The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 79 : Larry mendapat 2 kabar


__ADS_3

"Wanita?" jackpot.


"Darren bersama wanita?" Larry berpikir keras. Dia bertanya dua kali memastikan apa dia tidak salah.


Kakinya melangkah mendekat ke arah pembatas balkon, dia menajamkan pendengarannya. Samar-samar suara itu terdengar lagi, tetapi Larry tidak mendengar dengan jelas. Jiwa kekepoaan mulai menyeruak, naik ke permukaan dari dasar paling dalam dirinya. Merasa kesal, dia menaiki pembatas balkon dari kaca, kepalanya di dekatkan ke arah target. Meski sudah seperti itu, dia masih belum bisa mendengar apa yang terjadi..


Saat dia menghadap ke bawah, Larry di kagetkan seorang tukang kebun yang melihat dia bingung. Terlihat layaknya pencuri yang ketahuan akan melaksanakan aksinya. Karena malu, perlahan dia turun dan masuk ke dalam kamar tanpa berbalik. Pintu balkon juga sudah ditutup.


"Ah, malunya!" mengacak rambut pendek hitam miliknya.


Larry mengambil ponselnya, dia mendial nomor teman yang bisa di agak bergosip. Namun, semua temannya tidak mengangkat telepon. Jadi, akhirnya menelfon Valerei yang sudah beberapa kali mengabaikannya. Menganggu orang sibuk adalah kesenangan Larry. Tidak perlu di tanyakan.


Sampai nada panggil ke 4 baru Valerei mengangkatnya.


"Halo?"


"Valerei?"


"Ya!"


"Kok kamu baru angkat teleponku? kemarin kemana? kamu menghindar? Aku ada salah ya?


Dari balik sana Valerei menghela nafas jenuh. "Larry? bernafas!"


"Oh ya maaf. Ngomong-ngomong, aku punya berita"


...🖤...


"Berita?" kata Valerei mengulang apa yang baru saja dibicarakan Larry.


“Yah, berita heboh. Kau tahu Darren kan?”


“Ya, ada apa dengan temanmu?”


“Aku dan dia akan bertemu di Jeju lalu kau tahu aku mendengar suara wanita di dari kamarnya.”


Darren yang berada di sebelahnya, mendengar semua perkataan Larry. Tidak ada yang berbeda, ekspresi tetap sama. Bisa saja. Valerei yang awalnya terkejut, juga mulai santai mendengar berita heboh dari temannya.


"Oh, kudengar kau ke Jeju?"


Valerei ingin menyudahi perkara Darren memiliki wanita.


"Oh benarkah? baiklah, Larry aku ada urusan, nanti ku telepon!" dan Valerei mematikan sambungan ponsel itu ketika Larry sudah mengatakan 'iya'.


Valerei melihat Darren, dia tersenyum. "Kira-kira, kalau Larry tahu, dia bakal musuhi aku?"

__ADS_1


"Mungkin iya mungkin juga tidak!"


Menjawab seperti itu dia mendapat hadiah sinis dari istrinya. Apa yang aku katakana?


...🖤...


Night Blue


Larry menunggu Darren di sebuah bar, Darren yang biasanya bersih dari minuman keras sekarang memintanya bertemu di sini? Dia terheran. Sesaat, matanya menatap ke bawah melalui kaca dari raung VVIP, banyak sekali orang yang datang, bukan cuma muda-mudi bahkan orang yang sudah berumur juga ikut berpesta. Beberapa dari mereka wanita sedang menari diatas panggung. Pemandangan yang sudah biasa, menurutnya.


Sudah 1 jam menunggu tapi Darren belum datang. Memeriksa ponselnya yang sejak tadi dia abaikan. Dia menertawai diri sendiri, saat melihat pesan dari Darren. Larry menertawai kebodohannya, ketika memeriksa pesan dari Darren sebelum berangkat. Hanya melihat tulisan Night Blue dan dia pikir itu Club malam.


Sempat ada dalam pikirannya yang mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Darren berada di sana tapi dia mengabaikan perasangka itu tanpa memeriksa pesannya lagi. Ternyata, Darren memintanya datang ke café depan pantai dan bukan club malam.


Dia terheran, betapa bodohnya sampai tidak mengecek dengan jelas arah tujuannya. Botol bir di depan sudah kosong. Dalam hati, dia menyadari dirinya sudah mabuk. Larry memanggil pengawalnya.


Night Blue Cafe


Valerei menunggu di ruangan sebelah. Darren memaksanya untuk ikut, padahal dia berpikir akan tidur saja. Cake tiramisu dan keju yang dipesankan Darren sudah habis, dia bosan. Menelungkup kepalanya, disela-sela itu Valerei terkantuk dan alam mimpi telah melambai mesra akan membawanya, tapi suara Larry membuatnya terjaga kembali.


