The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 44 : Ho Young, Kehidupannya


__ADS_3

10 tahun sudah, Ho Young bekerja sebagai mata-mata kelompok KOM. Dahulu dia seorang mantan pasukan khusus. Setelah 20 tahun yang di lalui, dia memutuskan keluar dari kesatuan yang membesarkan namanya di dunia militer dengan alasan yang tidak diketahui.


Ho Young menghilang, bersama alasan itu dia pergi dengan sangat misterius. Keluarga dan teman-temannya tidak tahu dimana dia berada sampai beberapa tahun, tepatnya 5 tahun setelah kepergiannya, dia kembali. Perbedaan itu cukup jelas, sikapnya pada lingkungan berubah. Dia bukan lagi orang yang sama. Pada keluarganya, dia menjadi orang asing.


Umur Ho Young tak lagi muda, 47 tahun. Namun jika dibandingkan dengan Rey dan Ha Joon dia cukup muda. Orang biasa mengatakannya dengan sebutan baby face? Ya mungkin begitu. 30 tahun yang lalu adalah awal pertemuan Darren dan Ho Young.


Saat itu, Darren berumur 7 tahun dan Ho Young 17 tahun. Mereka bertemu saat Ho Young sedang melaksanakan tugas bersama seniornya di dalam kesatuan. Begitu hebat dia! umurnya bahkan baru 17 tahun tapi kemampuannya melebihi banyak orang. Karenanya, dia banyak di percaya melakukan tugas yang berbahaya.


Ketika mereka sedang melakukan pengintaian di villa, terbilang cukup mahal di pinggir kota. Karena kesalahan rekannya, dia akhirnya di tangkap oleh musuh. Hari yang sama Darren dan keluarganya sedang mengunjungi villa. Darren samar mendengar teriakan kesakitan seseorang, hanya sekali lalu menghilang. Darren memberanikan diri melihat ke area hutan di belakang, dia berjalan sampai tepi danau dan menemukan tali yang di ikat di pohon, ujung talinya tidak terlihat karena berada di bawah danau. Dia memegangnya talinya cukup tegang seperti ada benda berat yang diikat di bawah.


Karena tidak bisa di tarik naik, Darren punya ide, dia berlari pulang mengambil pisau. Dia berencana memotong talinya. Setelah mencoba, talinya putus tapi tidak ada yang terjadi. Dia menunggu cukup lama lalu berbalik. Belum jauh Darren, dia mendengar suara air dan berbalik. Saat itu, dia melihat seseorang keluar dari air, lantas Darren berlari melihatnya. "Kau bisa berenang?" menjulurkan tangannya untuk membantu remaja itu. Anak yang keluar dari air itu mengangguk dan mengambil tangan Darren.


Uhuk uhuk uhuk. terbatuk-batuk dia saat sampai di pinggir danau. Darren menepuk punggungnya agak keras.


"Kau baik-baik saja?" dia menepuk punggungnya.


"Kau perhatikan anak itu jangan sampai lolos." Darren terdiam, ada dua orang yang yang datang, mereka berjalan ke tempatnya. Dia cepat membantu orang itu berjalan melewati semak-semak di samping danau. Jalan rahasia jika dia pergi bermain di danau lalu di panggil ibunya. Semak-semak itu terhubung dengan taman villa milik Darren.


"Kita sudah sampai, kau aman." ucap Darren, dia lega.


"Aku bisa berjalan, karena sudah menolongku, aku pasti membalas jasamu." dia menekan tombol pemancar lokasi, lalu bunyi bib dengan layar yang berkedip beberapa kali. Setelah itu muncul kata 'terdeteksi'. Dia menyimpan kembali ke sakunya. Untung saja masih berfungsi, pikir Ho Young.


"Kau yakin?" tanya Darren, Ho Young mengangguk.


"Baiklah, ini untukmu." Darren memberikan coklat kesukaannya, dia pergi.


...🖤...


"Kau sudah mendapatkannya?" Ucap seorang pria dengan dialek khas daerah miliknya.


"Tidak Kak, sepertinya dia ingin bermain-main denganmu." Pria bertubuh kecil dengan tato dua naga melingkar di pergelangan tangannya berbicara.


Pria yang dipanggil Kakak itu tertawa dengan keras. Pisau kecil ditangannya dia mainkan lalu di tancamkan ke samsak di depannya. "Bermain-main? hah! kedua tangannya sudah ku remukkan bagaimana dia bisa bermain-main." Semua orang di sana tertawa mengikutinya.


...🖤...


Sebuah rumah di tengah hutan berdiri kokoh. Beberapa orang terlihat sibuk dengan ponsel mereka, sebagian lagi duduk di paviliun kecil ditepi jurang. "Bagaimana?" tanya seorang dengan Gaya nyentrik khas anak hip-hop

__ADS_1


"Aman." Dia memberi kode dengan jempol.


