
Lim Su Jong berada di kamar menunggu suaminya mandi. Sejak tadi tangannya berkeringat, dia tidak tahu mengapa suaminya pulang cepat tidak seperti biasanya.
Cemas melanda ketika pintu kamar mandi terbuka menampakkan wajah pria itu melihat dengan mata tajam walau terlihat bibirnya tersenyum.
"Tadi dari mana?" tanya pria itu mengeringkan kepalanya dengan handuk kecil.
"Tadi? lagi di restoran sama Inha. Lagi mau makan seafood." senyum terpancar tidaklah
"Oh, tumben. Bisanya minta pembantu yang memasak." Kata-kata itu keluar dibarengi dengan senyum, lagi.
"Oh iya, kamu kok pulang cepat?"
Su Jong bertanya untuk mengalihkan kegugupannya.
"Masalah di Milan sudah selesai. Oh, besok hari ulang tahunmu, mau kado apa?"
Pria itu duduk di sebelah Sujong.
"Liburan boleh?"
"Boleh, mau kemana?"
"Jepang atau China?"
Pria 39 tahun itu mengangguk. Wajah tampannya dapat menggetarkan seluruh italia jika dia berjalan. Semua orang mengenalnya dengan sebutan Prince Damian ** atau Putra dari penguasa gelap italia Damian Steel. Prince Davin Steel.
"Minta mereka menyiapkan kopermu, kita berangkat malam ini."
Prince Davin sangat menyayangi Lim Sujong, dia memberikan apa saja yang dibutuhkan istrinya. Bahkan ketika, wanita itu meminta liburan di hari sibuknya, dia akan mengikuti semua keinginannya.
Inilah yang dilihat Inha saat mengatakan kakaknya tidak pernah bersyukur atas berkah kehidupan nyaman dan berlimpah. Suami tampan yang kaya plus dia sangat mencintai istinya.
"Oh oke, aku bisa ajak inha kan?"
"Tentu saja, dia adikmu!"
Pembicaraan itu selesai. Indahnya menjadi ratu dalam istana dengan raja yang mencintai kekasihnya.
Di kamar bawah, Lim Inha mengirim pesan kepada seseorang.
^^^To. Tuan Muda^^^
^^^- Lim Sujong tidak berangkat ke italia, dia masuk dalam daftar hitam. Anda tidak perlu khawatir, sepertinya keadaan berpihak pada kebenaran.^^^
^^^- Dia tidak mungkin berhenti dengan mudah, anda harus berhati-hati.^^^
Tidak berapa lama pesan balasan dari tuan muda yang dia maksud mengucapkan terima kasih atas informasi yang dia terima. Inha menghela nafas, dia menghianati kakaknya lagi dan lagi.
...🖤...
Larry melirik Valerie yang sibuk dengan rutinitasnya sehabis sarapan, yaitu membaca buku. Dia sudah menghitung, temannya membaca bagian yang sama sebanyak 4 kali. Apa yang menarik dia menjadi penasaran tetapi karena tidak punya minat membaca dia akhirnya diam.
__ADS_1
Semua orang punya kegiatan, hari ini Elena, Rey, Leon dan Jihyo beserta suaminya, Hajoon. Memutuskan untuk melihat pantai lalu berbelanja sebelum pulang malam ini.
Sementara Hyuk yang masih jomblo berada di bilik kamarnya sedang memeriksa tugas mahasiswa dan mahasiswinya. Dia yang tidak memiliki keinginan atau rutinitas hanya bersantai ingin mengganggu tapi belum ada kesempatan.
Jika dia memberanikan diri mengganggu Valerie, takutnya penyesalanlah yang dia dapatkan. Wanita jika sudah marah jangan tanya bagaimana seramnya. Walau dia buka Es batu mungkin dia akan mencair saat itu terjadi. Mari menyelematkan diri, merupakan motto yang harus di junjung tinggi.
"Ehem." tenggorokannya kering memikirkan hal tadi. Dia menarik kulkas kecil di samping sofa, tempat menyimpan minuman saat sedang mager atau malas gerak.
"Mau minum?" hati-hati dengan bahasa sopan nan pelan.
"Yogurt, terima kasih" katanya tanpa melihat Larry.
"Ada beberapa rasa pilih yang kamu suka." dia meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih, oh kalau mau cemilan di kamar ada. Kayaknya yang kita beli kemarin habis deh."
