
"Aaahkk Darren, malu!" teriakan Valerei menggema di lorong hotel. Darren menggendong istrinya ala bridal style membuat Valerei memukul pelan dada suaminya. Dia kaget, dengan banyaknya mata memandang.
Are dengan sigap membuka pintu besar ruangan pertemuannya dengan klien yang dia maksud.
Suara bunyi pintu yang terbuka membuat kedua orang di dalam menengok. Seorang pria dengan kisaran umur 60 tahun tidak membuat ekspresi yang begitu besar, jika dibandingkan dengan Darren, bisalah cari satu-dua. Berbeda lagi dengan wanita di sampingnya yang umurnya tidak jauh berbeda dengan pria itu malah tertawa, bahagia?
"Maaf, istriku lelah" Darren menurunkan Valerei di sofa dekat dengan wanita itu. Valerei memerah malu, walau mereka suami istri.
"Tidak apa-apa, Ayahmu juga sering menggendongku seperti itu." dia tertawa bahagia mengingat masa lalu. Wanita disebelahnya langsung berbalik melihatnya bergantian dengan pria yang duduk di sofa tunggal. Wajahnya sekarang sudah bercampur antara malu dan kaget.
Pria yang tadi menatap wajah Valerei. "Oh kau tidak bilang?" Darren mengangguk
"Hai nak," wanita itu tersenyum kepadanya dan memeluk dia erat.
Valerei menjawab salam untuk mertuanya? dan membalas pelukannya tidak kala erat. Pria itu tersenyum sangat tipis menyatukan telapak tangannya memberi salam kepada Valerei. Valerei tahu ayah kandung Darren telah tiada, lalu siapa gerangan mereka?
"Mereka berdua adalah orang tua angkatku, sekaligus paman dan bibiku." terjawab sudah.
"Kami akan tinggal di sini untuk sementara waktu." dia memegang tangan Valerei. "Aku berharap dapat meluangkan banyak waktu bersamamu."
"Tentu saja. Ibu dan Ayah akan tinggal di mansion Darren kan?" tanya Valerei. Berharap mereka tinggal di mansion, jadi dia punya teman untuk menjahili Darren. Niat yang sangat tidak baik.
Ibu mertuanya yang bernama Deora tersenyum, senyum yang sangat memikat. Pantas saja ayah menyukainya, batin Valerei. "Tidak sayang, ayahmu punya rumah di sini."
"Oh benarkah? kalau begitu aku akan mengunjungimu sesering mungkin." dia sedih, rencana gagal. Dia tahu niat yang buruk akan membawa hasil yang serupa.
"Kau bisa tinggal bersamaku!" kata mertuanya.
Valerei bergembira. "Apa boleh? tapi itu tergantung Darren, jika dia mengizinkan."
"Kau sangat manis, apa Darren sering menindas mu?" dia bertanya
"Hmm, terkadang." ucap Valerei dengan santai, suaminya menaikkan satu alisnya. Melihat ibu mertuanya, memikirkan bagaimana perlakuan Darren selama ini. "Tapi, Darren selalu baik bu, sebenarnya aku yang menyebalkan, selalu mengganggunya, dia bahkan tidak marah." Mau tidak mau, Darren merasa tersanjung. Ibu mertuanya merasa Valerei wanita yang cocok untuk anaknya, Deora melihat suaminya, dibalas anggukan samar bahwa dia setuju.
"Ibumu juga seperti itu, wajar saja. Suamimu selalu sibuk dia jarang ada waktu untukmu. Ayah mengerti." Jadi inilah yang namanya saling pengertian antar suami dan istri. Mereka lanjut berbincang-bincang.
...🖤...
__ADS_1
Are sudah menaruh ayam goreng pesanan Nyonya bos. Dia keluar dan menunggu di sofa dekat lift. Lift itu terbuka menampakkan wajah bos dan istrinya, lantas dia berdiri memberi hormat. "Are, ayam ku?" matanya melebar lucu.
"Saya letakkan di Kamar anda dan tuan."
"Yeeeeee!" Valerei berjalan sambil menepuk-nepuk tangan dengan gembira, dia dan mertuanya baru saja selesai makan, tapi perutnya masih merindukan ayam goreng dua rasa. Merasa melupakan sesuatu dia kembali. "Pesanan kalian?"
Are menunjuk dua kotak makanan miliknya dan milik Pak Shin.
Dia mengacungkan jempolnya. "Jangan makan di bawah ya! makan di kamar saja. kunci kamarmu?" Tanya Valerie lagi.
Are sigap merogoh kantong untuk mengambil kunci kamar miliknya dan Pak Shin. "Ini Nyonya"
"Oke, selamat istirahat." dia pergi.
Are membungkuk sedikit dan kembali melihat Darren. "Tuan, Han telah kembali, apa mereka akan diistirahatkan? atau tetap mengawal Nyonya?"
