
Gelap datang lebih cepat, di hati Darren juga menyiarkan hal yang sama. Hyuk masuk untuk pertama kalinya setelah dia menyerahkan ponselnya. Entah tidak berani menampakkan diri atau takut sahabatnya merasa canggung. Dia tidak tahu.
"Ada yang ingin aku tanyakan." Pada Darren.
Darren bersandar di kasurnya setelah minum obat. Dia melihat Hyuk. "Apa?"
"Larry---"
"Jangan bicara lagi," Potong Darren.
Hyuk melihatnya, dia tahu ada yang aneh dengan Darren saat itu. Ketika dia ingin memberitahu Ji hyo soal kakaknya, Darren menghentikannya begitu saja.
"Kalau kau bicara lagi, aku jamin akan berlari menemuinya dan membunuhnya dengan kedua tanganku!" Luapan emosi Darren tidak hanya dari intonasi suaranya tapi juga ekspresi, mimik wajahnya.
Hyuk terdiam. Larry menggali kuburnya. Sudah sejak lama Darren tidak berbicara dengan emosi. Dia hampir lupa bahwa Darren telah menjadi kalem dan lebih banyak bicara. Banyak sekali contoh perubahan Darren si singa menjadi anak kucing.
"Kau tahu Darren, semua ini adalah kesalahanmu. Kalau bukan karena kau menjadi terlalu lembut, Sujong atau siapapun itu mana bisa mendekatimu dan Valerie. Sejak awal sudah seharusnya kau meninggalkan mereka. Mana mungkin kekuasaan Hill group di negaranya ternodai dengan orang-orang milik Dav orang luar. Benarkan?"
Dia benar, Hyuk benar. Dia juga memikirkan itu terus menerus. Pria itu tidak pernah mengambil tindakan tegas dan hanya membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan rencana jahat mereka. Seandainya dia peka terhadap masalah Valerie sejak awal, istrinya tidak akan meninggalkan dirinya. Pikir Hyuk.
Dia mengerti Darren berubah menjadi baik, dia juga berharap perubahan baik itu terus terjadi. Tapi dia seperti menganggap semua orang sepertinya, mencoba menjadi baik. Padahal tidak semua orang memiliki sifat dan karakter yang sama. Darren seharusnya lebih tahu dari siapapun, tapi mengapa dia membiarkan semua orang yang mendekatinya punya niat jahat.
Hyuk geleng kepala. Dengan semua harta dan kekuasaannya di sini. Mustahil Darren bisa di kalahkan oleh Dav apalagi Sujong, Yu Min bahkan Bin. Dari sanalah dia menyadari jika takdir telah di tetapkan, apa yang manusia kehendaki belum tentu sesuai dengan apa yang terjadi. Mungkin, mungkin saja keputusan Darren adalah jalan takdir keduannya.
"Aku tidak pernah berharap keputusan ini menjadi bumerang dan melukai orang di sekitarku. Saat itu aku hanya berpikir untuk tidak kembali ke masa lalu, dimana hanya ada darah dan kesengsaraan. Aku ingin memulai semuanya, pernikahanku dengan Valerie adalah salah satu awal kehidupanku yang baru-- ini merupakan keputusan paling berharga yang kubuat,
"Jujur saja Hyuk, aku tidak pernah merasa kehilangan sampai mengoyak hatiku, bahkan saat ayah kandungku meninggal. Perasaan ini tidak begitu berat, mungkin di sebabkan oleh luka yang dia berikan sejak kecil. Maaf mengatakan hal seperti ini. Tapi itu kenyataan."
Hyuk mengangguk, dia berusaha mengerti keputusan Darren. Seperti perkataan dia tadi, takdir mereka sampai di sana. "Lalu Lar---" Hyuk berhenti. Darren sudah mengatakan untuk tidak menyebutkan nama Larry tapi dia harus mendapat jawaban dari Darren. Aku harus bagaimana? Kata dia dalam hati.
Darren melihat infusnya yang hampir kosong. "Infusku hampir habis, tolong panggilkan perawat." Hyuk ikut melihatnya, dia berdiri dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Darren di tinggal sendiri. Segera dia telepon Are menanyakan keberadaan Larry. Di seberang telepon Are menyampaikan keberadaan dari sahabat bosnya itu. Menurut Are, pria itu sedang berada di villa. Semenjak kejadian Valerie di ambil paksa oleh Sujong dan Bin, dia tetap di sana dan tidak pernah keluar.
