
Valerei merasa sesak, Darren belum melepaskan dia sejak tadi, semakin lama pelukan itu semakin erat. Bahkan Nola yang duduk di belakang sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Bosnya. Serindu apapun dia pada kekasihnya, dia tidak akan memeluk layaknya Darren memeluk Valerei.
Karena merasa geli, dia mencolek Valerei di punggung. Dia tahu bahwa istri bosnya ini tidak bisa bergerak, untuk melepaskan rasa aneh dalam dirinya dia mencoba. "Kenapa Nola?" Sahut Valerei mencoba berbalik melihat pengawalnya, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Darren tapi Darren malah memeluknya lebih erat.
Menghela nafas Valerei menggigit lengan Darren, orang yang digigit mengkerutkan kening. Namun, cara itu berhasil, dia terlepas dari kurungan suaminya. Valerei menoleh ke belakang. "Ada apa Nola?"
"Tidak apa-apa Nyonya." gelengan yang dipaksakan karena Darren juga ikut berbalik, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia geli melihat tingkah Bosnya, sementara Darren adalah orang yang memberinya gaji. Dia hanya tersenyum canggung.
Hening, Darren tidak lagi menempeli Valerei seperti tadi, dia duduk di samping dengan tenang. Saat mobil melewati toko eskrim terkenal favorit istri bosnya. "Nyonya, ada toko eskrim kesukaan anda" Han menunjuk toko yang baru saja dia lewati.
"Jalan saja Han!" tegas Darren.
Valerei tidak protes, tapi itu adalah eskrim favoritnya, dia memalingkan wajahnya ke jendela menatap jalan dengan wajah cemberut. Satu-satunya orang yang tidak menyadari Valerei marah adalah Darren, ketiga orang di mobil itu melihat Valerei dengan cara masing-masing.
Han yang sedang menyetir melihatnya melalui kaca tengah, rear-vision mirror. Lalu Are yang duduk di samping Han berbalik sekilas ke belakang. Sementara Nola yang paling jelas melihatnya karena posisi duduknya berada di jok belakang.
Nola mendesah, suara desahannya terdengar bahkan sampai ke depan. Valerei menoleh menaikkan alisnya pada Nola. Canggung, Nola hanya tersenyum sembari menggaruk lehernya yang tentu tidak gatal.
Valerei melihat jalan, arahnya tidak membawanya pulang tapi ke tempat pertama kali datang, rumah Ho Young. "Kita belum pulang?" tanya dia bingung.
"Belum, masalah Wang belum selesai."
"Oh!" Kesal, bukan karena masalah Wang tapi sikap Darren tiba-tiba menjadi dingin dan tidak peka. Padahal jika melihat kebelakang sikap Darren memang sudah seperti itu, baru-baru saja sikapnya terlihat aneh. Hanya saja kali ini Valerei sedang dalam keadaan di mana semuanya nampak sensitif baginya.
Suami yang tidak peka itu berbalik melihatnya. "Ada apa?" Darren memegang lutut Valerei.
Tetapi karena terlanjur kesal Valerei tidak menghiraukan pertanyaan Darren, dia bergeser ke depan dan bersandar di belakang kursi Han yang sedang menyetir. "Han, buatkan aku ayam goreng ya?"
Are merasa akan ada perang dingin lagi antara Valerei dan Darren. Di belakang Nola meringis. Dalam hati juga merasakan perasaan Are.
Melihat itu, kening Darren langsung berkerut. "Vaa!?"
__ADS_1
Valerei kembali mengalihkan tatapannya pada kaca jendela mobil melihat pemandangan jalan tanpa menggubris panggilan Darren yang seperti peringatan. Diam, tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Baik Darren, Valerei dan ketiga pengawal itu.
...🖤...
Perjalanan melelahkan itu belum usai, mereka tiba di markas tempat Ho Young tinggal. Semuanya turun termaksud tawanan yang dibawa Ho Young saat ingin menyelamatkan Yun di markas baru kelompok HARI serta orang-orang yang berada di Villa Bin, adiknya.
Melihat Adiknya yang pengecut itu lari, Ho Young pun tidak kuasa menahan umpatan dalam hati. Mengingatkan betapa gilanya dia, membuat Ho Young perlu waspada lebih. Apalagi Yun telah meminta bantuan, sudah pasti psikopat itu akan meminta balasan. Dia perlu mengawasi gerakan anak buahnya ke depan, jangan sampai hal kecil membuatnya gagal.
