
Darren tidak melepaskan kesempatan. Dia maju dan menjatuhkannya ke lantai, dengan santai dia jongkok di sampingnya dan mencekik leher pria itu. Bukannya merasa sakit, pria itu memancarkan senyum. "Ka-u ti-dak lupa Istri-mu?" Ucapnya terbata-bata karena cekikan dilehernya.
Mendengar itu Darren memundurkan cekikan nya tapi tidak melepaskan. Dia masih mencengkram leher orang dibawahnya.
"Darren!"
Suara Valerie!
...đź–¤...
Kembali ke ruangan yang di tempati Valerie
"Siapa Han?" Valerei bertanya.
Han bergeser dan memperlihatkan penjaga Villa itu sedang berdiri dihadapannya. "Tuan, ingin berbicara dengan anda!" Kata penjaga yang mengetuk pintu tadi.
"Di rumah bangunan belakang, mari!" Tidak ingin membuat Bosnya menunggu lama.
Valerei memberikan Yun kecil pada Nola untuk di gendong. Dia meminta kedua orang, Nola dan Sen untuk tinggal menjaga anak Ho Young sementara Han pergi bersamanya.
"Han sudah cukup, kamu disini saja bersama Sen! Jangan sampai Yun kita bangun, membuatnya tertidur sangat sulit." Dia menepuk kepala Nola yang duduk.
Yun, tipe anak yang sulit untuk dekat dengan orang lain, dia juga tipe yang keras kepala sama seperti ayahnya dan rewel saat ingin tidur. Meski begitu, Valerei berusaha agar dia merasa nyaman. Pengalaman selama 5 tahun mengasuh Leon bisa dia pakai saat ini.
Mereka bertiga meninggalkan rumah yang dia tempati dan pergi menemui Sang penculik. Valerei tidak pernah berjalan-jalan keluar rumah, jadi dia tidak begitu familiar dengan suasana yang ada. Matanya tidak berhenti melirik kanan-kiri, kagum pada bangunan-bangunan yang dia lewati.
Saat masuk samping, dia melihat rumah tradisional seperti yang dia tempati tetapi lebih kecil. "Kalian punya berapa bangunan di sini?"
"Cukup banyak. Jika anda suka, anda bisa tinggal di sini lebih lama." katanya.
Valerei bergidik ngeri, dia tidak ingin berlama-lama walau sangat menyukai tempat ini. "Tidak perlu, suami saya juga punya rumah sendiri, lebih nyaman." tawa canggung.
Penjaga itu ingin membuka pintu, Namun Valerei lebih dulu mendorongnya. Pemandangan di depan membuat ketiga orang itu kaget, Valerei melihat punggung yang tidak asing, mengingatkan dia pada sosok yang dirindukan.
"Darren!?" Panggilnya.
Yang dipanggil berbalik, juga sangat merindukan suara itu sejak beberapa hari. Darren melepas cengkraman tangan di leher sang penculik dan berdiri. Valerei ingin berlari menghampiri suaminya. Namun, dua pria bertubuh kekar menghalangi Valerei yang berlari menemui Darren.
__ADS_1
Ekspresi kecewa terpampang nyata di wajah wanita itu melihat suaminya melalui celah tubuh kedua pria yang sedang berdiri dihadapannya. Matanya sudah berair. Han yang takut bosnya pingsan berjaga di belakang.
"Apa yang kau lakukan psikopat!" emosi Darren.
Sang penculik tertawa, dia menunggu hingga bertahun-tahun lamanya, baru bisa merasakan perasaan lega.
Pria yang disebut Psikopat tadi melihat Valerei, Jari telunjuk kasar terangkat berada di depan bibirnya. Dia mengirim kode agar wanita itu tetap diam menunggu permainan akan dimulai.
Melihat penindas terang-terangan kepada istrinya tentu saja Darren tidak terima. Jika bukan karena keselamatan istrinya yang sedang dikurung dua pria di depan, dia pasti akan melompat menghajar pria dibelakangnya.
"Kita bukan teman, apa yang kau inginkan dengan bermain seperti ini!"
"Kau sama seperti Ho Young, sangat menyebalkan! Pria tua itu, seharusnya sudah pensiun, dia tidak punya hasrat untuk menyakiti orang lagi!"
"Lalu kau bangga punya hasrat seperti itu "
"Kau juga tahu, dunia di mana manusia lemah selalu menjadi target!"
