The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 98 : Hyuk & Kediamannya


__ADS_3

Hyuk yang sedang sibuk mengecek semua tugas mahasiswanya mendadak berhenti karena panggilan dari kediamannya.


"Ya?" ketika dia menjawab telepon suara di seberang sana gaduh. Firasat dia datang dengan tidak baik.


"Kak darurat! bisa kau pulang sekarang juga."


"Apa yang terjadi?"


Dia mewanti-wanti kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut lelaki itu.


"Aku kehilangan wa---"


Hyuk tidak mendengar lagi, dia menutup teleponnya, mengambil tas dan jaket lalu bergegas keluar.


Pintu yang terbuka dengan keras membuat kedua manusia di ruang keluarga otomatis menengok sang pembuat keributan. Wajah pria itu pucat hal pertama yang mereka lihat.


"Ada apa Hyuk?" tanya Larry


Keduanya yakin ada hal yang mengerikan terjadi sebab ekspresi Hyuk mengerikan untuk dikatakan baik-baik saja.


"Apa yang terjadi?" Kali ini Valerie yang bersuara.


"Aku harus kembali. Maaf, ada urusan mendadak." dia keluar tanpa mendengar jawaban kedua temanya.


Larry akan mengejar Hyuk tapi Valerie menahannya . "Dia terburu-buru, tidak usah dikejar."


"Tapi,"


"Hyuk pasti ada alasan, kau tidak lihat ekspresinya? artinya memang ada urusan yang darurat." jelas Valerie.


Diluar, Hyuk menelepon temannya yang berada di Jeju. Dia meminta untuk naik helikopter karena tidak sempat membeli tiket pesawat atau menghubungi orang-orangnya yang berada di seol. Keadaan darurat ini tidak mengizinkan dia membuang-buang waktu.


“Halo?"


Sapa seseorang dari seberang sana


"Kirimkan aku helikopter, aku harus kembali Seol sekarang."


"Kau di Jeju ya? datang ke kantorku atau tunggu di sana, aku akan meminta orang menjemputmu."


Dia setuju


"Tidak perlu, aku akan ke sana. Terima kasih!" kata Hyuk


Pria itu menutup teleponnya, dan berjalan keluar dari halaman rumah. Pengawal Rey turun dari mobil dan memberikan hormat sekaligus menyapa dengan sopan.


"Pagi tuan."


"Pagi, cuacanya dingin silahkan lanjutkan tugas kalian."


Hyuk tersenyum dan berjalan ke seberang, terdapat cafe kecil yang menjual minuman seperti jus. Ditempat itu mereka menyewakan motor listrik, dia berniat naik itu ke kantor temannya. Jaraknya tidak jauh, sekitar 5 menit dengan jalan kaki dari rumah mereka menginap, dia mempersingkat waktu dengan menaiki motor listrik.


Pemandangan sepanjang jalan sangat indah, namun dia tidak bisa melihatnya dengan leluasa. Pikirannya sudah berada di tempat lain, dia pergi lebih dulu meninggalkan tubuh Hyuk yang masih di Jeju. Motornya melaju dan akhirnya sampai, di sana temannya sudah menunggu. Hyuk menyalami temannya.


"Terima kasih!" kata dia.

__ADS_1


Temannya tersenyum sembari menunjuk helikopter yang sudah bersiap di helipad.


"Nanti kita bicara, kau sebaiknya segera berangkat."


Hyuk berterima kasih lagi.


...🖤...


Kembali ke Villa


TRING, pesan masuk ke ponsel Valerie. Elena mengirim pesan bahwa mereka setuju untuk makan siang di luar dan meminta kedua orang itu berada di villa pergi ke lokasi yang sudah dia kirim.


"Larry, kita makan diluar. Mereka mengirim lokasi"


Larry menghela nafas. Hari ini dia tidak ingin keluar, rasa malas melandanya.


Dia memilih berbaring dari pada berganti pakaian. "Aku malas, apa mereka tidak lelah?"


"Aku tinggal kalau kau lama!" Ujar Valerie sembari berjalan masuk ke kamarnya.


"Ah! lelah dan lelah." dia mengeluh tetapi tetap mengikuti perkataan Valerie masuk ke kamarnya untuk mengganti baju.


Dalam perjalanan dia dan Valerie cukup sibuk pada ponsel masing-masing. Larry mengecek chat yang penuh, dia membalas satu persatu. Sedangkan Valerie melihat foto-foto di beranda Instagramnya.


Tidak terasa 20 menit mereka sampai, lokasinya berada di depan laut dengan bebatuan di pinggirnya. Suara ombak yang terhempas mengenai bebatuan menimbulkan suara menenangkan. Valerie mengeluarkan ponsel dan mulai memotret.


"Sini!" teriak Jihyo dari samping.