"Dia baru kembali, biarkan istirahat. Keputusan untuk mengawal Valerei kita bicarakan nanti." Are mengerti lalu dia pergi. Darren berjalan ke kamarnya.
...🖤...
Sementara di kamar, Valerei bersandar di kepala tempat tidur sambil mengelus perutnya yang kekenyangan setelah menikmati ayam goreng dua rasa, sekarang dia sudah mengantuk. "Kau masih ada kerjaan?" tanya Valerei saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Tidak, kenapa?"
"Tidak, kenapa?" Darren mengutarakan pertanyaan yang sama.
"Tidak apa-apa." Darren belajar banyak, jika istrinya bilang tidak apa-apa pasti kebalikannya. Dia diam menunggu Valerei pasti bicara lagi.
"Itu... wanita yang digosipkan denganmu, apa kau mengenalnya?"
Darren langsung menjawab "Tidak"
"Lalu?"
"Kau percaya padaku?" tanya Darren
"Percaya kau tidak selingkuh?" Valerei berpikir sebentar. "Aku tidak punya bukti menuduhmu, tapi bukan berarti kau tidak melakukannya."
__ADS_1
"Artinya kau tidak percaya!" Darren mulai mengenal Valerei dengan baik, kadang Valerei menjadi sangat ekstrim jika sudah berdebat.
Valerei diam melihat tangan Darren, dia tidak menatap suaminya saat bicara. "Di dalam persidangan, hakim percaya pada bukti yang konkret."
"Tapi kita tidak bicara soal hukum di dalam persidangan, kita bicara soal perasaanmu." Darren memperbaiki posisi duduknya, menautkan kedua telapak tangannya.
"Perasaanku? kalau kau begitu khawatir, kenapa kau tidak jujur padaku?"
"Kau bicara soal apa?"
"Aku tidak perlu masa lalu mu Darren." dia menatap tepat di mata suaminya. Darren mengerutkan dahinya. Istrinya ini belajar dari mana membalas seperti ini.
"Kau tahu, aku juga tidak perlu itu! kau bicara soal apa? kalau soal masa lalu kau sudah menjawabnya sendiri. Apa yang ingin kau tanyakan? aku ada di sini." Tegas Darren,
"Kau terus menghindar, bagaimana bisa jadi tidak besar?" saat istrinya akan bicara, dia melanjutkan kalimatnya. "Dan berhenti bicara nanti, sampai kapan kita harus bicara soal ini dan selalu tidak selesai? aku tidak mempertanyakan sikapmu yang berubah, aku mengerti hormonmu membuat emosimu menjadi tidak stabil. Tapi jika begini, kau yang akan tersiksa sendiri. Kau ingin aku menjadi suami yang tidak bisa menjaga istri?" Valerei dapat melihat perbedaan suasana sejak tadi sampai saat ini bicara dengan Darren.
"Kau marah?" Valerei tersadar, harusnya dia tidak bertanya. Mulutnya juga tidak bisa diam, dia jelas tidak bisa menanggung jika Darren marah.
"Ya!" Satu kata ini membuat Valerei merinding dari ujung kaki sampai kepala. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Darren melihat istrinya, dia menggosok wajahnya kasar. "Sudahlah, kau butuh istirahat." dia membantu Valerei berbaring. Valerei menahan tangannya. "Maaf" Darren hanya berdehem untuk membalasnya. Dia masih memegang tangan Darren.
"Kau tidak istirahat? Sini." dia menepuk kasur disampingnya tapi Darren menolak. "Aku ada kerjaan." dia melepas tangan Valerei.
"Kau bilang tidak ada kerjaan" dia berbicara saat Darren berada ditengah ruangan untuk keluar.
"Istirahatlah" lalu dia benar-benar keluar dari kamar.
Darren bahkan tidak menjawab pertanyaan Valerei. Hal itu membuatnya terpaku, tidak lama sebutir air matanya berjatuhan, satu demi satu menjadi tangisan pilu. Dia menyembunyikan kepalanya di antara kakinya yang dia tekuk, dalam hati di memaki dirinya sendiri.
Darren berjalan keluar, masuk ke lift dan menekan tombol 16. Beberapa wanita melihatnya dengan kagum, bahkan ada yang dengan sengaja mendekatkan diri kepada Darren. Wanita berambut hitam itu berpura-pura terjatuh ingin memegang tangan Darren, refleks dia menghindar, alhasil wanita itu mencium dinginnya lantai lift. Darren bahkan tidak menatapnya, juga tidak menghiraukannya saat lift sudah berada di lantai 16, dia keluar.
Dia menekan bel kamar, beberapa detik kemudian seorang pria datang membuka pintu. "Tuan?" Darren masuk, duduk di sofa menyenderkan kepala dan menutup mata. Are lantas pergi, dia tidak ingin mengganggu bosnya, dilihat dari wajahnya, Are sudah tahu dia sedang marah.
.
.
__ADS_1
.