The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 78 : Jeju again, bertemu Larry


__ADS_3

Valerie sudah bisa jeluar dari rumah sakit. Leon juga harus kembali ke rumahnya. Sementara mereka berdua bersiap keluar dari apartemen, Elena dan Rey berada di bawah apartemen Valerei untuk menjemput Leon. Valerei meminta mereka menunggu di sana, sekalian dia pergi ke supermarket seberang jalan untuk berbelanja keperluan yang sudah habis.


Tangan Rey menggengam tangan Elena erat, dia mengisiri lingkungan apartemen Valerie dengan matanya. Lindungan yang cukup tenang dengan taman. Dia jadi berpikir ingin membeli apartemen yang berdekatan dengan temannya itu jadi saat dia dan Elena keluar ada yang menjaga anaknya. Ide terpintas dikepalanya.


"Lain kali kita titip aja Leon sama Valerei kalau mau bulan madu, oke?"


Rey si kumat bulan madu menemukan ide cemerlang. Dulu, dia tidak pernah meminta karena Valerei terlalu sibuk bekerja saat sampai di Korea. Tetapi, sepertinya dia harus menggunakan kesempatan yang ada saat Valerei sedang cuti.


Elena memukul tangan Rey. "Jangan kabur kamu! kak Valerie sudah cukup membesarkan Leon. Sekarang giliran kamu! Enak aja main titip!"


Aduh. Bukannya mendapat persetujuan, dia malah dihujani ceramah pagi. Tapi memang benar perkataan istrinya, dia belum melakukan apapun sebagai ayah.


Beberapa menit kemudian dari bangunan apartemen terlihat dua orang yang berjalan ke arah mereka. Rey melambai tersenyum kepada Valerei dan Leon.


"Makasih ya Vaa!" Rey mengambil tangan Leon. Dia menerima anggukan dari Valerei.


Leon memeluk maminya, sudah waktunya dia pulang. "Mami?"


"Ya?"


Valerei berjongkok menyamakan tinggi Leon.


"Lain kali aku boleh ikut mami lagi?"


"Boleh!" Valerei mendongak melihat Rey. "Daddy mu pasti senang!" tambahnya. Tentu saja Valerie tahu bahwa Rey tersenyum senang mendengar anaknya berbicara. Jika saja hati dapat berbicara dan didengarkan maka dia akan mengatakan semua kebenaran.


Elena tertawa, akal-akalan suaminya ketahuan. Valerei nih bos, senggol dong!


"Makasih kak!"


"Sama-sama."


...🖤...


Pemilik Wang group baru saja mendarat di Korea. Dia berjalan dikelilingi bodyguard berjas serba hitam. Walau terlihat tenang, dia dapat merasakan jantungnya berdetak kencang. Dua hari lalu, Darren menelepon menyampaikan bahwa masalah Ji Hyo yang di selidiki sudah selesai, mereka mendapat bukti.


Karena kabar itu, dia yang seharusnya masih dalam perjalanan bisnis untuk bekerjasama dengan pihak asing harus di hentikan. Masalah adiknya lebih darurat. Saat mendengar bahwa dia sedang bersiap melancarkan kerjasama itu, Darren memberinya saran agar menunggu sampai kesepakatan kerjasama itu sukses, tapi Larry tidak ingin mengambil resiko hancurnya pernikahan adiknya. Jadi dia membiarkan kesempatan itu hilang begitu saja.


Darren meminta menemuinya di hotel milik Hyuk. The Sand prince Hotel. Bicara soal The Sand Prince Hotel, nama yang kalau kata Larry sangat kekanak-kanakan itu diberikan oleh seorang wanita asal Benua Amerika. Kesepakatan lainnya terjalin disini. Wanita bernama Margaret Thatcher adalah tunangan Hyuk saat itu. Karena tidak menyukainya, Hyuk membuat kesepakatan kerja, jika dia setuju membatalkan pertunangan maka hotel yang berada di Jeju menjadi miliknya. Dahulu namanya Ocean Hotel and Resort..


Tentu saja menarik bagi Margaret, dia setuju dan hotel itu jatuh ke tangannya. Namun, namanya dia tidak ada bakat dalam mengelolah hotel. Belum cukup 1 tahun, hotel itu bangkrut dan tidak menyisahkan apa-apa. Hyuk berinisiatif mengambil kembali tetapi Margaret memberikan syarat bahwa namanya tetap seperti itu, The Sand Prince.


Dari pada dibiarkan terbengkalai, dia setuju saja. Hyuk bisa saja mengganti nama itu dengan membayar denda tetapi dia tidak ingin Margaret kenyamanan dengan uang darinya tanpa bekerja. Lagipula, nama tetaplah nama yang penting metode layanan harus lebih baik dari hotel lain.


Manajemen yang dulu bekerja untuk ocean Hotel dikembalikan lagi ke tempatnya. Mereka kembali membangun hotel itu dari 0. Beberapa bangunan yang telah roboh, saat Margaret memimpin, juga telah dikembalikan. Nuansa Ocean Hotel berdiri lagi dengan nama yang berbeda.