Dia mengerjap matanya, menyesuaikan pandangan yang hampir buram. Valerei berdiri dan berjalan ke arah dinding yang memisahkan antara ruang satu dan ruang lainnya. Telinganya ditempelkan disana, agar dia bisa mendengar perbincangan tetangganya.


Semantara di sebelah, pria itu masuk ke ruangan dengan keributan kecil, Larry benar-benar mabuk. Pengawal Larry memberi hormat kepada Pria yang duduk anggun di kursi.


"Tuan Darren."


"Beberapa botol tuan." katanya. Dia pamit keluar.


"Darren!" panggil Larry keras.


"Kau mau bicara seperti itu?"


"Tentu saja!"


"Pulanglah, nanti kau juga akan lupa!"


"Tidak akan sayang! ayo kita bersenang-senang!" Larry maju, dia akan memeluk Darren, saat bersamaan. Are, pengawal setianya masuk dan mencegah pria itu mendekati bosnya.


"Tuan anda sudah mabuk." ujar Are menahan tubuh teman bosnya.


"Oh! Siapa ini? Are? bukan, bukan!" rancunya, dia merosot, tapi saat akan menyentuh lantai, tubuhnya bergerak naik lagi, tangannya digoyangkan ke kanan-kiri.


"Tidak, tidak! apa kau alien?" tanya dia menyipitkan matanya, berusaha melihat Are dengan jelas. Kita tahu, seberapa kuat usahanya, dia tetap tidak akan melihat Are dengan jelas.


"Hem, imut!" selanjutnya, hal yang paling memalukan dilakukan Larry. Dia menarik kedua pipi Are.

__ADS_1


"Jadi pacar om!" teriak dia. Lagi-lagi mempermalukan diri sendiri.


.


Valerei mendengar semuanya dari sebelah. Dia merasa akan muntah mendengar nada bicara Larry. Apa yang dia katakana? Katanya dalam hati.


"Jadi pacar om? dasar Larry!" meringis, temannya tidak waras lagi. Dia berjanji tidak akan terlalu dekat dengan Larry. Jangan sampai kita dibawa lari sama om-om, ucap dia lagi dalam hainya.


.


Larry tertawa.


Darren yakin, jika mereka memaksa bicara temannya ini bahkan tidak akan mengingat apa yang dibicarakan. Menggeleng, meminta bawahan Larry membawanya pulang ke hotel. Mereka lebih baik bicara di hotel saja.


Alasan, Mereka tidak berbicara di hotel karena permintaan Larry. Katanya sudah lama dia tidak bepergian keluar saat di Jeju, padahal beberapa bulan yang lalu, dia pergi ke Jeju dengan seorang wanita. Bilang saja, mau cari mangsa, sambil menyelam minum air, kata Darren dalam hati.


The Sand Prince Hotel, 22.00


Larry tertidur pulas tanpa melepaskan pakaian yang dia kenakan tadi. Dia tenggelam dalam ketidaksaran karena pengaruh alcohol.


Darren dan Valerei berada di kamarnya, mereka duduk di sofa menonton salah satu film kesukaan Valerei yang diputar ulang, sambil menikmati cemilan malam. Valerei yang sangat menyukai keripik udang tidak berhenti menariknya keluar dari toples hingga membuat suaminya geleng kepala.


"Masih mau?" Tanya Darren, melihat toples isi toples hampir habis.


"Kenyang!"


Dia jadi bertanya-tanya, istrinya ini menonton sambil ngemil atau makan malam. Darren melihat jauh ke arah pantri, banyak sekali bungkus kripik. Sebelum kembali ke hotel, istrinya berbelanja di market kota. Bisa dikatakan, dia hampir mengosongkan rak cemilan. Jika bukan kram diperutnya, dia tidak akan berhenti.


Saat, Valerei bergerak, Darren menahannya. "Mau apa?" tanya dia.


Valerei menunjuk pantri. "Mau ambil keripik!"


"Tadi katanya kenyang?" Darren tidak salah bertanya, dia jelas mendengar istrinya mengatakan bahwa dia kenyang. Tetapi, dia mengatakannya pada ibu hamil yang sedang sensitif.


Tatapan matanya melemah, bibirnya sudah manyun, sebentar lagi dan.. Valerei menangis. Darren menutup matanya sebentar lalu membawa Valerei kedalam pelukannya. "Maaf, maaf!" dia mengucapkan maaf berkali-kali.


Valerei mendorongnya, dia berjalan menjauh dan masuk ke dalam kamar, tidak lupa mengunci pintu itu. Habislah Darren, istrinya akan mengamuk untuk waktu yang lama.


Mata Darren mengikuti sampai istrinya masuk ke kamar lalu dia beralih ke kripik yang menjadi penyebab kemarahan istrinya.


Bisakah dia mengumpat?


Kripik sialan. Dia akan meminta Are mengukum kripik ini di markas.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2