The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 80 : Masih di Jeju


__ADS_3

Pagi hari, The Sand Prince Hotel. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari sarapan pagi dengan nuansa pantai. Sejak subuh tadi setelah dia melaksanakan kewajibannya, Valerie bergerak menuju pantai. Disana terdapat resort yang jika kita keluar dari sana pinggir pantai berpasir putih itu sudah menyapa kaki. Jangan tanya apa dia masih marah, itu tentu saja. Saking kesalnya, dia tidak pamit pada Darren dan hanya berbicara dengan Are, sang pengawal.


Buah segar dan beberapa sandwich isi daging menjadi sarapannya, tidak lupa susu yang wajib dia minum. Beruntung sekali, dia masih bisa menikmati semuanya. Saat ditengah-tengah sarapan nikmat, datang anak kecil laki-laki memberinya bunga mawar merah.


"Ini?" Valerie bingung.


"Untukmu!" katanya.


"Dari siapa?" tanya lagi.


"Pria itu!" Dia menunjuk seorang pria dengan kacamata hitamnya duduk di kursi santai pantai.


"Oh, adik! tolong kembalikan lagi bunganya." Valerie tidak menerima bunga itu. Jangankan menerima, senyum saja tidak saat melihat pria asing.


Anak kecil itu mengambil bunga dari tangan Valerie dan berjalan kembali ke arah pria misterius. Valerie bisa melihat, pria itu tersenyum saat anak kecil tadi memberinya bunga. Namun, dia tidak menghiraukan lagi dan kembali makan.


Beberapa saat, anak kecil itu datang lagi dan membawa bunga mawar putih. Valerie bahkan tidak menyentuh mawar itu dan menyuruh dia mengembalikannya kepada pemilik tadi. Dia tetap melanjutkan sarapannya dan melihat-lihat keliling pantai.


Untuk ketiga kalinya, dia harus diganggu. Lagi, anak kecil itu kembali datang dan kali ini, dia membawa bunga mawar pink. Melihat itu, Valerie jadi benci mawar, dia mual seketika.


"Adik. aunty, wanita yang sudah menikah! tolong sampaikan kepada om itu." Valerie sudah tidak berselera untuk sarapan pagi. Dia pergi meninggalkan tempat itu kembali ke dalam kamarnya di resort. Menutup rapat-rapat pintu kaca lalu menarik gorden hingga tidak menyisakan cela siapapun melihat ke dalam.


...🖤...


Darren bahkan tidak bisa marah, dia hanya meminta Are mengikuti istrinya diam-diam. Dari atas kamarnya, dia bisa melihat resort tempat istrinya tinggal. Dia sengaja menelepon temannya, mencarikan istrinya kamar tanpa sepengetahuan dia. Agar lebih muda katanya, mengingat kali ini banyak sekali orang yang berlibur ke Jeju.


Dia mengecek pekerjaannya. Namun, pesan masuk dari Are membuat kepalanya mendidih. Dia melihat satu-persatu dan bertambah marah.

__ADS_1


Are mengirim dia beberapa foto pria yang menganggu istrinya. Tab yang berisi pekerjaan kantor itu sudah terhempas jatuh. Se-marah apapun Darren, dia tidak pernah melempar barang. Tetapi kali ini entah mengapa, amarahnya sampai membuat dia kehilangan akal sehat.


Darren keluar dari kamar membanting pintu. Berjalan menyusuri lorong lalu setelah sampai di lift dia menekan tombol turun. Saat dia ingin masuk, Larry keluar dari lift. Larry kaget dan menyapa Darren tapi Darren sama sekali tidak menghiraukan dia dan menutup liftnya setelah dia masuk ke dalam. Dilirik saja tidak.


Tangan Larry menggantung di udara. Dia, terlihat bingung, sampai berpikir apakah dia melakukan dosa besar pada Darren semalam? Larry merinding, dia tentu kenal Darren dengan baik dan tahu bahwa Darren bukan orang yang mudah ditangani. Wajahnya juga bukan wajah yang ramah tapi melihat sendiri ketidakramahan itu membuatnya ngeri.