Walau Larry terus mengejek nama hotelnya, setiap tahun dia datang menginap secara gratis. Teman yang baik. Mendengar kelakukan temannya, Ha Joon mengejeknya, mengatakan dia tidak memiliki cukup uang untuk bersenang-senang. Padahal dia tahu itu hanya candaan. Tidak mungkin, bagi pemilik Wang grup.

__ADS_1


"Darren sudah sampai?" tanya Larry pada bawahannya


"Di Hotel tuan." memberikan secarik kertas yang berisikan nomor kamar Darren.


Larry sudah mengira. Sejak dulu, temannya itu tidak pernah menginap di kamar lain. Selalu sama, dia sampai hafal. Bahkan perabot yang dia gunakan tidak pernah diubah. Kadang, dia berpikir bahwa Darren punya penyakit mental. Ngeri sekali.


"Darren itu aneh kan?"


Entah kepada siapa dia bertanya.


Ada yang bertanya, mengapa Jeju? Karena Darren mewanti-wanti serangan selanjutnya, jika ada. Dia hanya berhati-hati saja. Dia juga mendengar semuanya dari Ho Young, bahwa pemimpin baru kelompok HARI telah ditaklukkan. Itulah yang dia katakan, benar atau tidak, maka dialah yang tahu. Plus informasi bahwa pemimpin baru itu wanita.


.


Kamar Hotel


"Darren?" panggil Valerei yang santai berbaring telungkup di kasur. Kakinya tidak bisa diam.


"Ya?" Darren berada di sofa yang menghadap ke arah kaca, pemandangan laut di depan menyilaukan mata.


"Apa Larry sudah mendarat?"


"Baru saja." fokus pada dokumen di tangannya. Kemanapun dan kapanpun Darren selalu bersama pacar kesayangannya. Valerei yang melihatnya bosan, dia terus fokus pada dokumen itu sejak mereka di pesawat. Ah tidak, sejak dirumah.


"Nanti, aku tidak bisa ikut dong?"


Skeptis, perkataan Darren serius atau dia hanya menyindir.


"Pemilik hotelnya kemana lagi?" kata Valerie menggerutu, dia pikir temannya ada di Jeju karena dia tidak ada di seol.


"Bukannya Hyuk pamit sama kamu?" tanya Darren.


"Pamit kemana?"


Darren meletakkan pekerjaannya dan berbalik ke belakang. Justru wajahnya yang tidak percaya itu mengundang pertanyaan Valerei. "Kenapa?"


"Hyuk tidak bilang apa-apa?"


"Bilang apa?"


Sang suami memperhatikan setiap ekspresi sekecil apapun dari Istrinya. Karena tidak menemukan kebohongan, dia menggeleng. "Tidak apa-apa!"


"Bilang apa!?" Valerei mendesaknya, tapi suami dia tidak menjawab.


Dia turun dari ranjang mendekati Darren. "Bilang apa?"


"Tidak apa-apa." kembali membuka Email dan melihat pesan yang belum dia buka tadi.

__ADS_1


Valerei kesal sendiri, dia menjulurkan lidahnya dan duduk di samping Darren. Sang suami yang merasa tingkat istrinya menggemaskan tertawa kecil.


"Ketawa terus, dia pikir kita pelawak kali ah!"


.


Larry sudah berada di hotel, dia memesan kamar yang berada di lantai sama dengan Darren. Tepat di samping kamarnya. kamar Darren 2008, kamar Larry 2006


Dia membuka gorden yang menutupi kaca. Pemandangan di depannya bukan hal yang luar biasa, menurutnya. Dia bisa mendapati pemandangan itu di hotel manapun di Jeju. "Pemandangan disini dengan milik Darren apa bedanya?" Lagi, dia berbicara sendiri.


Lalu, dia membuka kaca balkon, keluar dan menghirup udara segar Jeju. Lantas, dia melirik balkon sebelah, tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. "Darren, kalau bukan kerja apalagi?" Larry mengejek.


Baru dia akan kembali ke kamar, suara pintu kaca terbuka memasuki indra pendengar Larry. Jelas, dia mendengar suara yang tidak mungkin berada di kamar Darren terdengar.


"Darren?"


.


No. 2008 Presiden Room


Valerei membuka pintu kaca menuju balkon. Dia tidak keluar hanya berdiri di batas pintu. Melihat pemandangan laut di depan. Angin kencang baru saja membuat matanya perih.


"Darren?"


"Hem?" Jawabnya.


Valerei melangkah menjauhi balkon dan duduk di sofa. "Kenapa dulu kita tidak sering kesini?"


"Kamu terlalu sibuk!"


"Aku?"


"Hem!"


"Aku seksi tidak?"


"He-- hah?" Dia sadar, cepat sekali.


"Ihhss!" Valerei menghadiahi pundak Darren dengan pukul agak keras.


Mereka berdua sedang asik bercengkrama, Larry disebelah entah sedang memikirkan apa?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2