Rey melihat ke belakang tetapi tidak menemukan keberadaan salah satu sahabatnya.


"Balik duluan dia, katanya ada urusan darurat." ujar Larry, dia duduk dan meneguk kopi entah milik siapa.


"Urusan darurat apa? dia bilang sesuatu sebelum pulang?" tanya Hajoon.


Larry mengangkat bahunya. "Tidak bilang apa-apa, Hyuk cuma pamit katanya ada urusan mendadak dan harus pulang, aku dan Valerie belum bicara, dia sudah lari keluar."


Mereka saling pandang, tidak biasanya.


"Dia naik apa?"


"Naik kadal! pakai tanya lagi, naik pesawat lah. Mana mungkin dia naik kapal, Hyuk mabuk laut." gemas Larry menjawab pertanyaan iparnya.


Mereka sampai lupa bahwa temannya itu mabuk laut.


"Tidak biasanya," ucap Rey.


Larry mengerutkan dahinya ketika dingin angin menyapa. "Tidak salah?"


Rey menengok. "Apa?"


"Kalian memilih makan diluar dengan cuaca ekstrem begini?" kata dia lagi menepuk-nepuk pundaknya.


Hajoon menyahut. "Kencang apanya, biasa saja! bajumu saja yang tipis."


Valerie juga merasakan hembusan angin cukup dingin. "Kita di dalam yuk, kasihan Leon nanti kena flu."

__ADS_1


Rey setuju tapi dia tidak bisa berkata apapun pada kedua wanita yang duduk berdampingan.


"Di dalam penuh" dia menunjuk ke dalan, mereka bisa melihat melalui kaca. "Lagipula, mereka berdua maunya makan di resto baru ini, katanya lagi hits."


"Pakai jaket tambahan kalau begitu, nanti masuk angin." ujar mami Leon. Dia menarik pelan Leon ke pelukannya.


Valerie tidak mengatakan apapun lagi, setidaknya Leon tidak akan terkena flu itu cukup. Mereka menikmati makan siang walau udara lebih dingin.


...🖤...


Kediaman Kang Hyuk menjadi heboh karena hilangnya seorang wanita. Mereka sedang mencari kesemua ruang di kediaman ini tetapi keberadaan Anna sama sekali tidak terlihat hingga kini.


Setelah menghubungi Hyuk, pria tadi kembali melihat tempat yang mungkin berpotensi, namun wanita itu belum juga terlihat. Dia harus menemukan wanita itu sebelum Hyuk pulang katanya dalam hati.


.


09.00 AM, kediaman Kang Hyuk. 3 jam sebelum dilaporkan hilang.


Wanita itu turun ke lantai 1 untuk pertama kalinya. Dia tidak pernah tahu bagaimana bentuk kediaman yang dia tinggali karena tuan rumah tidak mengizinkan dirinya berkeliling.


Kaki kecilnya melangkah perlahan sembari melihat-lihat sekeliling. Kosong, tidak ada satupun pengawal atau pelayan.


Memberanikan diri lebih jauh, dia melangkah lebih cepat. Saat kakinya lelah dia bersandar pada satu pintu berwarna hitam. Anna memperhatikan warna pintu yang berada di mansion sangat berbeda dari pintu ini.


Menjadi penasaran, dia posisikan dirinya tegak. Perlahan tangannya menggerakkan handle pintu dan terbuka. Pintu itu tidak terkunci.


"5 menit, setelah itu aku pergi." kata dia pada diri sendiri.


Saat mencoba mengintip, badannya terhempas ke depan seperti ada yang mendorong. Entah bagaimana dia sudah berada di dalam ruangan itu dan pintu tertutup kembali.


Gelap, tidak ada cahaya yang dapat dia lihat. Wanita itu mencoba berdiri, meraba-raba barang didekatnya. Namun, tidak menemukan apapun, dia menyadari bahwa ruangan itu mungkin kosong.


Kembali dia berjalan pelan ke arah pintu, menggedornya beberapa kali tetapi tidak ada tanggapan dari luar. Sekian lama dia semakin lelah, wanita itu memutuskan untuk berhenti.


"Pasti ada sakelar," katanya.


Dia mencoba meraba-raba dinding hingga tangannya menyentuh sesuatu yang tertempel disana. Otaknya langsung bekerja.


"Remote?"


Tangan dia sibuk memencet beberapa tombol secara acak, tapi tidak membuahkan hasil. Lalu, dia mendekatkan remote itu ke wajahnya mencoba melihat lebih dekat.


"Ah, tetap tidak bisa!"


Usahanya gagal. Dia perlahan turun dan duduk di lantai. Remote yang dia letakkan di sampingnya secara tidak sengaja tertimpa sedikit pahanya dan tirai di belakangnya terbuka menimbulkan suara.


"Hai!"


Suara wanita.


"Apa itu!?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2