The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 113 : Masuk ke Korea


__ADS_3

Wanita berpakaian terang baru saja turun dari kapal. Dia telah menyeberang, berada di daratan Korea. Untuk orang yang diam-diam masuk ke sana, pakaiannya terlalu mencolok tetapi hal itu tidak memudarkan senyum yang mengembang mengetahui bahwa rencana kali ini akan berhasil.


Tidak Sabar, dia bergegas mencari seorang yang bernama Yin. Yin merupakan anak dari orang yang membawanya masuk ke Korea lewat China. Menjadi penumpang gelap merupakan pengalaman pertamanya. Ternyata, tidak begitu sulit, dalam hati dia bicara.


Mengingat ciri-ciri Yin, dia mencarinya disekitar pelabuhan. Matanya sibuk bolak-balik.


“Kelinci!?"


Seseorang dari belakangnya menepuk pelan bahunya sembari menyebutkan kata 'kelinci'


Berbalik. “Ya?” jawab dia bingung.


“Ikut!”


Rambut keriting, badan besar dan ada tato di sekitar pergelangan tangannya. Dia tidak salah lihat, orang ini adalah Yin. Lim Sujong mengikutinya.


Sepanjang jalan dia melihat banyak bar dan perempuan-perempuan yang berdiri di depan penginapan. Sekali lihat dia tahu tempat apa ini.


“Hai kak Yin!”


“Perempuan baru lagi nih?”


“Hai seksi.” sembari mengedipkan sebelah matanya.


Begitulah sapaan orang-orang di sana. Bahkan ada yang menatapnya tajam, dia mengendus tidak suka.


Melihat itu tubuhnya otomatis bergeser menjauh. Sujong ingin mencolok mata pria yang baru saja menyapanya, merasa jijik melihat mereka.


Aku bukan saingan, pelacur! Sebentar lagi, gelarku akan berganti. Nyonya Darren.


Dalam hati Sujong menghina orang dan memuji dirinya.


Yin belok di sebuah bangunan tua. Di lorong remang itu terdapat banyak pintu dengan nomor yang tergantung. Pria yang membawanya berhenti di pintu kusam bertuliskan 02.


“Kamar 02, itu kamarmu!” katanya, setelah itu dia pergi tapi Sujong menahan lengannya.

__ADS_1


Yin melepaskan tangan, dia merasa tidak nyaman berada di dekat wanita itu. Entah ayahnya karasukan apa sampai memintanya mengurus wanita ini di Korea.


“Aku sudah membayar ayahmu untuk menyiapkan hotel  bintang 5. Apa-apan ini! Dasar penipu, kau tahu! Kalian bisa dipenjara.”


Wajahnya memerah marah, dia menghabiskan banyak uang dan ini yang dia dapatkan. Tempat kumuh.


Pria itu tidak menunjukkan ekspresi. “Kau disini untuk apa?” tanya Yin.


Dia tahu bahwa wanita ini masuk sebagai penumpang gelap, artinya ada kemungkinan bahwa dia tidak bisa masuk ke Korea secara resmi. Penjahat, dia hanya tahu bahwa wanita ini bukanlah orang baik. Dan apa katanya? Tempat kumuh? Dia bercanda.


“Kau membayar ayahku bukan aku. Sebaiknya kau bersikap baik atau kau bisa berakhir dikantor polisi!”


Dia balik mengancam.


Yin pergi, tidak suka melihat kesombongan wanita itu.


“Sialan!” Lim Sujong menendang pintu kamar 02.


Dia menghembuskan nafas berat, menguatkan dirinya. “Oke, hanya beberapa hari sebelum kita menjadi Nyonya Lee.” Wanita itu masuk ke dalam kamar. Pertama-tama dia membereskan semua pakaiannya, dia mengirim pesan pada ayah Yin untuk menyiapkan sesuai dengan apa yang dia janjikan.


.


Yin di kamarnya menelepon sang ayah. Dia akan mengumpat pada orang tua di seberang sana karena merasa dirinyalah yang tertipu.


“Kau tida salah? Kelinci? Kau sudah buta!” ucapnya sinis.


“Hai nak, dengarkan saja dia. Jika dia berhasil, aku akan menjadi kaya.”


“Kau gila sama seperti saudaramu yang lain. Kalau ada apa-apa jangan melibatkanku! Aku tidak ingin kembali ke sana."


Ayahnya tertawa di sana. Tidak suka, Yin tidak suka mendengar tawa itu.