"Dia benar-benar, seperti singa!" katanya menggeleng dan kembali ke kamar.


Siapa saja yang melihat Darren pasti akan terpanah, dia berjalan keluar dari hotel menyusuri jalanan kecil disebelah yang akan membawanya pada resort di depan pantai. Han yang baru turun dari mobil melihat Darren terlihat kesal, dia melangkah mengikuti bosnya, tetap berada di belakangnya agak tertinggal.


Saat berada di pelataran resort, Are datang dari arah pantai. Dia bergegas karena melihat Darren sudah masuk dari jauh. Memberi hormat seperti biasa dan memberikan informasi siapa pria yang menggoda istrinya. Setelah di cari tahu, pria itulah adalah adik dari pemilik resort yang artinya adik teman Darren. Bukannya pergi menemui pria tadi, dia berjalan ke arah kamar Valerie.


Darren tidak perduli, istrinya akan melempar dia dengan segala macam barang, asal dia bisa masuk. Pintu depan kamar itu diketok, tiga kali sampai Valerie membukanya. Wajahnya datar, dia melihat Darren di depan. "Sudah sarapan?" tanya Darren.


"Tadi sudah, ada apa?" menjawab dengan malas-malasan, dia melihat sendal yang dipakai Darren.


"Masih marah?" Darren menatapnya lurus.


Valerie pikir suaminya akan tertawa, tetapi dia hanya melihat dengan ekspresi datar lalu kembali melihat Valerie. "Buru-buru." Dia masuk dengan santai setelah mengucapkan kata itu. Are dan Han menunduk pada Valerie dan pergi dari sana. Bosnya sudah masuk, mereka tidak mungkin ikut dalam drama keluarga.


Santai Darren duduk di sofa, dia mengamati setiap sudut ruangan ini. Lalu beralih ke arah kaca besar yang ditutupi tirai membuat nuansa remang di dalam ruangan terasa. Hanya lampu tidur yang menyala sementara lampu utama Valerie matikan, juga tidak ada cahaya yang masuk ke dalam ruangan sebab diblokir agar tidak menganggu apa yang sudah diatur.


"Kamu lebih suka disini?"


"Tidak juga!"


"Lalu, mau kembali ke hotel?"

__ADS_1


"Tidak juga!"


"Terus mau bagaimana?"


"Kamu bicara dulu sama Larry, nanti kita bahas masalah pribadi!" Valerie mengambil minuman dari kulkas dan memberikannya kepada Darren.


Darren mengambilnya dan membuka tutup botol itu lalu diberikan kembali kepada Valerie. Namun, Valerie menggeleng. Perutnya tidak nyaman meminum minuman dingin sejak semalam. "Tidak suka?"


"Terlalu dingin, perutku nanti kram."


Ah, Darren mengerti. Dia mengambil barang dari saku kemejanya dan memberikan kepada Valerie. "Hadiah!" ujarnya sembari meletakkan di telapak tangan istrinya.


"Hadiah apa?"


"Buka saja"


Valerie yang penasaran segara membuka kotak tadi, dia menemukan barang berbentuk panjang. Secara umum, dia mengetahui kegunaan barang itu Namun terheran. Untuk apa dia diberikan barang yang tidak bisa digunakan sekarang? itu menjadi tanda tanya dikepala imutnya. Kepalanya mendongak melihat Darren, dia mengerutkan seluruh wajahnya, pertanda dia benar-benar tidak paham maksud dan tujuan Darren.


"Tespek?"


Dikeluarkan benda itu, dia mengantungkan di udara membolak-balik. "Untuk apa?"


"Buat kamu."


"Hah? memangnya aku hamil? kan kam--" Dia tidak melanjutkan perkataannya. Saat itu, Darren sudah mengangkatnya dengan pelan dan dia dibawah ke atas kasur. Dia tidak mengerti situasi dan kondisi suaminya saat ini. Valerie memegang keting Darren memastikan bahwa suaminya tidak sakit dan dia mengangguk saat yakin kening itu tidak panas juga tidak dingin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2