Sembari menunjuk kamarnya dia memberitahu Larry.
"Snack apa?"
"Yang kamu suka, kerucut."
"WOW, aku ambil!"
Larry mungkin punya kekuatan sama seperti animasi jepang yellow flash. Valerie sampai terkejut betapa cepatnya dia.
"Valerie yang mana!?" teriaknya dari dalam kamar.
"Di kerajang dekat jendela, bawa saja keranjangnya kesini!" balas dia teriak.
"Bau ini, "
Hidungnya bergerak cepat, dia menjelajahi ruangan mencari sumber penyebab bau.
Larry berhenti di samping kasur dan menemukan bahwa baunya semakin kuat.
"Apa Valerie pakai parfume lain kalau tidur? Tadi baunya beda" berbicara sendiri.
"Larry!" teriak Valerie dari luar menghancurkan cerita dalam kepalanya.
"Yaa!"
Ada yang aneh! Lari berjalan keluar dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"Aku pikir kau tersesat di dalam!" ucap Valerie melihatnya.
Dia diam tidak membalas, hal itu membuat Valerie mengerutkan alis. "Kau bertemu hantu? kenapa wajahmu seperti itu?"
Larry berbalik melihat dirinya di kaca yang tergantung di dinding. Yah, dia juga mengakui raut wajahnya sangatlah aneh.
"Hantu tidak akan semenyeramkan itu, ini lebih menakutkan dari pada hantu." katanya pelan.
__ADS_1
Valerie tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dia ucapkan temannya, hanya seperti gumaman. "Kau bicara apa?"
Larry gelagapan. "Hah? tidak ada."
"Aneh, kau kenapa?" dia bertanya lagi.
"Tidak ada, memangnya apa yang terjadi." balas Larry.
"Kau bertanya? lihat saja wajahmu," ucapnya menunjuk kaca. "Pasti ada sesuatu yang terjadi, ada apa? kau benar-benar bertemu hantu?"
Dia mendekati Valerie. "Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan?"
Valerie diam, apa yang coba temannya cari. Dia melirik kamarnya sekilas lalu beralih kembali pada Larry. "Kau bertingkah aneh sejak keluar dari kamar, memangnya ada apa?"
"Tadi malam Leon bersamamu?" tanya dia.
Bukannya menjawab pertanyaan Valerei, dia kembali bertanya.
Valerei mengangguk. "Ya, seperti biasa."
"Oh, oke." singkat.
Dalam hati Larry bicara, mungkin Leon.
Larry tidak ingin melanjutkan pembicaraan tadi, dia hanya ingin bersikap positif. Lagipula Valerie tidak akan menyembunyikan masalah penting, pikirnya.
Dia kembali duduk menjauh dan membuka bungkus keripik kesukaannya. Di sela-sela kunyahan dia berbicara. "Aku boleh bertanya?"
Valerie yang kembali membaca buku menoleh lalu mengangguk. "Bertanya apa?"
"Hm, kalau di pikir-pikir aku tidak terlalu jelek, kenapa aku tidak punya pacar?" tanya dia.
Tunggu, dia bicara apa?
"Kau bertanya karena tidak tahu atau karena ada udang diatas bakwan?"
"Aku tidak tahu! udang diatas bakwan itu apa lagi."
"Bukannya kau selalu punya pacar? terakhir kali wanita cantik yang bekerja sebagai sales, apanya yang tidak punya pacar? kalau mau pamer carilah pembahasan lain." serbu Valerie, dia memicingkan matanya pada Larry.
Larry yang mendapati ekspresi tidak percaya temannya tertawa canggung. "Kau galak ya, aku jadi takut bicara padamu sekarang."
"Aku juga, kau semakin aneh saja!" balas Valerie tidak ingin kalah.
Larry menghela nafas, sulit sekali bicara dengan Valerie belakangan ini, bukannya mendapat pencerahan malahan dia dan Valerie sering bertengkar karena hal sepele. Terkadang menjadi mengerti mengapa teman-temannya sering keluar jika bertengkar dengan istri mereka, dia juga ingin keluar mencari udara segar tapi malas menjadi alasan tetap bertahan di dalam rumah.
"Kau selalu menang, baiklah!"
Dia menghempaskan dirinya kebelakang, sandaran sofa menjadi teman terbaik saat ini.
.
__ADS_1
.
.