"Dengar baik-baik. Aku, hanya membantu menyiapkan tempat tinggal. Tidak perduli apa yang akan dia lakukan! Urus masalahmu.”


Dia menutup teleponnya merasa kesal. Kehidupannya di Korea sudah lebih baik sampai hari ini. Jika ayahnya mengacaukan semuanya karena ingin membantu orang lain. Yin tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


...🖤...


Beberapa hari menunggu kabar yang tak kunjung tiba. Lim Inha masih setia menunggu dan tidak pernah keluar dari kamarnya setelah kakaknya pergi ke Korea. Takut kebohongannya akan terbongkar dia berusaha agar tidak ada satupun gerakan yang mungkin mencurigakan.


Setelah berbicara dengan Lim Sujong tentang rencananya. Inha mendatangi kakak iparnya, menyampaikan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas swasta di china. Tentu saja itu sebuah kebohongan, dia tidak mungkin bersekolah jauh dari rumah sedangkan tubuhnya tidak memungkinkan.


Tetapi kakak iparnya adalah pria yang akan mengikuti kemauannya jika itu yang di sukai Inha. Dengan banyak pertimbangan akhirnya, dia setuju. Inha yang mendapat lampu hijau meminta persetujuan kepada sang kakak ipar agar Lim Sujong ikut dengannya melihat-lihat kampus selama 1 bulan.


Jika dia berkenan, setelah dirasa terbiasa hidup di sana, kakaknya akan pulang. Sujong yang mengusulkan inha meminta waktu 1 bulan agar rencananya terselesaikan dengan baik itu tersenyum gembira karena inha berhasil mengelabui sang suami. Luar biasa tidak tahu diri, pikiran Inha melayang.


Kebaikan ini mungkin tidak akan bertahan lama. Ada saatnya menjadi rapuh dan lelah. Jika sudah seperti itu kemana dia akan pulang?


Sepersekian detik, Inha memikirkan hal tersebut.


Sepanjang hari Inha takut, berdiam diri dalam kamar pengap membuatnya semakin gugup. Dia melihat keluar jendela, banyak orang lalu lalang melakukan aktivitas. Iri akan kebebasan dia hanya bisa menghela nafas panjang. Kakinya melangkah masuk ke area dapur, merutuki nasib yang berbeda. Perutnya lapar, belum mendapat asupan siang hari.


Untung saja, dia masih memiliki nasi dan lauk sederhana yang harus dipanaskan. Tidak pilih-pilih makanan, dia bersyukur bisa mengisi kekosongan perutnya. Hampir setengah jam, makanan dia habis. Inha tipe yang kalau mengunyah akan sangat lama. Dia menikmati setiap suapan yang masuk.


Dengan pelan, inha membersihkan sisa-sisa aktivitasnya barusan. Mulai dari melap meja dan mencuci peralatan masak dan makan. Tidak lupa dia bergegas mencuci pakaiannya yang sudah beberapa hari menumpuk.


Sebenarnya, dia bisa saja meminta pria yang bekerjasama dengan kakaknya itu untuk mengurus segala hal termaksud mencuci pakaian karena kakaknya sudah menbayar tapi inha merasa tidak nyaman, jika seorang pria masuk ke dalam penginapannya dengan mudah dan menbawa pakaiannya apalagi pakaian dalam. Aneh. Dia bisa mengurus semuanya sendiri.


Barulah setelah selesai dia membuka balkon untuk menjemur pakaian. Diambil tongkat kayu sehabis dia mengaitkan pakaian di hanger lalu menaikkannya ke atas tali yang ada. Cukup lelah Inha, bulir kerigat membasahi kulit putihnya. Dia sudah selesai, waktunya masuk kembali ke dalam kamar. Namun, suara seorang pria membuatnya berbalik ke samping melihat balkon lain.


Disana, seorang pemuda yang Inha perkirakan berumur 25 tahun mengedipkan matanya genit. Inha bergedik tidak nyaman. Dia abaikan dan kembali masuk ke dalam kamar, tidak lupa mrngunci pintu balkon.


Diluar pria tadi mendapat teguran oleh teman sekamarnya. “Jangan seperti itu, dia tamu yang di bawa kakak rambut putih.”


Kakak rambut putih yang mereka maksud adalah ayah dari Yin. Dia adalah pemain yang sudah berpegalaman dalam bidang ini. Semua orang tahu siapa dia dan pria itu merupakan orang yang dihormati di sana.


Mendengar nama itu, pria tadi mengergit. Dia langsung masuk kembali ke kamarnya tanpa membantah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2