Singgasana nyaman miliknya akhirnya bisa di rasakan lagi. Tangannya mengetuk-ngetuk sandaran tangan yang terbuat dari kayu. Setiap ketukan membuat bulu kuduk pendengarnya gelisah, menunggu atas hukuman itu lebih menakutkan.
Yun, Dori dan Sen berdiri di depan bersama para Ketua kelompok bagian. Mereka menunggu Ketuanya berbicara. Saat Ho Young mengangkat pistol ditangannya Yun kecil berlari dari atas, membuatnya harus mengundurkan tangannya kembali kebelakang.
"Ayah!" dia berlari cukup kencang dan berhamburan ke pelukan Ayahnya.
"Bukannya kau tidur? Ayah sedang bekerja, Naiklah." Ho Young cukup ramah, dia tahu nada bicara saat bersama anaknya sampai dibatas yang paling toleran.
"Oh, tapi.. Apa teman Ayah itu jahat?" tanya dia, sambil menunjuk ke atas tempat Darren dan Valerei istirahat.
"Mereka bertengkar, Yun tidak bisa istirahat!"
"Bertengkar?"
Mata Ho Young otomatis melihat pintu yang terkunci rapat. Tidak mungkin Yun mendengar pertengkaran keduanya jika memang mereka bertengkar, karena semua ruangan di bangunan ini kecuali kamar anaknya bersifat kedap suara. Bahkan suara tembakan tidak akan terdengar keluar.
Dia mengacak-acak rambut anaknya dan melihat Yun. "Kau bisa temani Yun tidur?" Tanya dia, Yun menjawab dengan mengangguk.
"Ayo Yun!" Panggil tegas wanita pada anak kecil di depannya.
"Kita bicara nanti!" ujar Ho Young saat dia mengangkat Yun kecil ke pelukannya.
Mata mereka saling beradu, Yun mengangguk lagi setelah itu mereka menaiki tangga dan menghilang dari padangan Ho Young.
__ADS_1
Ho Young memperhatikan anak buahnya. "Pastikan bukti mereka bekerjasama serta rekaman itu untuk diberikan kepada Ji Hyo, adik Wang!" katanya dan mengusir mereka kembali bertugas.
"Baik Kak!" Sahut ketua sayap Timur sebelum pergi di ikuti oleh semua orang kembali ke posisi masing-masing.
Ho Young mengalihkan pandangan untuk kesekian kalinya melihat ruangan Darren dan Valerei. Bertengkar? mereka?
...🖤...
Kamar Yun kecil
"Di mana kau mendengar mereka bertengkar?" Tanya Yun saat menarik selimut untuk menutupi badan anak 'teman baiknya'.
"Seorang laki-laki keluar dari dalam. Ah pria yang terus bersama teman ayahku itu. Dia keluar dari ruangan pintunya terbuka, karena itu aku mendengar saat melewatinya." Jelasnya mengingat kejadian tadi.
Yun merasa haus, dia turun dari ranjangnya dan pergi menemui Sen, saat akan melewati ruangan Darren dia kaget saat pintu terbuka, begitupun orang yang baru saja keluar. Pintunya tidak tertutup rapat, saat itulah suara dari dalam mengagetkan dia.
"Apa yang kau bicarakan!" Suara Pria itu jelas milik teman Ayahnya, dia yakin.
Lalu siluet wanita menampar Pria terlihat olehnya, membuatnya memalingkan wajahnya lalu Pria yang baru keluar juga kaget dan menutup pintu itu. Kejadian itu cepat.
"Anda akan kemana? biar saya antar!" Kata pria itu.
"Tidak perlu, ini rumah yang sering aku datangi" Kata Yun kecil lalu dia pergi.
Yun tidak percaya apa yang dia dengar, seperti yang dia tahu bahwa Darren memang pria cuek dan dingin tapi dia tidak pernah mendengar Darren akan berteriak dan membentak wanita, apalagi ini istrinya. Apa yang dia lihat beberapa hari ini dan apa yang Yun bicarakan benar-benar bertolak belakang.
.
.
.
__ADS_1