Sempat Darren curiga, pria itu pingsan atau mati di dalam villa tanpa di ketahui oleh orang-orang tapi kecurigaan Darren di bantah ketika Are melihat Larry keluar sebentar mengambil paket di gerbang. Hanya sekali dan dia tidak pernah melihatnya lagi.
"Are, kau harus pergi dinas." Sambungan telepon di putuskan Darren setelah dia menyampaikan tugas Are berikutnya.
Hyuk datang dengan seorang perawat yang membawa air infus baru. Setelah selesai Hyuk kembali duduk di sofa. Sibuk memeriksa chat yang masuk. "Kau tidak pergi ke makan Valerie diam-diam kan?" Tanya Hyuk.
Pria yang di tanya merasa pertanyaan Hyuk aneh. "Kenapa aku harus diam-diam?"
Awalnya dia tidak percaya tapi akhirnya dia ber-oh ria. "Aku pikir kau kabur kesana seorang diri. Ah, sekedar informasi. Elena mengunjungi istrimu, dia bilang Leon tidak mau pulang dan ingin tidur di samping maminya."
"Bagaimana keadaan Leon?" Darren ingat pesan istrinya.
"Hyuk tersenyum tipis yang di paksakan. " Tapi syukur, dia mau pulang."
"Leon itu anak yang perhatian dan pengertian, tapi terkadang sangat sulit untuk membujuknya." Pria itu mengingat kebersamaan dengan Leon dan Valerie sebelumnya.
Hyuk mengangguk. "Kau benar, Leon bersikeras tidak ingin pulang tapi saat Rey secara tidak sengaja menyebut namamu, Leon langsung mundur. Apa yang kau lakukan pada anak kecil sampai dia trauma mendengar namamu?"curiga, Hyuk bercanda.
Hyuk merinding. "Istrimu itu suka sekali membuat orang berjanji." Tertawa kecil, dia teringat sahabatnya. Dengan kepandaiannya berbicara, siapapun akan luluh.
"Bagaimana Rey menyebut namaku? Semoga dia tidak mengumpat di depan anaknya."
Rey tidak mungkin memberinya pujian. Dia berpikir sebaliknya.
"Belum lebih tepatnya, dia baru akan menyebutkan titik titik tapi Elena sudah melotot." Sewaktu dia mendengar perkataan Rey, dia sedikit terkejut. Apa semua istri dari keluarganya sangat menakutkan.
"Oh, bagaimana perusahaanmu?" Hyuk sempat mendengar gosip-gosip yang beredar jika Lee Seok Hoon atau Darren Lee akan meninggalkan perusahaan yang dia bangun dengan susah payah.
"Diurus orang lain." Itu saja.
__ADS_1
"Kau jual?"
"Di urus orang lain bukan berarti di jual. Ahh, mungkin lebih baik di urus orang lain dari pada perusahaan kacau. Aku berencana pergi ke Itali sampai waktunya kembali tiba."
Suasananya berubah menjadi dingin dan canggung setelah Valerie mengatakan rencananya. Hyuk diam menghela nafas panjang dan berat. Dia tahu itu tidak akan mudah.
"Kau meninggalkan Valerie?"
"Tidak, justru aku berencana memindahkan Valerie kesana."
Hyuk memijat pelipisnya. "Kau sudah mengambil keputusan?"
Darren mengangguk.
"Kau tahu italia adalah wilayah Frederick, kau bisa kembali atau tidak setelah dia mengetahui tentang istrimu akan jadi masalah. Kalau kau siap!"
Dia mengangguk lagi.
Sahabatnya tidak bisa banyak menuntut dia. Perasaan Darren hanya dialah yang tahu. "Baiklah, kalau butuh sesuatu katakan saja. Aku akan langsung menemuimu."
Darren tersenyum kecil. Dia tidak akan bisa tinggal di mansion. Rumah yang dia bangun bersama istrinya telah kehilangan penghuninya. Datang ke itali merupakan salah satu caranya menemukan dirinya kembali.
.
.
Darren menyadari dia telah terbiasa dengan Valerie. 'Mengikhlaskan dirimu bersama dengan itu bait-bait dalam puisi menjadi doa yang telah terbang diangkasa menuju tempat tuhan kita. Kau dan aku telah berpisah di dunia ini, tidak lagi menjadi sepasang yang sama. Aku tidak akan meninggalkan dirimu, dan tidak akan menduakan kau. Wanita yang akan menjadi pengantinku hanya kau. Kelak, tolong cari aku. '
Darren menuliskan puisi untuk Valerie dan disimpan di botol kaca yang di larutkan ke laut. Harapan selalu ada, baginya Valerie adalah salah satunya.
.
__ADS_1
.
.