The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 116 : Larry mulai mencari tahu


__ADS_3

Dari atas balkon Larry memandang langit yang telah berubah menjadi gelap. Baru saja melihat bintang bertabur, kini Jemarinya menyentuh tetes air yang turun dari sana. Cuaca tidak menentu. Langit menjadi sensitif.


Bicara soal sensitif, indra penciumannya juga tidak kalah. Menarik nafas dalam dan menghembuskan kembali. Dia dongakkan kepalanya meresap adegan yang akhir-akhir ini memusingkan.


Sesuatu menanrik dia kembali pada moment itu, penemuan dia ketika di Jeju. Jelas dalam ingatannya bahwa itu sesuatu yang nyata, indra penciumannya merupakan yang terbaik dari semua indra yang dia miliki. Kemungkinan dia mengalami kesalahan adalah Nol.


Larry memutar agar semua pas dalam kepalanya, seperti puzzle. Tetapi ada yang hilang dari sana. Mencari bagian yang menghilang, mungkin akan sulit. Yang pertama, dia takut. Yang kedua, dia tidak ingin.


Bencana baginya, kalau itu benar terjadi. Namun, untuk apa dia hidup dalam ketidaktahuan jika bisa menemukan jawaban yang tepat. Dia merogoh saku celananya, mengambil sekotak rokok yang entah sejak kapan dia baru melihatnya lagi.


Dia tidak berhenti, hanya beberapa hari kesibukannya membuat dia lupa. Diletakkan di ujung bibirnya, siap bertemu dangan teman lama, api. Larry memutar korek besi berwarna silver, membukanya lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya, dia tetap membakarnya. Larut dalam kenikmatan.


Setelah sejam melakukan reuni, Larry kembali ke dalam, menutup pintu kaca dan menarik gorden berwarna abu-abu. Turun ke bawah menemui pengawalnya. Di tangga, dia memanggil salah satu orang yang berjaga.


"Panggil Wi jun ke atas."


Pengawal itu mengangguk dan bergagas pergi memanggil orang yang di maksud.


Hanga beberapa menit lamanya, Wi Jun datang. Memakai baju santai, dia tersenyum kecil sembari mengangguk menyapa orang di depan.


"Jun, cari tahu kegiatan Valerie beberapa hari setelah pulang dari Jeju. Cari semuanya! Jangan ada yang ketinggalan."


"Dan, aku ingin kau memata-matai Darren!"


Perintaj itu wajib di patuhi tapi, dia sedikit khawatir. Untuk mencari tahu kegiatan seorang wanita baginya tidak ada masalah. Bahkan, saat ini dia bisa memberi Larry laporan lengkap. Hanya sehari.


Namun, yang dia khawatirkan ketika memata-matai Darren? bagaimana dia sanggup? Bahkan pengawal Rey ataupun Hyuk saja sangat menghormati Pria itu. Kebenarannya, dia tidak akan bisa menemukan apapun terkait Darren.


Hal terburuk, dia akan segera ketahuan. Dia tidak bisa mengatakan kepada Larry. Apa boleh buat, selidiki saja.


Dia pergi.


Pelan-pelan, dia harus mengungkapkan semuanya perlahan. Menjadi terburu-buru akan menimbulkan kesalahan yang fatal. Kebenaran yang terungkap, mungkin tidak akan sesederhana yang dia temukan.


"Kau berbohong atau tidak ingin mengatakannya? Saat itu terbuka, apakah aku akan tersenyum atau berteriak marah, aku juga tidak tahu. Bagiku, kau orang yang penting tetapi bagimu aku ini apa?"


Larry melihat foto dirinya dan teman-temannya. Disana mereka tersenyum lebar begitupun dirinya. Beberapa saat, dia simpan kembali bingkai foto di depannya lalu dia berdiri.


Belum cukup langkahnya sampai ke pintu, Larry berbalik kembali dan mengambil bingkai foto. Dia melihatnya sebentar dan membantingnya di dalam laci yang baru saja di buka.


Brak


Bingkai foto itu sudah tergeletak terpalik di dalam sana, sebelum dia pergi di tutup laci itu dengan keras.


Menemukan bahwa dirinya tidak bisa bersikap biasa saja, dia mengumpat dalam hati. Dia masih dalam proses menerka-nerka, bagaimana jika benar adanya?

__ADS_1


...🖤...


Setelah beberapa hari dia berdiam diri di rumah. Wi jun datang memberi kabar soal penyelidikannya. Sebelum dia membuka pintu terlihat raut ragu di wajahnya. Berbeda dengan Larry yang berada di dalam ruangan, dia berharap kali ini akan berhasil.