"Sebaiknya benar-benar aman! kalau tidak bos bisa membuang mu ke laut!" Sahut seorang lagi di pinggir.


"Aku tidak suka laut, kau saja yang pergi." dia menimpali kata-kata rekannya.


Suara helikopter terdengar mendekat, mereka bisa melihat heli turun secara perlahan. Mereka langsung berdiri, bergegas berbaris menundukkan kepala. Bos mereka datang.


"Kak!" Kompak mereka. Seorang pria turun, dia mengenakan setelan santai tapi tidak menghilangkan aura mengerikan.


"Kerja bagus!" Dia memuji bawahannya.


"Malam ini pesta." Kata dia lagi. Dia memberikan kartunya. Semuanya bersorak gembira.


Malam telah menunjukkan eksistensinya, mereka sibuk berpesta, lalu datang seorang anak kecil membuat keributan dengan suara tinggi cemprengnya. "Hentikan!!" dia berteriak. "Dimana ayahku!?" Anak itu masih berteriak.


Semua orang diam. Dari belakang pria berjalan mendekati anak kecil itu. "Kecilkan suaramu, mereka bisa mendengar dengan baik." Pria itu tegas.


"Kenapa kau tidak pulang! Kau tidak tahu aku menunggumu?" dia bertolak pinggang, berjalan dan menendang kaki pria yang dia panggil ayah.


Dia di angkat seperti karung beras, semua orang di sana menggeleng melihat tingkah anak dari Bosnya.


Ketika dia berteriak memanggil nama lengkap ayahnya, seorang wanita menegurnya. "Sopan sedikit anak kecil." sahut dia yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Ohh, turunkan aku!" Dia diturunkan lalu berjalan ke arah wanita itu.


"Cantik, siapa namamu?" Ucapnya genit.


"Kau masih kecil beraninya menggoda." kupingnya di jewer, dia kaget saat melihat jelas wajah wanita itu.


"Kakak Yun!? maaf aku tidak melihatmu dengan jelas." dia cepat meminta maaf. kupingnya sudah merah. dia sedikit menjauh.


"Kau pria kecil genit! jangan sampai aku melihatmu menggoda wanita lagi." dia mengepalkan tangannya seolah-olah ingin memukulnya.


"Baiklah Kakak Yun, ini tidak akan terjadi lagi." dia tertawa kecut. Sudah terjatuh tertimpa tangga pula. Tangga besi pula. Malang nasibku sahut dia dalam hatinya yang menciut karena melihat kembali wanita itu setelah beberapa tahun tidak bertemu.


"Sana bermain, jangan mengganggu Ayahmu." usir dia. Juni kecil berlari menjauh. Dia pergi mencari orang kepercayaan Ayahnya, Dori.

__ADS_1


Ayahnya menggeleng. "Dia hanya takut padamu."


Dia tidak menjawab, wanita yang di panggil Kak Yun oleh Juni kecil bertanya masalah lain. "Jadi bagaimana dengan orang itu?"


"Siapa maksudmu?" Katanya lalu duduk.


"Dua naga, mereka masih sibuk mencari masalah?"


"Walau mereka mencari masalah, memangnya kenapa? hadapi saja!" dia tidak terlalu perduli.


"Aku dengar mereka mematahkan 'kedua tanganmu? apa benar?" Dia hanya mendengar rumor, karena itu dia kembali.


"Tangan yang mana? Dori ada di bawah, kau juga melihatnya, Sen? (menunjuk pria yang sedang latihan angkat besi diruang sebelah) dia di sana dengan pacarnya."


Pacar yang Ho Young maksud adalah barbel dan alat-alat fitness lainnya.


"Kasihan sekali mereka! di jebak satu kali itu kesialan tapi jika di jebak untuk kedua kali dia sungguh tolol." Dia tertawa terbahak-bahak, tapi Ho Young menggeleng. "Mereka juga tidak bisa di anggap enteng! kau juga harus hati-hati." Pesan yang selalu dia sampaikan.


"Akan ku ingat! oh ya, hampir ku lupakan. Aku punya sesuatu untukmu," dia berjalan mengambil sesuatu dari tasnya.


"Pakai, itu keberuntungan." dia memberikan cincin. Ho Young melihatnya dengan tatapan 'ini apa?'


"Cincin, kau tidak pernah melihat benda seperti ini?" dia mengejek.


"Bukan, maksudku untuk apa?"


"Jimat!" ucapnya cepat


"Kalau begitu tidak kupakai." dia meletakkan cincin itu di atas meja.


"Yaak, aku membelinya untukmu. kau puas!?" Kesal Yun di buatnya.


Pria tidak peka, batin Yun.


"Kau bilang ini jimat, kau tahu aku tidak percaya." Dia mengingatkan Yun.


"Aku hanya bercanda, apa kau bodoh?" Yun kesal sendiri lalu turun melihat-lihat isi rumah ini.

__ADS_1


.


.


__ADS_2