuk berbahagia kau aka merasakan kesedihan begitupun sebaliknya. Apa ada orang yang hanya merasa bahagia atau sedih saja salama hidupnya?"


Kalimat itu mulus keluar dan mendarat di pendengar Darren. Dia juga tidak tahu waktu akan membawanya kepada masa apa. Dia hanya ingin berpikir positif. Istrinya hanya terlalu banyak berpikir dan membuatnya was-was terhadap masa depan. Dia mendekap tubuh istrinya dan Leon.


"Aku akan berada di sisimu dikehidupan kita ini sampai kelak di surga! jadi berbahagialah!" Ucapan Darren adalah kesungguhan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2