Wi jun mulai melangkah membuka pintu ruang kerja Larry, dia membungkuk ketika sang pemilik ruangan melihatnya. Larry berdiri melangkah berpindah ke sofa. Wi jun melihat itu dan mengikutinya lalu berdiri di depan meja.


Tidak ada dokumen di tangan Wi jun, Larry mengerutkan alisnya. Dia skeptis, memeringkan kepalanya kemudian menatap mata Wi jun meminta penjelasan. Larry berusaha tenang tetapi tangannya terkepal di samping.


“Apa yang kau dapatkan?” tanya Larry.


“Maaf tuan,”


Dia bertaruh bahwa ini adalah kata yang paling dia tidak sukai.


“Jangan meminta maaf, aku ingin laporan tentang keduanya!”


“Saya benar-benar tidak bisa menemukan apapun, maaf tuan.” lagi.


Walaupun tidak ingin mengakui, laporannya nihil. Dia tidak bisa menemukan apapun terkait keduanya. Entah mungkin di sembunyikan atau memang pada dasarnya tidak ada apa-apa. Baik Valerie maupun Darren semuanya bersih. Tidak ada interaksi diluar begitu juga di dalam hubungan pertemanan mereka. Mendadak Larry mengambil ponselnya setelah memikirkan kemungkinan lain.


Menekan nomor Hyuk dan membuat panggilan. Akan tetapi, orang yang ditelepon menonaktifkan ponselnya. Dia mengetuk meja kerjanya. Bayangan masa lalu melayang diingatannya, sewaktu Valerie memberitahu dirinya bahwa dia sudah menikah.


Mungkinkah itu nyata? Atau hanya bercandaan seperti yang kupikirkan selama ini?


Dia begitu khawatir terhadap apa yang akan dihadapi. Larry mencoba sekaki lagi, dia menekan nomor telepon kediaman Kang.


Kata seseorang dari seberang telepon.


Larry menerka perempuan yang menerima teleponnya adalah pembatu kediaman Hyuk. Dari nada bicaranya, umurnya mungkin sekitar 20an?


"Apa Hyuk ada di rumah?"


Tanya Larry langsung.


"Hyuk? Tu- tu- tuan Hyuk? Ah, maaf anda siapa?"


Hyuk?


"Larry!"


Ucap dia tegas.


"Tunggu sebentar tuan Larry, saya akan memanggil pengawal tu--tuan Hyuk."


Larry menaikkan alisnya sebelah, canggung mendengar asisten rumah tangga itu memanggil Hyuk dengan sebutan tuan.

__ADS_1


Kenapa aku yang mendengarnya sangat tidak nyaman?


Beberapa saat, seseorang telah berbicara.


"Tuan Larry?"


"Ya!"


Larry mengenal suara itu, dia asisten pribadi Hyuk.


"Tuan Hyuk sedang dinas ke luar kota, mungkin sekitar 3 hari."


"Mungkin? Kau tidak ikut?"


"Tidak tuan, tuan Hyuk bersama Nona Luna Kim."


Luna Kim? Namanya tidak asing, siapakah gerangan.


"Luna Kim? Dia siapa? Pacar Hyuk?"


"Tunangan tuan Hyuk, anak dari menteri pendidikan."


Hah! Aku ingat.


"Oh, baiklah. Jika dia datang sampaikan pesanku, aku tidak bisa menghubungi ponselnya. Sepertinya dia sibuk."


"Baik tuan."


Larry memutuskan sambungan itu, meletakkan ponselnya di atas meja.


"Hyuk kembali bersama Kim ji won dan dia tidak bilang?"


Larry tersenyum, dia punya alasan menemui Valerie. Hyuk, maaf. Aku harus memakai berita ini untuk menemukan kebenaran. Kali ini dia menelepon Valerie. Namun tidak seperti Hyuk. Ponsel temannya aktif tapi wanita itu tidak mengangkatnya.


Dia kembali mencoba, hingga bosan melanda. Kemudian dia memeutuskan untuk mengirim pesan suara. Valerie akan terkejut jika melihat jumlah panggilannya barusan.


Pesan suara yang di kirimkan Larry.


‘Kau dimana? Ada yang ingin kukatan. Kau akan tertarik mendengar informasi ini. Ayo ketemu.’


Larry juga mengirim beberapa pesan teks, jaga-jaga pesan suaranya tidak di dengar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2