"Bicara denganmu, orang yang tidak mendengarkan pendapat orang lain juga sia-sia! Apa maumu!?" dia sudah tahu sejak lama, bahwa saudara angkat Ho Young ini adalah psikopat. Darren hanya tahu sebatas cerita dan namanya, Bin.
Menjadi kuat tidak selalu dengan menyakiti orang, kalau begitu ceritanya tidak ada lagi orang baik di dunia ini.
Kedua pria itu melihat Valerei bersamaan. "Jangan mengobrol terus, ini kita sudah lapar! Kalau masih lama, kita mau makan dulu!"
Kepala Darren serasa ditarik ke belakang, dia merindukan sikap aneh istrinya.
"Benar-benar! wanita hamil sangat merepotkan!" Ucapan Bin pelan, hanya terdengar oleh Darren.
Ekspresi Darren tidak baik. Bagaimana dia bisa tahu? batin Darren.
Selalu di depan! Bin tersenyum, mendekatkan bibirnya di telinga Darren. "Istrimu tidak tahu ya?"
"Kalian bicara apa?" tanya Valerei berusaha melihat Darren. Dia mengusir kedua pria di depannya karena menghalangi pandangan matanya.
Bin berjalan ke arah Valerei tanpa memperdulikan Darren yang menatapnya tajam. Saat berada di depan Valerei, dia meminta kedua pria itu minggir.
"Kau menjalani pernikahan yang berat ya? menikah dengan suamimu bukan pilihan yang tepatkan?"
__ADS_1
"Kau ini bicara apa? Darren punya masalah apa denganmu?"
"Panggilanmu saja sudah beda, biasanya orang yang dekat dengan pria itu (menunjuk Darren) memanggilnya Hoon, para wanita itu maksudku."
Dia ingin melihat bagaimana wanita itu menolelir Darren. Karena merasa terganggu, Valerei menendang kaki Bin, tepat tulang keringnya. Ekspresi pria itu tidak berubah banyak, dia hanya mengelus betisnya yang terkena tendangan Valerei.
"Darimana kau belajar menendang seperti itu?" Bin memandang ke depan, dia merasa Valerei terlalu kuat untuk seorang wanita.
Tidak dihiraukan, Valerei melewatinya seperti angin, dia berjalan menghampiri Darren. Dua pria tadi ingin menghalangi tapi Bin menghentikan pria itu, membiarkannya berjalan ke arah suami tercintanya.
Sebelum dia benar-benar berhasil meraih suaminya, Bin berkata. "Kalau kau ingin melihat anak teman suamimu selamat, bukankah seharusnya kau mengikuti aturanku?"
Valerei diam, dia berhenti bergerak memandang Darren. "Aku lupa! Karena terlalu rindu, aku lupa janjiku!" dia berbicara sambil melihat Darren.
"Janji apa?" ujar suaminya.
Valerei mundur selangkah saat Darren maju mendekatinya. "Va!”
Beberapa hari ini, dia tidak mendengar Darren memanggilnya dengan nada itu, kenangan kembali membuatnya tersenyum.
"Kau harus memilih dengan baik, aku akan baik-baik saja." Valerei tidak mengeluarkan suara, suaminya pasti tahu apa yang dia ucapkan.
Darren belum mengerti situasinya, dia tidak tahu mengapa istrinya mundur menjauh dan melangkah kembali ke sisi Bin. Dia menggeleng pelan dan berjalan ingin menarik istrinya ke sisinya tetapi Bin menghalanginya.
Dia memandang Valerie, seolah-olah berbicara dengan wanitanya, mengapa dia menjauh saat dia mendekat. Kenapa dia mengambil keputusan sendiri tanpa berbicara dengannya dahulu. Janji apa yang dia lepaskan kepada Bin, pria psikopat itu. Bagaimana jika janji itu tidak bisa dia penuhi, apa konsekuensinya dan apakah ada tidak kesempatan untuk dia membawa kembali kehidupannya.
Darren terus memandang Valerie hingga membuat sang istri sedih. Matanya bergetar, bening air sudah tergenang disana. Jika dia memanggil nama istrinya lagi, wanita itu sudah pasti akan jatuh menangis.
“Darren!" panggil Valerie.
Darren berdehem menjawab panggilan untuknya.
“Lihat baik-baik, kau tahu kita baru memulai bukan? Karena itu, jangan memilihku!”
.
.
__ADS_1
.